Cukuplah Kematian Sebagai Pemberi Nasihat (1)

0
1691
Ilustrasi

Oleh : Ayatul Husna

Beritalangitan.com – Kematian adalah suatu kepastian yang akan dihadapi oleh setiap insan, tak ada satupun manusia yang luput dari perkara ini, tanpa pandang bulu atau status, tanpa bisa dibendung dengan benteng setebal apapun apabila ia telah datang saatnya.

Allah swt berfirman :

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati….. ( Qs. Al –Imran : 185 )

Maka selayaknya dalam menghadapi kepastian ini, kita harus selalu waspada dan mengingat akan kematian itu.

Abu Hurairah r.a meriwayatkan, Rasulullah saw bersabda :

“Perbanyaklah mengingat si Pemutus Kenikmatan.” maksudnya adalah kematian. (HR. Ahmad, Tirmidzi, Ibnu Majah, Nasa’i, Ibnu Hibban, dan Hakim)

Abdullah ibn Umar r.a bercerita:

Aku menemui Nabi saw bersama sembilan orang sahabat. Salah seorang sahabat dari Anshar bertanya, “Siapakah orang yang paling cerdas dan paling mulia, wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Yang paling banyak mengingat kematian dan paling keras dalam mempersiapkan diri menghadapinya. Merekalah orang yang paling cerdas. Mereka memboyong kemuliaan dunia sekaligus keagungan akhirat.”  (HR. Ibnu Majah no. 4259)

Hukum kematian manusia masih terus terjadi,

Karena dunia juga bukan tempat yang kekal abadi.

Adakalanya seorang manusia menjadi penyampai berita

Dan esok hari tiba-tiba sudah menjadi bagian dari suatu berita

Kehidupan adalah tidur panjang, dan kematian adalah kehidupan

Maka manusia diantara keduanya, dalam alam impian dan khayalan

Maka selesaikan segala tugas dengan segera, niscaya umur-umurmu,

Akan berlipat menjadi lembaran-lembaran sejarah yang akan ditanyakan.

(Diambil secara bebas dari buku Laa Tahzan karya DR. ‘Aidh al-Qarni).

Mengingat kematian akan meningkatkan kesadaran dan jati diri manusia dalam kehidupan dunia. Mengingat kematian juga akan memberikan dampak positif dalam kehidupan dunia, berupa lembutnya hati, peka dan cepat merespon sehingga terpacu untuk melakukan amal saleh dan meninggalkan kemaksiatan. Semua orang sepakat bahwa kematian tidak dibatasi oleh usia tertentu, atau waktu tertentu, ataupun penyakit tertentu. Hikmahnya, agar semua orang senantiasa mewaspadainya dan mempersiapkan diri untuk menghadapinya.

Ad-Daqqaq mengatakan, “Siapa yang banyak mengingat kematian, niscaya dia dimuliakan dengan tiga hal: penyegeraan tobat, kepuasan hati, dan ketekunan beribadah. Siapa melupakan kematian, niscaya dia dihukum dengan tiga hal: penundaan tobat, ketidakpuasan terhadap rizki yang cukup, dan kemalasan beribadah.”

Maka, wahai orang yang tertipu, pikirkanlah kematian beserta sekarat, kesulitan, dan rasa pahitnya. Aduhai, betapa tepatnya janji kematian dan betapa adil keputusannya. Cukuplah kematian sebagai penyebab hati terluka, mata menangis, kelompok terpecah belah, kenikmatan lenyap tak bersisa, dan cita-cita kandas di tengah jalan.

Wahai anak Adam, sudahkah kamu memikirkan hari kejatuhanmu, hari perpindahan dari tempatmu sekarang?

Ketika itu, kamu berpindah dari kelapangan dunia menuju kesempitan kubur, lantas sahabat dan kawan karibmu mengkhianatimu, saudara dan teman meninggalkanmu, dulu kamu berselimutkan kain halus, kini kamu ditimbun tanah dan lempung.

Wahai pengumpul harta dan pekerja keras dalam mendirikan bangunan-bangunan mewah, demi Allah, harta yang kamu peroleh hanyalah kain kafan. Bahkan, demi Allah, dunia ini hanya untuk ditinggalkan, sementara jasadmu hanya untuk dikembalikan ke tanah. Manakah semua harta yang telah kamu kumpulkan?

Apakah itu semua bisa menyelamatkanmu dari kengerian itu? Sama sekali tidak! Kamu meninggalkan hartamu untuk orang yang tidak memujimu sekaligus membawa dosa-dosamu kepada yang tidak memaafkanmu.

Imam al-Ghazali-semoga Allah merahmatinya, menguraikan : Ketahuilah bahwa kematian itu sangat menakutkan dan bahayanya sangat besar. Seseorang tidak mungkin bisa mengingatnya ketika hatinya dipenuhi oleh keinginan duniawi. Dalam kondisi itu, hilanglah semua ingatan tentang kematian dari benaknya.

Cara seorang hamba untuk mengingat kematian adalah dengan mengosongkan relung hatinya dari segala sesuatu selain kematian itu sendiri. Laksana orang hendak melakukan perjalanan jauh ke sebuah padang gurun yang gersang lagi panas, atau menaiki kapal laut ditengah samudera nan luas. Ketika itu, yang di pikirkannya cuma situasi dan kondisi kritis yg tengah dihadapinya saja, lain tidak. Maka ketika ingatan tentang kematian muncul dalam benaknya hampir-hampir dirinya tersentuh. Pada saat itulah, rasa senang serta gembiranya terhadap dunia berangsur menyusut dan hatinya pun serasa remuk.

Ingatlah kembali teman atau kerabat kita yang telah lebih dahulu pergi ke alam baka. bagaimana mereka mati dan masuk ke dalam tanah seraya mengingat bagaimana rupa, jabatan, dan kondisi mereka semasa hidup. Lalu merenungkan bagaimana kini tanah menghapus keelokan rupa mereka, bagaimana sekarang tulang belulang mereka berserakan di dalam kuburan, setiap kali seseorang mengingatnya pastilah terbersit dalam benaknya tentang keadaannya semasa hidup, bagaimana kematiannya, perhatiannya terhadap kehidupan dunia dan akhirat, kelupaannya terhadap kematian, angan-angannya tentang kemewahan hidup, ketertipuannya oleh kekuatan dan kemudaan usia, kegemarannya untuk tertawa dan bersenda gurau, serta kelalaiannya terhadap kematian. Ternyata, kematian yang menakutkan tiba-tiba muncul di hadapan mereka dengan begitu cepatnya.

Terbayang bagaimana dahulu dia berbicara, kini cacing-cacing menggerogoti lidahnya. Bagaimana dahulu dia tertawa, sekarang tanah melumat gigi-geliginya. Bagaimana dahulu dia mengumpulkan harta untuk persiapan sepuluh tahun kedepan, padahal jarak antara tabungan dan kematiannya hanya sebulan saja.

Dia sedang lalai ketika kematian menyergapnya, di waktu yang sama sekali tidak diperkirakannya. Lantas tersingkaplah baginya bagaimana rupa malaikat, terdengarlah olehnya suara panggilan, entah itu ke surga ataukah ke neraka. Ketika itu, barulah dia menyadari bahwa dirinya persis seperti orang-orang yang sudah lebih dahulu mati. Kelalaiannya persis seperti kelalaian mereka, dan hasil yang akan diperolehnya pun sama seperti yang mereka peroleh. Demikianlah uraian Imam Al-Ghazali. ( Bersambung )

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.