Punya Jimat, Bagaimana Ibadah Kita?

0
766
Foto : contoh jimat

Beritalangitan.com  –  Dalam Islam, jimat bisa disebutkan dalam bentuk ruqyah (mantera, jampi-jampi), tamimah (manik-manik yang dikalungkan di leher anak kecil guna menolak penyakit. Selanjutnya para Ulama menggunakan kosa kata “Tamimah” tersebut untuk menyebut kertas yang didalamnya dituliskan Al Qur’an atau Asma Alloh), tiwalah (jimat pengasihan yang biasa digunakan untuk menarik simpatik lawan jenis), nusyroh (jimat untuk mengobati seseorang yang terkena gangguan Jin) dan wifiq (awfaq) atau jimat berupa Rajah yang tersusun dari rumusan angka-angka.

Dari Abdulloh Ibn Mas’ud rodhiyallohu ‘anhu- ia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shollallohu ‘alaihi wasallam- bersabda: “Sesungguhnya mantera, jimat dan tiwalah adalah syirik”. (HR. Abu Dawud, Al Hakim, Ahmad, Ibn Majah)

Sebagian ulama menilai bahwa semua jimat adalah syirik merujuk pada bunyi hadits di atas. Namun, sebagian lainnya membolehkannya berdasarkan hadits lain riwayat Imam Muslim dalam Shahih-nya: Dari Jabir rodhiyallohu ‘anhu- ia berkata: Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam melarang Ruqyah/mantera/jampi-jampi, kemudian datang keluarga Amr Ibn Hazm kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, mereka berkata: “Kami memiliki Ruqyah/Jampi-jampi untuk mengobati sengatan kalajengking, sedangkan engkau telah melarang Ruqyah/jampi-jampi tersebut”. Selanjutnya mereka (keluarga Amr) memperlihatkan jampi-jampi tersebut kepada Rasulullah shollallohu ‘alaihi wasallam, Maka beliau bersabda: “Menurutku tidak apa-apa, barangsiapa mampu memberi manfaat untuk saudaranya maka hendaklah ia memberi manfaat pada saudaranya.”(HR. Muslim)

Juga hadits lain dalam Shahih Muslim. Dari Auf Ibn Malik Al Asyja’iy, ia berkata: Kami melakukan Ruqyah pada masa Jahiliyah, lalu kami berkata: Ya Rasulallah, bagaimana menurutmu? Maka Beliau bersabda: “Perlihatkan Ruqyahmu padaku. Ruqyah tidak apa-apa selama tidak mengandung syirik.” (HR. Muslim)

Berdasarkan hadits-hadits di atas, Imam An Nawawi dalam Al Majmu’ Syarh Al Muhadzdzab mengutip pernyataan Imam Al Baihaqi mengatakan bahwa selama tamimah (jimat yang dikalungkan) itu diniatkan tabarruk (ngalap berkah) dan meyakini bahwa tiada yang dapat membuka jalan baginya juga tiada yang menolak keburukan darinya kecuali Allah, maka hal tersebut tidak mengapa. Insha Allah. (Al Majmu’ Syarah Al Muhadzdzab, vol. 9, hlm. 66)

Al Hafizh Al Munawi dalam Faidhul Qodiir menulis bahwa jimat yang di dalamnya tidak mengandung pengertian kecuali berlindung dengan Al Qur’an atau sejenisnya, maka hal tersebut adalah perkara yang terpuji. Demikian juga dengan tamimah yang di dalamnya terdapat asma Allah dan firman-Nya, tidak termasuk dalam masalah ini (yang musyrik dan dilarang) dengan tujuan “Tabarruk” asalkan ia tetap meyakini bahwa tiada yang dapat memberi jalan keluar kecuali Allah.” (Faidhul Qodiir, vol. 2, hlm. 434)

Ar Robi’ berkata: “Aku bertanya kepada Imam As Syafi’iy tentang Ruqyah, maka beliau menjawab: “Tidak mengapa jika seseorang me-Ruqyah/jampi-jampi dengan kitab Allah dan perkara yang diketahui sebagai dzikir kepada Allah.” (As Sunan Al Kubro Lil Bayhaqi, 9/349)

Dikisahkan, putra Imam Ahmad sewaktu masih kecil dilehernya dikalungkan Tamimah dari kulit. Dan Imam Ahmad melakukannya sendiri. (Ta’liq Masailul Imam Ahmad Wa Ishaq Ibn Rohuyah, 9/4712)

Kesimpulannya: jimat atau apapun bentuknya (kecuali tiwalah) hukumnya boleh selama mengandung ayat-ayat suci Al Quran (asma Allah) dan tetap meyakini bahwa semuanya itu hanyalah media Tabarruk, sedang pemberi kesembuhan dan atau penolak bahaya hanyalah Allah tiada sekutu bagi-Nya. Dengan demikian, ibadahnya seseorang yang memakai jimat model semacam ini tetap sah dan berpahala. Wallahu a’lam bil-shawab! Khunaefi dari berbagai sumber.

(St)

Sumber: muslimah.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.