Mengambil Cahaya Al-Ashr

0
167

Ayatnya ringkas, tiga ayat saja. Namun, kandungannya teramat luas. Kita kerap mendengarnya dibaca saat shalat berjamaah secara jahr. Saat kecil pun, surah ini menjadi favorit. Pendek dan mudah dihafal.

Surah al-Ashr adalah surah Makiyah. Sebagaimana karakter surah Makiyah, isinya adalah peneguhan perjuangan. Bagaimana cara menjalani hidup dan kehidupan termaktub dalam surah yang turun saat dakwah di Makkah.

Ada sebuah kebiasaan yang kerap dilakukan para sahabat jika menyangkut surah al-Ashr. Imam Thabrani dalam Al-Mu’jim Al-Awsath dan Imam Baihaqi dalam Syu’ab Al-Imam meriwayatkan sebuah hadis dari Abu Hudzifah RA. Ia berkata, “Dua sahabat Rasulullah SAW jika sudah bertemu tidak akan berpisah hingga salah satu dari keduanya membacakan surah al-Ashr kemudian mengucapkan salam.”

Lihatlah kebiasaan generasi yang disebut Rasulullah SAW sebagai generasi terbaik. Mereka melihat keutamaan yang sangat agung dalam surah yang ringkas ini. Meresapi maknanya adalah salah satu cara untuk melihat secara utuh kandungan besar surah ini.

Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam tafsir Al-Wasith menjelaskan, Allah SWT mengawali ayat ini dengan sumpah demi waktu. Waktu atau masa adalah rentetan pelajaran yang harus direnungi manusia. Ada  pergiliran siang dan malam, gelap dan terang silih berganti. Hal ini menandakan jika kondisi kehidupan akan terus dinamis.

Waktu sebagai objek sumpah juga sangat penting. Bahkan, kita dimakruhkan mencela waktu. Rasulullah SAW bersabda, “Jangan mencela waktu karena Allah-lah (pencipta) waktu.”

Kemudian Allah menerangkan sejatinya tiap insan berada dalam kondisi serbarugi. Ia rugi baik dalam perdagangan, pekerjaan, maupun amal di dunia. Syekh Wahbah menjelaskan, kerugian ini jelas tampak pada orang-orang yang tidak beriman. Mereka menderita kerugian di dunia dan di akhirat. Dan itulah makna kerugian yang sebenarnya.

Sementara, orang mukmin meski kadang rugi di dunia, seperti rugi dalam perniagaan, kerasnya hidup, kemiskinan, dan lainnya, kerugian itu tidak ada maknanya sama sekali dibanding kenikmatan di akhirat.

Semua orang yang hakiki dalam keadan rugi bisa keluar menuju keberuntungan. Mereka yang beruntung adalah orang-orang yang memenuhi empat kriteria yang termaktub dalam surah al-Ashr.

Pertama, orang yang beruntung adalah orang yang beriman kepada Allah SWT dengan benar. Termasuk di dalamnya mengimani malaikat, kitab, rasul, hari akhir, qadha, dan qadar yang baik dan buruk. Beriman kepada Allah adalah proses pebaikan diri. Ia berfokus pada proses menjadi pribadi yang baik di mata Allah.

Kedua adalah selalu beramal saleh. Definisi amal saleh dalam tafsir Al-Wasith adalah menunaikan semua kewajiban dan ketaatan lain, melakukan amal baik, meninggalkan larangan, termasuk senantiasa mengucapkan kalimat yang baik.

Amal saleh adalah manifestasi dan pembuktian keimanan. Orang yang mengaku dirinya beriman tidak akan dinilai beriman sampai ia membuktikannya dalam amal saleh. Sampai fase ini prosesnya masih berkutat pada perbaikan diri.

Ketiga, saling menasihati dalam hal kebenaran. Semua yang benar harus disampaikan. Beriman kepada Allah, mengikuti kitab dan para rasul-Nya adalah sebuah kebenaran. Maka, nasihat itu harus disampaikan kepada sesama. Harus disebarluaskan.

Harus didakwahkan. Nilai yang ketiga ini memasuki fase menyentuh sosial. Setelah proses perbaikan diri selesai di dua fase selanjutnya, setiap insan siap mengemban amanah baru. Sebagai penasihat sesama guna menyuarakan kebenaran.

Keempat, saling menasihati dalam hal kesabaran. Kesabaran berkaitan erat dengan kebenaran. Pengulangan huruf jar dan fiil menunjukkan keterkaitan tujuan untuk memperlihatkan kesempurnaan perhatian.

Kesabaran ini di sini juga bermaksud menghindari kemaksiatan yang diinginkan setiap manusia, bersabar dalam menjalani ketaatan, dan bersabar menghadapi semua musibah yang diujikan.

Membaca rentetan hikmah dan kandungan surah al-Ashr seharusnya menumbuhkan kesadaran. Tatanan masyarakat bisa menjadi baik jika setiap manusianya menyadari proses perbaikan. Mulai dari diri sendiri terus secara kontinu, lantas diaplikasikan dalam proses saling menasihati dan mengingatkan.

Tiga ayat ini menemukan realitas yang terbolak-balik dalam kehidupan. Ada sebagian kalangan yang semangat luar biasa mengingatkan orang lain, namun diri sendiri rapuh dalam kebaikan. Di ujung yang lain ada banyak yang khusyuk tenggelam dalam kenikmatan ibadah tanpa peduli di dekatnya terjadi kemaksiatan yang mengganggu.

Tiga ayat menjabarkan lengkap proses tersebut. Maka, tak heran jika Imam Syafi’i terkait surah ini pernah berkomentar, “Seandaianya Alquran yang diturunkan kepada manusia hanya surah ini, niscaya itu sudah mencukupi.”

Sumber : Republika.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.