Dalam Islam, Seperti Apa Potret Orang Paling Pemaaf?

Oleh : Silmi Adawiya

0
71

Orang yang paling pemaaf bukanlah sosok yang lemah. Justru seseorang yang pemaaf itu menggambarkan sebuah kekuatan yang sebenarnya. Karena orang yang kuat adalah ia yang bisa menahan amarahnya. Ketika kita mengambil pilihan menjadi pribadi yang mudah memaafkan, justru disitulah kita mengambil langkah yang tepat. Dimana kita menyimpan dan menahan kekuatan yang ada dalam diri untuk sekedar membalas kejelekan atau perbuatan orang lain.

Dalam Islam, perbuatan tidak membalas kejelekan atau perbuatan orang lain merupakan sebuah kemulian. Mungkin kita sering dengar kisah Nabi Muhammad yang mencerminkan suri tauladan umat Islam yang benar-benar pemaaf dalam hidupnya. Rasulullah mengingatkan bahwa balasan bagi orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah surga. Lantas bagaimanakah potret orang yang paling pemaaf dalam kehidupan itu? Dalam kitab Tahzib Siyar A’lam An Nubala, Khalid bin Abdillah berkata:

وأعظم الناس عفوا من عفا عن قدرة

Orang paling pemaaf adalah orang yang memaafkan padahal dirinya mampu membalas

Dari penjelasan di atas, kita dapat memahami bahwa orang yang paling pemaaf adalah bukan sekedar sosoknya yang tak mampu membalas lantas mengambil jalan singkat saja. Melainkan sosok yang mampu membalas, namun ia tidak memanfaatkan kemampuan tersebut. melainkan ia lebih memilih memaaf. Sosok yang belajar mengimanai sifat-sifat Allah, yaitu Al ‘Afuwwu Al Qadiru ( Yang Maha Memaafkan dan Maha Berkuasa)

Potret orang yang paling pemaaf tersebut bukanlah simbol dari sebuah kelemahan atau kekalahan. Itulah bukti bahwa kita cukup kuat untuk tidak membenci, mendendam, sehingga hati otomatis melunak dengan penuh kasih sayang dan memaafkan. Maka jangan takut harga diri dan wibawa kita jatuh, hanya karena kita lunak dalam memaafkan orang lain.

Tidak hanya itu, memaafkan dengan hati yang paling tulus dan tidak membalasnya dengan nada yang seirma menyebabkan turunnya kemuliaan di dunia dan akhirat. Lengkap sudah, memaafkan tidak hanya untuk menunukkan kekuatan diri.

Melainkan juga menjadi sebab hadirnya kemulian sekarang dan kehidupan kelak. Dalam hadis riwayat Muslim, Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه، عن رَسُولَ اللَّهِ صلّى الله عليه وسلّم قَالَ : مَا نَقَصَتْ صَدَقَةٌ مِنْ مَالٍ، وَمَا زادَ اللهُ عَبْداً بعَفْوٍ إِلاَّ عِزّاً، وَمَا تَوَاضَعَ أحَدٌ للهِ إِلاَّ رَفَعَهُ اللهُ. رواه مسلم وغيره

“Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: ‘Tidaklah sedekah itu mengurangi harta, dan tidaklah Allah menambah bagi seorang hamba dengan pemberian maafnya (kepada saudaranya,) kecuali kemuliaan (di dunia dan akhirat), serta tidaklah seseorang merendahkan diri karena Allah kecuali Dia akan meninggikan (derajat)nya (di dunia dan akhirat).’” (HR. Muslim). Sumber bincang syariah. Com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.