Ini Tiga Musuh Manusia yang Sebenarnya

Oleh : Romli - (Santri Pondok Pesantren Darul Istiqomah, Batuan, Sumenep)

0
69

Permusuhan di antara manusia merupakan hal yang tidak terpuji. Apalagi bila yang dimusuhi itu masih sebangsa dan sekeyakinan. Ini sebab dari permusuhan akan lahir perpecahan dan perselisihan, sebagaimana yang dihadapi bangsa Indonesia beberapa waktu terakhir ini.

Namun, dalam kitab Mukasyafatul qulub karya Al-Ghazali ada tiga musuh manusia yang sesungguhnya sebagaimana pernyataannya dalah sebagai berikut.

Musuh-musuh manusia ada tiga: dunia, setan dan nafsunya sendiri. Maka bentengilah (dirinya) dari dunia dengan zuhud di dalam dunia, dari setan dengan menyalahinya, dari nafsu dengan meninggalkan syahawat.

Musuh manusia sesungguhnya yang tidak dapat ditoleransi adalah sebagai berikut.

Pertama, dunia. Gemerlap dunia sungguh sangat menyilaukan mata, sehingga banyak manusia yang tidak lagi dapat melihat saudaranya dengan jelas. Halal-haram, hak-batil tidak lagi diperhatikan demi harta. Padahal Allah sudah sering mengingatkan bahwa kesenangan dunia dunia itu bersifat sementara. “Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya” ( QS. Ali Iram: 185).

Untuk membentengi diri dari gemerlapnya dunia adalah dengan zuhd. Zuhd kebalikan dari hubbu al-dunya atau cinta dunia. Zuhud bukan berarti mengharamkan perkara halal dan bukan pula menyia-nyiakan hartanya. Zuhud adalah menggunakan harta sesuai kebutuhan, tidak pelit dan tidak berlebih-lebihan.

Dari Sahl bin Sa’id as-sa’iedi dia berkata, ada seorang laki-laki datang kepada Nabi lalu berkata” tunjukkanlah suatu amal yang jika aku mengamalkannya Allah lebih mencintaiku dan manusia lebih mencintaiku”. Nabi bersabda “ zuhd-lah di dunia Allah mencintaimu dan zuhd-lah di dunia dari tangan manusia maka mereka mencintaimu. (HR. Ibn Majah).

Kedua, setan. Adapun cara membentengi diri dari setan adalah dengan tidak mengikuti bisikan-bisikan setan. Karena semua bisikan setan adalah bisikan yang mengajak kepada suatu kejelekan.

Ketiga, nafsu. Nafsu merupakan ruang kendali manusia. Jika yang mengendalikan nafsu itu cahaya keilahian maka perbuatan manusia akan menjurus kepada perbuatan shalih. Inilah yang dikatakan nafsu al-muthmainnah. Namun jika yang mengendalikan setan maka semua amal manusia akan menjurus kepada keburukan. Inilah yang disebut dengan nafsu al-ammarah. Adapun cara membentengi diri dari nafsu ini maka dengan menunggalkan syahwat, keinginan yang bersifat keduniawian semata.

Sumber : bincangsyariah.om

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.