Apa Yang Menyebabkan Orang Berhati Keras ?

Oleh : Agus Hasan Mustofa

0
42

Seseorang bila sudah berhati keras ia akan sulit menerima nasihat, kritik, dan teguran. Utamanya adalah nasihat kebaikan. Ia ketika diberi nasihat misalnya mendengar ceramah dari seorang muballigh, tidak ada niat untuk mengamalkan wejangan yang di sampaikan kepadanya. Akibatnya ia tetap berperilaku yang melanggar batas-batas agama. Ia hanya berpedoman pada apa yang diyakini dirinya walaupun itu keliru dalam pandangan agama.

Syaikh as-Sa’di rahimahullah dalam Tafsir al-Karim ar-Rahman menerangkan, bahwa ciri orang yang berhati keras itu adalah tidak lagi merespon larangan dan peringatan, tidak mau memahami apa maksud Allah dan rasul-Nya karena ia berhati keras. Sehingga tatkala setan melontarkan bisikan-bisikannya dengan serta-merta hal itu dijadikan oleh mereka sebagai argumen untuk mempertahankan kebatilan mereka, mereka pun menggunakannya sebagai senjata untuk berdebat dan membangkang kepada Allah dan rasul-Nya

Lebih lanjut Syaikh as-Sa’di rahimahullah menerangkan bahwa orang yang berhati keras itu tidak bisa memetik pelajaran dari nasihat-nasihat yang didengarnya, tidak bisa mengambil faidah dari ayat maupun peringatan-peringatan, tidak tertarik meskipun diberi motivasi dan dorongan, tidak merasa takut meskipun ditakut-takuti. Inilah salah satu bentuk hukuman terberat yang menimpa seorang hamba, yang mengakibatkan tidak ada petunjuk dan kebaikan yang disampaikan kepadanya kecuali justru memperburuk keadaannya. Dalam al-Qur’an surat az-Zumar disebutkan:

أَفَمَنْ شَرَحَ اللَّهُ صَدْرَهُ لِلإسْلامِ فَهُوَ عَلَى نُورٍ مِنْ رَبِّهِ فَوَيْلٌ لِلْقَاسِيَةِ قُلُوبُهُمْ مِنْ ذِكْرِ اللَّهِ أُولَئِكَ فِي ضَلالٍ مُبِينٍ – ٢٢

Maka Apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)? Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang telah membatu hatinya untuk mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.

Kemudian apa yang menyebabkan hati seseorang menjadi keras, dalam kitab syarah Nashaih al-‘Ibad bab empat maqalah ke-18 Yahya bin Mu’adz ar-Raziy rahimahullah: menerangkan sebagai berikut:

مَنْ كَثُرَ شِبَعُهُ كَثُرَ لَحْمُهُ وَمَنْ كَثُرَ لَحْمُهُ كَثُرَ شَهْوَتُهُ وَمَنْ كَثُرَتْ شَهْوَتُهُ كَثُرَتْ ذُنُوْبُهُ وَمَنْ كَثُرَتْ ذُنُوْبُهُ قَسَا قَلْبُهُ وَمَنْ قَسَا قَلْبُهُ غَرِقَ فِي اَفَاتِ الدُّنْيَا وَزِيْنَتَهَا

“Barang siapa yang banyak kenyangnya (makan) maka banyak dagingnya, dan barang siapa yang banyak dagingnya besar syahwatnya, dan barang siapa yang besar syahwatnya maka banyak dosanya, dan barang siapa yang banyak dosanya maka keras hatinya, dan barang siapa yang keras hatinya maka tenggelam dalam bahaya dunia dan keindahannya”.

Sebab seseorang hatinya keras yaitu berawal dari banyaknya makan. Kemudian orang yang banyak makan akan selalu kenyang maka brakibat menjadi besar syahwatnya karena yang dapat memendam syahwat adalah rasa lapar. Ketika sudah besar syahwatnya maka akan mudah melakukan dosa dengan banyaknya dosa akan menutup jalan mengenal Allah. Ketika seseorang sudah banyak dosa maka akan menjadi keras hatinya ia tidak akan menerima nasihat. Orang yang sudah keras hatinya ia akan tenggelam dalam bahaya dunia dan keindahannya. Semoga kita terhindar dari penyakit keras hati sehingga kita mudah menerima nasihat untuk selalu lebih dari hari-hari sebelumnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.