Cukuplah Kematian Sebagai Pemberi Nasihat (2)

0
1205
Ilustrasi

Oleh : Ayatul Husna

Beritalangitan.com – Siapa yang menginginkan sahabat karib, maka Allah sudah cukup baginya.

Siapa yang menginginkan pembela, maka Al-Qur’an sudah cukup baginya.

Siapa yang menginginkan kekayaan, maka rasa qana’ah terhadap apa pun yang ada sudah cukup baginya.

Siapa yang menginginkan penasihat, maka kematian sudah cukup baginya. Namun, siapa yang tidak cukup dengan semua ini, maka neraka pasti cukup baginya.

Rasulullah saw bersabda, “Sebagian syair adalah hikmah.”  (HR. Bukhari no. 6145)

Kita tidak diciptakan dengan sia-sia. Kita juga tidak akan dibiarkan begitu saja. Ada sebuah tempat kembali, dimana Allah Swt akan menghimpun kita untuk menghakimi dan memutuskan perkara di antara kita. Maka sengsaralah pada saat itu seorang hamba yang dikeluarkan oleh Allah dari rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu dan dari surga-Nya yang seluas langit dan bumi. Pada saat itu, yang aman hanyalah orang yang takut dan bertakwa.

Tidakkah kalian merasa bahwa diri kalian akan mati, dan orang-orang yang masih hidup akan menggantikan kalian?

Tidakkah kalian merasa bahwa setiap hari kalian melangkahkan kaki untuk pulang menuju Allah, dan tiba-tiba angan-angan terputus di tengah jalan?

Lantas kalian dibaringkan di dalam tanah yang tidak berbantal dan tidak beralas. Serta-merta terhentilah segala usaha, terpisahlah segala kekasih, dan perhitungan amal pun menghadang?

(Dikutip dari pidato perpisahan Umar ibn Abdul Aziz r.a)

Kematian Benar-benar Memiliki Saat-saat Sekarat

Allah swt berfirman, “Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya.”  (QS. Qaf:19)

Allah swt juga berfirman, “Alangkah dahsyatnya sekiranya kamu melihat di waktu orang-orang yang zalim berada dalam tekanan sakaratul maut, sedang para malaikat memukul dengan tangannya, (sambil berkata ) ‘Keluarkanlah nyawamu, di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar dan (karena) kamu selalu menyombongkan diri terhadap ayat-ayat-Nya.” (QS. Al-An’am:93)

Firman-Nya,“Berada dalam tekanan sakaratul maut”  berarti saat-saat sekarat, kepedihan dan kesakitan menjelang kematian. Dan firman-Nya, “Sedang para malaikat memukul dengan tangannya”  maksudnya untuk memukul dan menyiksa mereka agar nyawa-nyawa mereka keluar dari jasad-jasad mereka. Sebab, ketika orang kafir menjelang kematiannya, para malaikat mengancam mereka dengan azab, hukuman, belenggu, rantai, api neraka, dan air mendidih serta kemurkaan ar-Rahman, sehingg ruhnya kocar-kacir di dalam jasadnya dan menolak untuk keluar dari sana. Maka para malaikat memukulnya sampai ia keluar dari jasad sambil berkata kepadanya, “Keluarkanlah nyawamu, di hari ini kamu dibalas dengan siksa yang sangat menghinakan karena kamu selalu mengatakan terhadap Allah (perkataan) yang tidak benar .”

Umar r.a bertanya kepada Ka’ab al-Ahbar, “Hai Ka’ab, ceritakanlah kepadaku bagaimana rasanya kematian.”

“Baik, wahai Amirul Mukminin,” sahut Ka’ab.

Dia bercerita, “Kematian itu seperti sebilah batang kayu penuh duri yang dimasukkan ke lubang tubuh seseorang, lalu setiap durinya menusuk satu urat saraf. Kemudian batang kayu itu ditarik keluar dari tubuh orang itu dengan sekuat-kuatnya, sehingga membawa serta apa saja yang ikut terbawa olehnya dan menyisakan apa saja yang tersisa!”

Wahai anak Adam, seandainya kamu melihat betapa dekat ajalmu, niscaya kamu akan enggan berpanjang angan-angan. Kamu hanya akan berhasrat menambah amalmu dan kamu akan mengabaikan segala keinginan dan rencanamu.

Pikirkanlah tentang orang-orang yang telah berangkat menuju alam baka, dimana mereka singgah?

Ingatlah bahwa disana mereka diuji dan ditanyai. Ketahuilah bahwa kita juga akan berangkat sebagaimana mereka telah berangkat. Dan ketahuilah mereka berharap seandainya mereka dikembalikan lagi ke tempat kita sekarang berada agar mereka bisa beramal.

Wahai orang yang setiap tarikan nafasnya direkam, wahai orang yang setiap perbuatannya diawasi ! Apakah kamu rela membayar dengan usiamu yang sangat berharga untuk membeli kepuasan hawa nafsu yang semu?

Sementara kamu bermain-main, zaman begitu giatnya

Usia hilang begitu saja untuk yang tiada artinya

Berapa kali lagikah kau berkata, aku bertaubat esok

Esok dan esok, padahal kematian tak menunggu besok.

Betapa seringnya zaman memberikan nasihatnya. Lagipula, belumkah kamu mendengar firman Allah swt.,“Supaya dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya). (QS. Yasin:70)

Benarlah ungkapan, “Manusia sedang tidur. Ketika mati, barulah mereka bangun tidur”. (Ini ucapan Supyan ats-Tsauri, tercantum dalam buku Hulyah al-Auliya)

Wahai saudaraku, dunia ada di belakangmu dan akhirat ada di hadapanmu. Mencari-cari sesuatu yang ada dibelakangmu merupakan kekalahan. Kemenangan hanya dapat diraih dengan cara maju terus pantang mundur. Topan badai kematian telah datang. Maka naikilah kapal ketakwaan dan jangan temani kehinaan angan-angan.

Kamu harus bergegas seolah nyawamu dalam bahaya. Bayangkanlah kamu sekarang sudah berada di dalam liang lahat, di atas ranjang penyesalan yang lebih kasar daripada batu besar. Panenlah dimusim semi kehidupanmu sebelum tiba masa paceklik kematianmu. Simpanlah bahan makanan kemampuanmu sebelum tiba masa kelemahanmu dan masa kemiskinanmu di tanah tandus. Waspadailah firman Allah., “Supaya jangan ada orang yang mengatakan,’Amat besar penyesalanku atas kelalaianku dalam (menunaikan kewajiban) terhadap Allah. (QS. Az-Zumar:56)

Bergegaslah untuk Bertobat

Shafwan Ibn Assal Al-Murnadi meriwayatkan, Rasulullah saw., bersabda,“Allah membuat sebuah pintu di Barat untuk masuknya tobat, yang lebarnya sejauh perjalanan kaki selama tujuh puluh tahun. Pintu itu tidak ditutup selama matahari belum terbit dari sana. Itulah makna firman Allah,’Pada hari datangnya ayat dari Tuhanmu, tidaklah bermanfaat lagi iman seseorang kepada dirinya sendiri yang belum beriman sebelum itu’. (QS. Al-An’am:158) . (Imam Ahmad mencantumkan dalam Musnad-nya (IV, hlm.241). Juga Tirmidzi (hadis no.3536). Tirmidzi berkata, “Ini hadis hasan sahih.”)

Bersegeralah sebelum kita kehilangan peluang akibat jatuh sakit. Seolah-olah masih saja berangan-angan, padahal nyawa sedang dicabut, juga tenggelam dalam buaian cita-cita, padahal usia sudah berakhir. Wallahu alam. ( habis )

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.