Ibadah Harus Dipaksa? (1)

0
2404
ibadah harus dipaksa

Beritalangitan.com – Apa yang kita pikirkan jika mendengar paksa? Tekanan. Ancaman. Tuntutan. Segala sesuatu yang berbau negatif. Tatkala, mendengar katapaksa. Seolah-olah mindset kita terarah pada sesuatu yang negatif, kasar, arogan, dan radikal.

Karena kata paksa ini cendrung digunakan untuk sesuatau yang tidak mau dikerjakan. Akan tetapi harus dan keharusan dikerjakan. Sehingga ini menimbulkan sebuah kesenjangan, antara keinginan dan keharusan. Niat hati tak mau mengerjakan, akan tetapi karena tuntutan, satu dan lain hal. Sehingga harus dilakukan, meski dengan terpaksa.

Banyak contoh dalam kehidupan kita di dunia ini harus memasukan unsur keterpasksaan. Sebab jika tidak, maka tidak akan dikerjakan. Semisal, ketika seorang ibu harus membiasakan anaknya bersih-bersih kamar. Tetapi si anak tidak mau melakukannya, maka si ibu akan melakukan tindakkan untuk memaksa si anak untuk mengerjakannya. Tindakkan pemaksaan bisa berupa stimulus positif dan negatif, terikat dengan seberapa keberatankah si anak untuk membersihkan kamarnya.

Tak halnya seolah membersihkan kamar atau urusan duniawi aja yang harus dipaksakan. Menunjukan rasa taat kepada Sang Pencipta, Dzat yang memiliki segalanya. Mahacermat, Mahasempurna sehingga sama sekali tiada membutuhkan apapun bagi Dia.

Bukankah, diciptakan-Nya makhluk jin dan manusia untuk taat? Jin dan manusia diperintahkan untuk taat, bukan karena Allah membutuhkan ketaatan makhluk-Nya. Sungguh, semua perintah dari Allah adalah karunia agar kita menjadi terhormat, mulia, dan bisa kembali ke tempat asal mula kita yaitu surga.

Jadi kalau kita masuk neraka, naudzubillah, sama sekali bukan karena kurangnya karunia Allah, tapi karena saking gigihnya kita ingin menjadi ahli neraka, yaitu dengan banyaknya maksiat yang kita lakukan.

Allah SWT Mahatahu, bahwa kita memiliki kecenderungan lebih ringan kepada hawa nafsu dan lebih berat kepada taat. Oleh karena itu, jika kita mendapat perintah dari Allah, dalam bentuk apapun, si nafsu ada kecenderungan ‘berat’ melakukannya, bahkan tak segan-segan untuk menolaknya.

Misalnya saja shalat, kecenderungannya ingin dilambatkan. Shaf saja, orang yang berebutan shaf pertama itu tidak banyak, amati saja bahwa shaf belakang cenderung lebih banyak diminati.

Perintah shalat banyak yang melakukan, tapi belum tentu semuanya tepat waktu, yang tepat waktu juga belum tentu bersungguh-sungguh khusyu’. Bahkan ada kalanya – mungkin kita yang justru menikmati shalat dengan pikiran yang melantur, melayang-layang tak karuan, sehingga tak jarang banyak program atau urusan duniawi lainnya yang kita selesaikan dalam shalat. Dan yang lebih parah lagi, kita tidak merasa bersalah.

Saat menafkahkan rezeki untuk sedekah, maka si nafsu akan membuat seakan-akan sedekah itu akan mengurangi rezeki kita, bahkan pada lintasan berikutnya sedekah ini akan dianggap membuat kita tidak punya apa-apa. Padahal, sungguh sedekah tiak akan mengurangi rezeki, bahkan akan menambah rezeki kita. Namun, karena nafsu tidak suka kepada sedekah, maka jajan justru lebih disukai.

Sungguh, kita telah diperdaya dengan rasa malas ini. Bahkan saat malas beribadah, otak kita pun dengan kreatif akan segera berputar untuk mencari dalih ataupun alasan yang dipandang “logis dan rasional”. Sehingga apa-apa yang tidak kita lakukan karena malas, seolah-olah mendapat legitimasi karena alasan kita yang logis dan rasional itu, bukan semata-mata karena malas. Ah, betapa hawa nafsu begitu pintar mengelabui kita. Lalu, bagaimana, cara kita mengatasi semua kecenderungan negatif diri kita ini ? (die)

BERSAMBUNG . . .

Referensi: E-book Kumpulan Tausyiah Aa Gym

Sumber : Islampos

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.