Kisah Atheis yang Bersyahadat, Lynne M Mcglynn-Aisha

0
558
Ilustrasi.

Beritalangitan.com – Sebelum menerima hidayah Islam, Lynne M Mcglynn-Aisha menghabiskan sebagian besar hidupnya sebagai seorang ateis dan agnostik. Pengalaman masa lalu yang kelam sekaligus pahitlah yang membuat perempuan itu menolak keberadaan Tuhan.

Dia berkisah, ketika masih kecil, aku kerap pergi ke gereja. Tetapi aku justru dilecehkan dengan sangat buruk oleh pimpinan gereja setempat selama bertahun-tahun, hingga akhirnya aku lari dari rumah ketika berusia 13 tahun. “Sejak saat itu, aku menjalani hidup sendirian,” tutur Lynne membuka kisah hidupnya.

Awalnya, dia menjalani masa kanak-kanaknya dengan baik. Seperti teman-teman sebayanya kala itu, hari-hari Lynne kecil diisi dengan bermain dan suasana penuh tawa. Namun, semuanya berubah ketika dia menginjak umur enam tahun.

Pelecehan Seksual

Berbagai peristiwa buruk mulai menimpa hidupnya. Mulai dari pelecahan seksual, hingga berbagai penyiksaan fisik dan verbal yang tidak dapat dia ungkapkan dengan kata-kata. Semua kenangan mengerikan itu terus membekas dalam ingatan Lynne sampai hari ini. Malang betul nasibnya, belakangan dia mengetahui jika dirinya ternyata anak hasil korban perkosaan. “Kenyataan ini lebih menyakitkan lagi,” katanya memaparkan.

Sejak lari dari rumah, mulailah Lynne menjalani kerasnya kehidupan jalanan secara berpindah-pindah dari Kanada, Amerika Serikat, sampai ke Meksiko. Semua pekerjaan buruk pun dilakukannya, mulai dari mencuri, menipu, melacur, mengedarkan narkoba, hingga menjadi pecandu alkohol dan obat-obatan terlarang. Kehidupan semacam itu dilaluinya selama kurang lebih 10 tahun.

Dalam kurun waktu tersebut, batin Lynne selalu diliputi kegundahan. Nasib buruk seolah-olah tidak mau lepas dari hidupnya. Ketika berada di Meksiko, Lynne sempat masuk bui. Di dalam penjara, dia diperkosa beramai-ramai (gang rape) oleh sejumlah oknum polisi federal setempat.

Dalam keterpurukan, ia mengutuk Tuhan dan tak lagi memercayai keberadaannya. “Selama hidup di jalanan, aku mencapai titik nadir paling rendah dalam hidupku,” ungkapnya.

Hijrah

Pada 1986, Lynne akhirnya memilih menetap di salah satu kota yang terletak di Provinsi Alberta, Kanada, untuk beberapa tahun lamanya. Di situlah proses pemulihan dan perubahan hidupnya dimulai.

Di kota itu, Lynne mengikuti sebuah program konseling. Dia pun mulai pergi lagi ke gereja atas saran dari salah satu wanita di kelompok konseling tersebut untuk beberapa tahun. Namun, cara itu tidak juga membuat batinnya merasa tenang. Dia merasa ada sesuatu yang salah. “Tapi aku tidak mampu menjelaskannya ketika itu,” katanya.

Sejak saat itu, Lynne mulai mencari tahu tentang agama-agama lainnya di luar Kristen. Dia mencoba mempelajari ajaran Hindu, Buddha, dan beberapa konsep keyakinan lainnya. Namun, semua upaya tersebut tidak juga mampu menjawab kekosongan spiritualnya.

Belajar Islam

Sampai suatu ketika, seseorang memberikan Lynne sebuah referensi untuk mempelajari Islam di dunia maya. Dia pun mulai membaca terjemahan Alquran dan sejarah kehidupan Rasulullah Muhammad SAW secara online. “Aku pun merasa jatuh cinta dengan kebaikan dan kecintaan Rasul kepada Allah SWT,” aku perempuan berumur 52 tahun itu.

Semakin banyak membaca literatur tentang ajaran Islam, Lynne merasa keyakinannya kepada Allah SWT juga semakin menguat. Dia pun mulai belajar shalat secara mandiri dan mencoba melakukannya sekali atau dua kali dalam sehari, meski dia belum secara resmi berikrar syahadat.

Tujuan Lynne ketika itu cuma satu, yaitu hanya untuk mengetahui apa yang bakal terjadi di dalam dirinya seusai melaksanakan shalat. Dan betapa kagetnya dia, di luar dugaannya, semakin dia shalat, bertambah pula keinginannya untuk mengulanginya.

“Sekarang aku menunaikan shalat lima waktu,” ujarnya bahagia.

Ketika memutuskan untuk belajar tentang Islam, Lynne mulai dijauhi oleh teman-teman dari gerejanya. Kendati demikian, kenyataan tersebut tak menyurutkan semangatnya untuk terus mempelajari agama ini secara mendalam.

Lynne mengaku Islam telah mengajarkannya begitu banyak hal. Bagi dia, Islam betul-betul memahami kehidupannya yang selama ini selalu berada dalam kondisi yang tidak menguntungkan.

Di dalam Alquran pula, Lynne menemukan jawaban atas kekosongan jiwanya selama ini. Dia pun mengutip surah al-Baqarah ayat 156-157. “(Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Mereka itulah yang mendapat keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Tuhan mereka dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk”.

Dua tahun yang lalu, Lynne akhirnya mengikrarkan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad SAW adalah utusan-Nya yang terakhir. Dia kini telah menjadi seorang Muslimah. “Aku berutang hidup kepada Allah, dan aku tahu aku ini bukanlah apa-apa tanpa Dia,” kata Lynne penuh haru. (jm)

Sumber : Khazanah/Republika

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.