Setelah Masuk Islam, Allah Bukakan Pintu-pintu Cahaya Kehidupan Aminah

0
936
Ilustrasi.

Beritalangitan.com – Aku, Aminah Assilmi. Dahulu, aku seorang Kristen yang berbasis di Amerika Serikat. Aku pernah mencoba menjadi umat Muslim dan Kristiani. Namun, akhirnya aku memeluk Islam saat membaca Al-Qur’an dan mempelajari buku-buku tentang Islam. Aku bisa jelaskan bagaimana syahadat terbukti menjadi dasar spiritual dan kedekatanku dengan Sang Pencipta, Allah SWT.

Perjalananku memeluk Islam, berawal dari nenekku. Nenek menyetujui pilihanku untuk menjadi seorang Muslim. Dari hal ini pula, nenek mengikuti jejakku menjadi seorang Muslim. Beliau adalah seorang yang bijaksana. Namun, beliau kini telah wafat. Alhamdulillah, wafat dalam keadaan Muslim. Aku ingat, di hari saat beliau mengucapkan kalimat syahadat. Perilaku buruk beliau seolah terenyahkan. Sedangkan perilaku baiknya semakin mengalami kemajuan. Aku begitu sedih, beliau meninggal begitu cepat.

Ketika pengetahuan Islamku mulai terasah, aku lebih mampu menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dapat merubah banyak hal. Seperti kejadian beberapa tahun setelah aku menjadi Muslim. Saat itu, ibuku menelepon. Ibu mengatakan kepadaku bahwa dirinya tidak tahu apa yang dimaksud tentang Islam. Namun, ibu berharap aku dapat bertahan dengan keislamanku. Ibu sangat menyukai dengan apa yang aku kerjakan sebagai seorang Muslim.

Lalu, beberapa tahun setelah kejadian itu, ibu meneleponku kembali. Kala itu, ibu menanyakan tentang apa saja yang harus dilakukan untuk menjadi seorang Muslim. Tanpa ragu aku pun mengatakan bahwa yang harus dilakukan untuk menjadi Muslim adalah dengan mengetahui bahwa hanya ada satu Tuhan, Allah SWT dan Muhammad SAW adalah Rasul-Nya. Ibu hanya berkata, “Setiap orang tahu itu. Tapi apa yang harus dikerjakan.” Tanggapan ini membuat aku mengulang informasi yang sama dengan sebelumnya dan kembali ibu berkata, “Nah, ok. Tapi mari kita tidak memberitahu ayahmu dulu.”

Padahal tanpa sepengetahuan ibu, ayah telah melalui percakapan yang sama beberapa pekan sebelum itu. Ayah kandungku telah menjadi Muslim hampir dua bulan sebelumnya. Kemudian, diikuti kakakku.

Aku sangat senang ketika seorang teman, saudara Qaiser Imam, mengatakan kalau mantan suaminya telah mengucapkan kalimat syahadat. Ketika Saudara Qaiser bertanya mengapa, dia mengatakan itu karena ia telah melihatku selama 16 tahun dan ia juga menginginkan putrinya sepertiku.

Kini, anak tertuaku, Whitney, ingin menjadi seorang Muslim. Ia berencana untuk mengucapkan kalimat syahadat ketika Konvensi ISNA dalam beberapa pekan ke depan. Selagi menunggu kesempatan itu, ia tetap belajar sebanyak apa yang bisa ia pelajari tentang Islam. Allah Maha Penyayang.

Selama bertahun-tahun aku berbicara tentang keindahan Islam dan dari hal itu pula banyak pendengar memilih untuk menjadi Muslim. Kedamaian batinku terus meningkat seiring dengan pengetahuan dan keyakinanku kepada Allah SWT. Aku tahu, Allah SWT akan selalu ada dan tidak pernah menolakku untuk selalu berada dekat dengan-Nya.

Setiap manusia akan mendapatkan ujian dari Allah SWT dan tidak ada ujian yang dibebankan di luar kemampuan seorang manusia. Dan suatu ketika aku mendapatkan ujian dari Allah SWT. Beberapa tahun yang lalu, dokter memvonis bahwa aku menderita kanker. Dokter menjelaskan, tidak ada obat untuk menyembuhkan penyakitku. Aku mungkin hidup tidak lama lagi, mungkin hanya kurun waktu satu tahun aku meninggalkan dunia ini. Pada saat itu, aku sangat prihatin dengan anak-anakku, terutama anak bungsuku. Siapa yang akan merawatnya? Namun, aku tetap yakin, rasa sakit yang aku alami tersimpan banyak keberkahan dari Allah SWT.

Penyakit kanker ini, mengingatkanku pada seorang teman baik, Kareem Al-Misawi. Ia meninggal setelah menderita penyakit kanker pada usia 20 tahun. Tak lama sebelum ia meninggal, ia mengatakan kepadaku bahwa Allah SWT benar-benar Maha Penyayang. Meski sedang mengalami kesakitan yang luar biasa, ia mengatakan kepadaku, “Allah SWT bermaksud memasukkan aku ke dalam surga dengan keadaan bersih.” Perkataannya membuatku berpikir tentang apa yang terjadi denganku saat itu. Ia mengajarkanku tentang kasih sayang Allah SWT.

Tidak butuh waktu lama aku memulai menyadari banyak kenikmatan yang diberikan Allah SWT. Teman-teman yang mencintai aku datang entah dari mana. Bahkan ada yang lebih penting dari itu, bahwa aku dapat belajar untuk berbagi Kebenaran Islam dengan semua orang. Tidak peduli jika orang itu, Muslim atau tidak, setuju denganku atau bahkan menyukaiku.

Satu-satunya persetujuan yang aku butuhkan adalah dari Allah SWT. Satu-satunya cinta yang aku butuhkan adalah dari Allah SWT. Namun, aku menemukan sesuatu hal dari semua ini. Aku menyadari semakin banyak orang, tanpa alasan yang jelas, mencintaiku. Aku merasa tersentuh, karena aku ingat akan sesuatu hal. Jika Anda menyayangi Tuhan maka hal tersebut menyebabkan orang lain menyayangi Anda pula. Sungguh, kasih sayang itulah yang merupakan buah dari kecintaanku kepada Allah SWT.

Tidak ada suatu cara yang dapat menjelaskan bagaimana aku bisa berubah seperti ini. Alhamdulillah. Aku sangat senang karena aku seorang Muslim. Islam adalah hidupku. Islam adalah detak jantungku. Islam adalah darah yang khusus melalui pembuluh darahku. Islam adalah kekuatanku. Islam adalah hidupku yang begitu indah.

“Ya Allah, biarkan hatiku memiliki cahaya, dan pandanganku memiliki cahaya, dan pendengaranku (indra) memiliki cahaya, dan biarkan aku memiliki cahaya di sebelah kananku, dan biarkan aku memiliki cahaya di sebelah kiriku, dan biarkan aku memiliki cahaya di atasku, dan memiliki cahaya bawahku, dan memiliki cahaya di depanku, dan memiliki cahaya di belakangku; dan biarkan aku memiliki cahaya,” (Sahih Al-Bukhari). (jm)

Sumber: Islampos.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.