Siapa Dicinta Siapa?, Siapa Dibenci Siapa?

0
253

Oleh: Abu Rumi

Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaykum warahmatullohi wabarokatu,

Berangkat dari hati yang tak lagi disinggahi oleh ayat-ayat suci, jiwa yang tak lagi bersemikan bait-bait keindahan hadist nabi, serta raga yang tak lagi mampu membentengi diri dari nafsu birahi. Izinkan jemari ini berbicara tentang apa yang terjadi sehari-hari. Pengalaman yang kita dedikasikan bagi generasi penerus dakwah dikemudian hari, ikhwanul khoir ya akhi wal ukhti. Jangan kalian sebarkan ajaran nabi dari rasa dengki, iri hati, bahkan caci maki. Ikhlaskan hati, semoga Allah meridhoi jalan kita dalam menebar kebaikan kepada kawan-kawan kita yang akan berkumpul di surga nanti. Kelak kita akan berkumpul dengan orang-orang yang kita cintai, bukan dengan orang-orang yang saling membenci. Kerucutkan tekad dalam diri agar tak lagi bimbang ketika berada dalam dipersimpangan jalan nanti. Karena sejatinya hidup itu adalah pilihan antara hidup dan mati. Siapa yang dicintai, siapa yang dibenci?

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dalam QS. Al Imron (3) : 31, “Katakanlah (wahai Muhammad kepada umatmu) Jika kalian benar-benar mencintai Allah, maka ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa kalian.” Derajat tertinggi rasa cinta seorang manusia itu adalah ketika dia sudah mencintai Allah, dan Allah-pun cinta kepadanya. Klise bukan? Memang, bagi orang yang jauh dari agama itu hanyalah kefanaan yang tidak terlihat, wujudnya, rasanya, bentuknya. Namun tidak bagi orang-orang mukmin, orang-orang yang dalam hatinya sudah tertancapkan visi kenabian yang kuat yang jelas, yang dalam hatinya kalimat la ilaha illallah sudah mengikat menjadi tali buhul yang sangat kuat. Bahwa rasa cinta Allah ini akan menjadikan apa-apa yang menurut kita sebagai makhluk mustahil dilakukan, namun akan mudah jika Allah kita sertakan didalamnya. Bahwa rasa cinta Allah ini tidak akan pernah membiarkan kita terseret oleh gemerlap dunia, akan Allah tolong hamba-Nya. Bahwa rasa cinta Allah ini akan selalu menyelamatkan kita dari segala kedzoliman dunia, tak ridho Allah membiarkannya. Wahai saudaraku, terkadang yang menjadikan kesulitan itu sulit bukanlah kesulitan tersebut, bukanlah masalah tersebut, bukanlah ujian tersebut, tapi tidak adanya kecintaan kita terhadap Allah, juga Allah tidak cinta terhadap kita. Kita kadang lupa, kita kadang khilaf bahwa segala sesuatu itu haruslah menyertakan Allah didalamnya. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah) Ku dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” QS. Al Baqarah (2) : 186.

Saudaraku, memang tak bisa dipungkiri kita sebagai manusia sungguh sangat menyenangi ketika dipuji, ketika disanjung oleh kerabat. Begitupun sebaliknya, kita akan sangat benci, jika kita dihujat, kita diragukan pendapatnya, diremehkan kemampuannya, tidak diakui keberadaannya. Sungguh pujian dan celaan manusia itu bukanlah tolak ukur yang Allah jadikan patokan sebagai luhurnya kemuliaan manusia dihadapan-Nya. Allah berfirman, “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al Hujurat (49) : 13). Parameter yang diciptakan oleh sudut pandang baik buruknya seorang manusia, like and dislike, hendaknya disikapi dengan bijak. Siapa dicintai siapa, juga siapa dibenci siapa. Ketika kita dikeliling oleh orang-orang yang dekat dengan Allah, juga dicintai oleh orang-orang yang dekat dengan Allah, maka bersyukurlah bahwa kita masih digolongkan dengan orang-orang yang dalam kesehariannya malaikat mendo’akan kebaikan untuknya serta Allah ridho atasnya. Kemudian tidak perlu menjadi risau serta gelisah ketika dalam suatu perkara kita tidak disukai oleh sebagian makhluk karena memperlihatkan sunnah sebagai karakter keislaman kita, dibungkam ketika mempersolakan pemikiran-pemikran yang tajam kita tentang islam, menghubung-hubungkan segala perkara yang terjadi dengan Qur’an dan Hadist, sungguh pada saat itu juga merekalah yang akan menyesal di hari pembalasan kelak.

Pengakuan, eksistensi, serta keberadaan yang diiyahkan oleh banyak pihak inilah yang sebenarnya justru telah menghanyutkan kita dalam gelombang kelalaian saudaraku. Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk melihat berapa banyak like dalam akun instagram, twitter, serta facebook kita. Beberapa jam kemudian, kita tengok lagi dan lagi berapa banyak komentar yang mengisi linimasa sosial media kita. Kita harus akui, budaya sosial media ini membuat kita ingin banyak dicintai, tidak banyak dibenci. Namun kita kadang salah kaprah, salah melangkah. Yang niat awalnya ingin mempengaruhi, malah terpengaruhi. Jika diibaratkan, kita dengan sosial media ini sebagai air, ada tiga golongan orang yang ada didalamnya. Satu, menjadi mata air yang mengalir dari hulu ke hilir, yang menjernihkan air disekitar yang dialirinya, harus melewati jarak yang jauh, sukar lagi mendaki, agar bisa terasa kebermanfaatanya. Dua, menjadi air dan minyak yang teguh dengan sifatnya masing-masing, tidak bisa menyatu, tidak bisa melebur, tidak bisa menjadi senyawa yang serupa. Tiga, menjadi air dan pewarna, menyatu, bersenyawa menjadi satu media, saling bercampur.

Saudaraku, hari demi hari tak pernah kita lalui tanpa mendengar fitnah yang selalu berseliweran. Dari satu mulut ke mulut yang lain, dari satu layar smartphone ke layar smartphone yang lain, dari satu pertanyaan ke pertanyaan yang lain. Menjadikan pertolongan Allah sebagai solusi, itu merupakan hal yang patut kita yakini. Melakukan hal yang berarti dengan cara mengamalkan sunnah Nabi. Kita menyadari, terkadang kita tidak sabar menanti, tidak sabar menunggu hasil yang disebut oleh orang-orang tentang janji Allah itu pasti. Tidak perlu khawatir jika dibenci oleh orang-orang yang suka berbicara, “jangan bawa-bawa agama, kamu so islami”. Justu kita perlu bahagia dan lebih mensyukuri bahwa kita dikeliling oleh orang-orang yang berbicara, “segala perkara itu nanti akan dibawa mati, tanpa terkecuali”.

Jazzakumullah khoiron katsiro.
Wassalamualaykum warahmatullohi wabarokatu.

Ahad, 18 Sya’ban 1441H

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.