Kebaikan itu bernama “Ramadhan”…

0
398

Oleh Abu Rumi

Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaykum warahmatullohi wabarokatu,

Mari kita mulai tulisan ini dengan pertanyaan, perbuatan baik apa yang telah kamu lakukan hari ini? Selanjutnya disambung dengan pertanyaan, perbuatan baik apa yang tengah kamu siapkan untuk menjemput esok hari?

Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khattab radhiallahuanhu, beliau berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda : Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan.” (Muttafaq ‘alayh)

Apakah kita hanya akan menjadi pasif dengan hidup sebagai manusia yang berjalanya ditopang oleh tulang belulang, tengkorak berjalan yang diselimuti oleh lapisan kulit dermis dan epidermis, yang setiap hembusan nafasnya diatur oleh paru-paru, yang didalamnya mengalir darah dipompa oleh jantung ke seluruh tubuh, lantas dengan membawa-bawa kotoran kemana-mana, serta berasal dari tetesan air yang hina kita dihidupkan, adakah sedikit kapasitas dalam diri kita ini mampu untuk menganggap bahwa diri kita telah cukup mulia untuk kelak bersanding disurganya Allah subhanahu wa ta’alla?

Dari sekian banyaknya ke-masya allah-an yang terjadi dalam hidup kita, sudah sepatutnya kita menaruh harapan besar kepada Allah subhanahu wa ta’alla agar selalu dikaruniai kesehatan, keselamatan, serta keberkahan dalam kehidupan ini. Isi setiap hari kita dengan melakukan minimal satu kebaikan setiap harinya, bukan untuk dilihat oleh orang lain, tapi biarkan saja apa yang telah kita lakukan itu menguap begitu saja ke langit, dan biarkan tangan-tangan Allah-lah yang bekerja setelahnya. Sebab setipis benang yang masuk ke lubang jarum begitulah hari ini perbedaan antara riya dan syi’ar. Akan lebih sempurna bukan? Teringat sedikit pesan dari Khalifah keempat, Ali bin Abi Thalib beliau pernah berkata, “Aku tak sebaik apa yang kau ucapkan, tapi aku juga tak seburuk yang terlintas di hatimu.”

Segala kebaikan yang orang kagumi kepada sosok diri kita bukanlah hasil daripada jerih payah kita selama ini, hanya saja ini semua berkat peran Allah karena telah begitu baiknya mau menutupi segala aib kita, kebusukan kita selama di dunia. Jauhkan kami dari perangai sombong serta kikir, karena sifat itu jualah yang melahap iblis ke dalam api neraka. Setiap manusia pasti memiliki keadaan dan kondisinya masing-masing dalam berbuat kebaikan, dan rasa cukuplah yang menjadi batasannya. Coba bayangkan, andai saja setiap individu dibumi lebih mencemaskan apa yang membuatnya sampai saat ini masih sedikit mengucapkan Alhamdulillah, mungkin kebaikan demi kebaikan akan menjamur dimana-mana, menjadi budaya, serta menjadi obat jitu dalam menegakan amar ma’ruf nahi mungkar. Rasulullah bersabda, “Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.” (HR. Muslim).

Sya’ban telah hampir usai, Ramadhan sudah dipelupuk mata, menjelang Ramadhan tahun ini persiapan apa yang sudah kita lakukan? Sudahkah kita menjadi seorang muslim papan atas yang siap tancap gas untuk marathon ibadah selama 30 hari dibulan Ramadhan? Ataukah kita akan menjumpai wajah Ramadhan kita ditahun-tahun sebelumnya, yang hanya berkutat dengan rasa lapar dan dahaga, antusias menyambut sahur dan iftar di hari pertama, gencar tadarus hatam Al Baqarah di hari pertama, sungguh semoga kita dibuatnya baik dan lebih baik lagi dari tahun ke tahunnya dalam menyambut bulan yang penuh kebaikan ini. “Barangsiapa yang harinya sekarang lebih baik daripada kemarin maka dia termasuk orang yang beruntung. Barangsiapa yang harinya sama dengan kemarin maka dia adalah orang yang merugi. Barangsiapa yang harinya sekarang lebih jelek daripada harinya kemarin maka dia terlaknat.”

Ibnu Rajab Al Hanbali menyebutkan, “Ibarat bagi satu tahun adalah seperti sebuah pohon, tunasnya bersemi pada Bulan Rajab, batangnya bercabang pada Bulan Sya’ban, buahnya matang pada Bulan Ramadhan, dan orang-orang yang beriman adalah petani yang akan memanennya.” (Lathaiful Ma’arif 234). Meskipun sudah terbilang terlambat, tapi mari kita mulai persiapkan jiwa dan hati kita dalam menyambut Ramadhan tahun dengan meluruskan niat, lakukan segala sesuatu hanya karena Allah. Taubat, perbanyak istigfar serta memohon maaf kepada sesama manusia. Riyadhah, latih diri dengan memperbanyak ibadah sunnah.

Semoga Allah subhanahu wa ta’alla meridhoi kita untuk bertemu dengan Ramadhan tahun ini. Kita mampu merealisasikan target Ramadhan tahun ini. Lebih banyak melakukan kebaikan demi kebaikan agar semua rangkaian ibadah di bulan Ramadhan yang akan kita lakukan kelak mampu mengembalikan esensi kita menjadi manusia yang sebenarnya.

“Jika kuda pacu sudah mendekati garis finish, ia akan mengerahkan seluruh tenaganya untuk memenangkan lomba. Maka jangan sampai anda kalah cerdas dari kuda, karena sesungguhnya amalan itu ditentukan oleh penutupnya. Jika anda tidak menyambut Ramadhan dengan baik, paling tidak melepasnya dengan baik.” (Ibnu Qayim Al Jauziyah)

Jazzakumullah khoiron katsiro.
Wassalamualaykum warahmatullohi wabarokatu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.