Beda Antara Mani, Madzi dan Wadi

0
1120
Ilustrasi (duniaislam.org)

Beritalangitan.com – Cairan bening sedikit kental yang keluar dari saluran kencing ketika sesorang bangkit nafsu syahwatnya atau saat terangsang itu disebut dengan madzi. Proses keluarnya madzi kadang tidak terasa. Hal ini bisa dialami laki-laki maupun perempuan, hanya saja jumlah cairan pada kaum perempuan lebih banyak.

Ulama sepakat madzi adalah najis. Apabila mengenai badan, maka haris dibersihkan. Namun bila mengenai pakaian, cukup hanya dengan menyiramkan air pada bagian yang terkena. Untuk bersuci, tidak perlu mandi besar. Cukup berwudhu.

Hal ini berdasarkan hadits Rasulullah Saw yang diriwayatkan Imam Bukhari. Dari Ali bin Abi Thalib ra, dia menceritakan, “Aku ini seorang laki-laki yang sering mengeluarkan madzi. Lalu aku suruh seseorang untuk menanyakan hal itu kepada Nabi, karena aku malu, sebab putrinya adalah istriku. Maka orang yang disuruh itupun bertanya dan beliau menjawab, “berwudhulah dan cuci kemaluanmu!.”

Madzi berbeda dengan mani. Proses keluarnya mani selalu dirasakan nikmat. Baik bagi seorang laki-laki yang berhubungan badan dengan istrinya, maupun seorang laki-laki yang sedang mimpi basah. Orang yang habis mengeluarkan mani, wajib mensucikan dirinya dengan mandi jinabat. Sementara pakaian yang terkena mani, bila basah disunahkan untuk dicuci sementara bila kering cukup dengan menggaruknya.

Aisyah ra pernah mengatakan, “Aku selalu menggaruk mani dari pakaian Rasulullah apabila dalam keadaan kering dan mencucinya apabila dalam keadaan basah.” (HR Imam Ad-Daraquthni, Abu Awanah dan Al-Bazaar).

Selain mani dan madzi, ada jenis cairan lagi yang keluar dati saluran kencing, yakni wadi. Wadi adalah cairan kental yang biasanya keluar setelah seseorang selesai dari buang air kecil. Wadi dihukumi najis dan harus disucikan seperti halnya kencing, akan tetapi tidak wajib untuk mandi.

Aisyah ra mengatakan, “Wadi itu keluar setelah proses kencing selesai. Untuk itu hendaklah seorang Muslim (Muslimah) mencuci kemaluannya (setelah keluarnya wadi) dan berwudhu serta tidak diharuskan untuk mandi. (HR Ibnu Mundir).  Wallahu a’lam bissawab. (aw)

Sumber : Suara-Islam.Com / KH A Cholil Ridwan, Lc

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.