Mengapa Allah saja yang Pantas dicintai ? [2]

0
958
Ilustrasi.
Ditulis ulang oleh Adi Purnama

Beritalangitan.com – Siapa yang mencintai Rasulullah, Abu bakar, dan sebagainya, maka ia tidak mencintai mereka kecuali atas kebaikan yang tampak dari mereka dan bukan karena gambar zhahirnya. Kebaikan amal perbuatan mereka itu menunjukan kebaikan sifat-sifat yang mereka miliki. Inilah sumber perbuatan, karena perbuatan adalah buah yang timbul dari sifat-sifat tersebut dan menjadi buktinya.

Pada gilirannya, hal tersebut akan menumbuhkan rasa cinta dalam hati kepada orang yang memiliki sifat tersebut. Ini merupakan sejenis kesempurnaan. Karena itu, kesempurnaan kepada seluruh makhluk haruslah kita nisbatkan pada kekuasaan Allah Swt. Mustahil jika seseorang mencintai salah seorang hamba Allah karena kemampuan, kebijaksanaan, dan kesempurnaan kekuatannya tanpa mencintai Allah karena tiada daya dan kekuatan kecuali hanya milik Allah yang maha Tinggi dan Agung. Adanya mereka, tidak lain karena kekuatan dan kebaikan-Nya.

Seluruh langit dan bumi berada dalam genggaman-Nya. Ubun-ubun semua makhluk berada dalam kekuasan-Nya. Jika semuanya dihancurkan, maka hal itu tidak mengurangi kekuasaan dan kerajaan-Nya sedikitpun. Jika menciptakan seribu kali jumlah mereka, maka hal itu tidaklah membuat-Nya lemah. Tidak ada kekuasaan dan tidak ada makhluk yang berkuasa kecuali merupakan pemberian-Nya. Miliki-Nyalah segala keindahan, keagungan, kesombongan, keperkasaan, dan kekuasaan. Jika cinta kepada pihak yang berkuasa karena kesempurnaan kekuasan-Nya bisa digambarkan, maka tidak ada yang berhak dicintai karena kesempurnaan kekuasaan kecuali Dia Azza wa Jalla

Itulah sekelumit penjelasan tentang sebab-sebab kita mencintai Allah? Semua sebab mencintai tersebut, ada pada hak Allah dalam tingkatannya paling tinggi, bukan dalam tingkatannya yang rendah. Sehingga, tingkatan cinta Allah semata sangatlah rasional dan bisa diterima di sisi orang-orang yang mempunyai mata hati, sebagaimana cinta Allah sangatlah rasional dan mungkin di sisi orang yang buta hati.

Dengan demikian dapat dipastikan bahwa dalam cinta-Nya, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tidak ada kekurangan atau cacat yang dapat menembus kedalam cinta-Nya, sebagaimana tidak ada persekutuan yang dapat menembus ke dalam sifat-sifat-Nya. Jadi, Dia adalah yang berhak terhadap cinta utama dan kesempurnaan cinta tanpa ada sekutu sama sekali. Wassalamualaikum wr. wb.

Sumber :

Dikutip dari Buku “Ya Allah, sungguh saya tak pantas di Surga, tapi juga tak kuat di Neraka”.
Pengarang “Badiatul Rozikin”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.