Ketahanan Keluarga

0
168

Oleh: Prof. Didin Hafidhuddin

Salah satu sikap utama yg harus dimiliki setiap muslim dalam merespon setiap peristiwa, kejadian, maupun musibah seperti wabah Covid-19 (Virus Corona ini) adalah sikap husnudzdzon yaitu selalu berbaik sangka kepada Allah SWT.

Bahwa ujung setiap musibah adalah kebaikan bagi orang yang beriman. Rahmat dan kasih sayang adalah lebih luas dan lebih besar dari pada adzab-Nya.
Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Araaf [7] ayat 156.

“Dan tetapkanlah untuk kami kebajikan di dunia ini dan di akhirat; sesungguhnya kami kembali (bertaubat) kepada Engkau. Allah berfirman: “Siksa-Ku akan Kutimpakan kepada siapa yang Aku kehendaki dan rahmat-Ku meliputi segala sesuatu. Maka akan Aku tetapkan rahmat-Ku untuk orang-orang yang bertakwa, yang menunaikan zakat dan orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami.” (QS. Al-A’raf [7]: 156).

Sebagaimana diketahui, bahwa salah satu hal yang selalu dianjurkan oleh pemerintah maupun BNPB (Badan Nasional Penanggulangan Bencana) hampir setiap hari di stasiun TV adalah narasi: diam di rumah, bekerja di rumah, belajar di rumah, bahkan ibadah di rumah. Ini dilakukan dalam rangka memotong penyebaran wabah Covid-19 ini. Penyebaran wabah ini terjadi melalui interaksi antara sesama manusia. Sekilas narasi terasa berat sekaligus juga menyakitkan. Dari kebiasaan setiap hari keluar rumah, sekarang DIPAKSA harus tinggal dirumah.

Jika kita berpikir positif dan husnuzdzon, ternyata narasi tadi mendorong kita untuk menguatkan kembali ketahanan keluarga. Keluarga sebagai institusi pendidikan yang pertama dan utama dengan orang tua sebagai guru sekaligus sebagai teladan kehidupan. Allah SWT berfirman dalam QS. At-Tahriim [66] ayat 6, QS. Luqman [31] ayat13.

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat- malaikat yang kasar, yang keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim [66]: 6).

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi
pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar.” (QS. Luqman [31]: 13).

Dari Abu Hurairah RA, ia berkata: Rasulullah SAW bersabda, “Setiap anak yang lahir, dia terlahir atas fithrah, maka tergantung kedua orang tuanya yang menjadikan dia orang Yahudi, Nashrani, atau Majusi, seperti binatang ternak yang dilahirkan dengan sempurna, apakah kamu melihat padanya telinga yang terpotong.” (HR.Al-Bukhari).

Kita mengetahui, bahwa sudah berlangsung lama terdapat gerakan-gerakan besar yang terstruktur dan menggunakan berbagai sumber daya dan dana serta kekuatan untuk meruntuhkan sekaligus menghancurkan ketahanan keluarga. Gerakan hidup bebas, LGBT, pasangan sejenis atas nama HAM dan berdasarkan ideologi sekuler, idelogi liberal, idelogi pluralisme, idelogi kapitalis dan juga ideologi komunis.

Hampir saja hal-hal tersebut diatas menjadi gaya hidup (life style) dari sebagian kaum muslimin. Dan jika terjadi akan menghancurkan masa depan bangsa dan negara, bahkan juga agama.

Hal-hal yang bisa lakukan secara bersama (orangtua dan anak-anak) dirumah, antara lain sebagaiberikut:

Pertama, melaksanakan shalat secara berjama’ah, dilanjutkan doa bersama (QS. Luqman [31] ayat 17).

Kedua, membiasakan membaca Al-Qur’an.

Ketiga, membiasakan penghormatan pada keluarga (QS. Luqman [31] ayat 14).

Keempat, membiasakan saling memberi nasihat musyawarah dan dialog dengan penuh penghormatan dan kerendahanhati.

Kelima, membiasakan hidup sehat teratur dan bersih serta membiasakan berpakaian rapih yang menutup aurat, apalagi bagi wanita memakai jilbab itu, disamping sebagai identitas muslimah juga untuk menghindarkan diri dari berbagai hal yang menyakitkan. Firman-Nya dalam QS. Al-Ahzab [33]: 59).

“Hai Nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri- isteri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka”. Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah Maha pengampun lagi Maha penyayang.” (QS. Al-Ahzab [33]:59).

*Disampaikan pada kajian rutin pesantren Ekonomi Syariah PNM, Rabu 21 Syaban 1441 H/15 April 2020 M

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.