Para Pelaku Maksiat Dikhawatirkan Akan Mati Dalam Su’ul Khatimah

0
1033
Ilustrasi

Beritalangitan.com – Bila anda perhatikan kondisi kebanyakan orang saat sakaratul maut menjemput, anda akan melihat bahwa mereka terhalangi untuk mendapatkan husnul khatimah, sebagai hukuman akibat perbuatan perbuatan jelek mereka.

Al-hafizh Abu Muhammad Abdul Haq bin Abdurrahman Asy-syibli berkata (1): “ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu (semoga Allah menjauhkan kita darinya) mempunyai beberapa penyebab. Ada jalan-jalan dan pintu-pintu yang menghantarkan kepadanya. Penyebab, pintu dan jalan yang paling besar adalah larut dalam urusan keduniaan, tidak perhatian dalam urusan akhirat dan berani maksiat kepada Allah. Bisa saja ada seseorang yang sudah terbiasa melakukan kesalahan atau maksiat tertentu, sehingga menguasai hatinya, akalnya tertawan oleh kebiasaan tersebut, pelita hatinya padam dan terbentuklah hijab yang menutupinya. Akibatnya, teguran tidak lagi akan berguna, nasihat tidak lagi akan bermanfaat dan bisa saja kematian datang menjemput saat dia dalam keadaan demikian. Lalu datanglah panggilan kebaikan dari subuah tempat yang jauh, namun dia tidak dapat memahami maksudnya. Dia tidak tahu apa yang diinginkan oleh panggilan itu, sekalipun orang yang meneriakkan panggilan itu terus mengulangi dan mengulanginya lagi”.

Diriwayatkan, bahwa ada seorang dari anak buah An Nashir (salah seorang pemimpin di masa Mamlukiyyah) yang sedang didatangi oleh sakaratul maut, kemudian anaknya berkata : “ucapkanlah, laa Ilahaa Illallah !” orang itu berucap : An Nashir adalah tuanku.” Diulangilah permintaan itu kepadanya, namun jawaban orang itu tetap sama. Tiba-tiba orang itu tidak sadarkan diri dan setelah dia siuman dia berucap lagi : “An Nashir adalah tuanku”. Begitulah terus menerus setiap kali dikatakan kepadanya ucapan : “laa Ilaaha Illallah” dia malah berucap : “An Nashir adalah tuanku”. Kemudian ia berkata kepada anaknya : “Hai fulan, sesungguhnya An Nashir itu dapat mengenalmu hanya dengan pedang dan keberanianmu membunuh (berperang)”. Kemudian dia meninggal dunia.

Abdul Haq berkata : “pernah dikatakan juga kepada orang lain (yang saya mengenalnya) ucapkanlah : laa Ilaaha Illallah dia malah berucap : “tolong rumah yang di sana itu diperbaiki, dan kebun yang di sana itu dikerjakan…”

Abdul Haq juga berkata : “di antara riwayat dari Abu thahir As Silafiy yang mana dia telah mengizinkan aku untuk meriwayatkannya, yaitu subuah kisah dimana ada seorang pria yang sedang sakaratul maut, kemudian dikatakan kepadanya : ucapkanlan ‘laa Ilaaha Illallah’ namun dia malah mengatakan kata-kata dengan bahasa Persia yang artinya ‘sepuluh dengan sebelas’ (maksudnya, boleh berutang sepuluh tapi bayarnya sebelas, pent)”

Dan pernah dikatakan pula pada orang lain : ucapkanlah laa Ilaaha Illallah dia malah mengatakan “mana jalan ke pemandian manjab? (nama pemandian).

Kata Abdul Haq : jawaban yang diucapkannya itu ada ceritanya. Suatu ketika ada seorang pria yang sedang berdiri di depan rumahnya. Rumah tersebut pintunya menyerupai pintu sebuah tempat pemandian, tiba-tiba di situ lewat wanita cantik dan bertanya, ‘mana jalan ke pemandian manjab ? dia menjawab (sambil menunjuk ke pintu rumahnya), ini dia pemandian manjab itu! Maka, wanita itu pun masuk ke dalam rumahnya sampai kebelakang. Setelah dia sadar terjebak di rumah sang pria dan tahu bahwa dia sedang ditipu, dia pura-pura menampakkan rasa gembira dan suka cintanya karena pertemuannya dengan pria itu. Kemudian wanita itu berkata, ‘sebaiknya (sebelum kita berkumpul) engkau harus mempersiapkan untuk kita apa-apa yang dapat membuat keindahan kehidupan kita sekaligus menyenangkan hati kita’. Dengan segera pria itu menjawab, ’sekarang juga aku akan membawakan untukmu semua apa yang kami inginkan dan kamu senangi’. Lalu dia pergi ke luar dan meninggalkan si wanita dalam rumah, namun tidak menguncinya. Kemudia ia mengambil apa yang dia bisa bawa lalu kembali ke rumahnya. Tapi sayang si wanita itu telah keluar dan pergi. Sedikitpun wanita itu tidak mengambil apa- apa dari rumahnya. Pria itu akhirnya mabuk kepayang  dan selalu ingat pada wanita itu tadi. Dia berjalan di lorong-lorong dan gang-gang sambil mengatakan :

“Wahai tuhan mana wanita yang mengatakan suatu hari dalam kondisi capek: mana jalan kepemandian munjab? “

Suatu saat, waktu dia mengucapkan bait syair tadi, ada seorang wanita berkomentar dari jendela pintu rumahnya :

“Mengapa di saat sudah mendapatkannya tidak dengan segera engkau menutup rumah itu atau mengunci pintunya?”

Mendengar itu ia tambah mabuk kepayang. Begitulah terus kondisinya sehingga bait syair itu menjadi kata-kata terakhirnya saat meninggal dunia.”

Suatu malam, sufyan Ats- tsauri menangis sampai pagi. Di pagi itu ada yang bertanya kepadanya: “ adakah semua yang kau lakukan ini karena takut akan dosa ?” lalu sufyan mengambil segenggam tanah seraya berkata : “dosa itu lebih ringan dari batu ini, aku menangis karena takut akan su’ul khatimah.”

Sungguh, ini adalah pemahaman yang baik, bila seseorang itu khawatir akan dosa-dosanya akan membuatnya terhina di kala meninggal dunia nanti, sehingga dia terhalang untuk memperoleh husnul khatimah.

Al Imam Ahmad pernah menyebutkan bahwa Abu Darda’ di saat sakaratul maut datang, dia pingsan tak sadarkan diri, kemudian dia siuman dan membaca :

“Dan (begitulah) kami memalingkan hati dan penglihatan mereka seperti mereka belum pernah beriman kepadanya pada permulaannya, dan kami biarkan mereka bergelimang dalam kesesatannya yang sangat” (QS.  Al An’am : 110)

Dan oleh karena itu, para ulama salaf khawatir kalau dosa-dosa itu dapat menghalangi mereka untuk memperoleh husnul khatimah.

Abdul Haq juga berkata : “ketahuilah bahwa su’ul khatimah itu (semoga kita dilindungi oleh Allah darinya) tidak akan terjadi pada orang yang dasarnya sudah rusak atau senantiasa melakukan dosa besar dan mengerjakan kemaksiatan. Barang kali itu menjadi kebiasaannya, sehingga kematian datang menjemputnya sebelum sempat bertaubat, akhirnya dia meninggal sebelum memperbaiki dirinya, urat nadinya dicabut sebelum dia kembali kepada Allah, sehinga saat itu  setan berhasil merenggut dan menyambarnya disaat yang genting tersebut. Na’udzu billah!”  Kita berlindung kepada Allah dari su’ul khatimah. (CG)

Sumber : Buku Jangan Dekati Zina Karangan Al Imam Ibnu Qayyim Al Jauziyah

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.