Menggapai Mardhotillah

Oleh : Yusandi CR

0
6332

Setiap manusia hidup tentu memiliki sebuah keinginan atau harapan. Keinginanlah yang mendorong manusia untuk beraktifitas.

Semakin besar keyakinan untuk mendapak keinginannya, semakin termotifasi untuk mengejarnya.
Seperti jika seseorang punya uang 100 juta lantas ingin membeli mobil seharga 150juta dan yakin bahwa mobil itu dapat terbeli, maka dapat pastikan daya juang dalam mengejar kekurangannya itu akan sangat luar biasa.

Sama halnya dengan ketika manusia mengejar ridho Allah,  dengan jalan beribadah kepadaNya. Jika kita memiliki keyakinan bahwa ridho Allah itu dapat diraih niscaya kita akan termotivasi mengejarnya.

Disadari atau tidak Allah swt memberikan nikmat sehat, nikmat rezeki dan nikmat” lainya adalah sarana untuk beribadah kepadanya sebagai fasilitas penghambaan untukNya.

Akan tetapi realitanya seringkali menghantarkan kepada kondisi sebaliknya, misalnya ada rasa  sayang jika terlalu besar menggunakan kenikmatan dari Allah tersebut untuk beribadah kepadaNya.  Seringkali terlintas untuk ibadah cukup seadanya.
Dalam surat At Taubah ayat 111 Allah berfiman

إِنَّ اللَّهَ اشْتَرَى مِنَ الْمُؤْمِنِينَ أَنْفُسَهُمْ وَأَمْوَالَهُمْ بِأَنَّ لَهُمُ الْجَنَّةَ يُقَاتِلُونَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ فَيَقْتُلُونَ وَيُقْتَلُونَ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِي التَّوْرَاةِ وَالْإِنْجِيلِ وَالْقُرْآنِ وَمَنْ أَوْفَى بِعَهْدِهِ مِنَ اللَّهِ فَاسْتَبْشِرُوا بِبَيْعِكُمُ الَّذِي بَايَعْتُمْ بِهِ وَذَلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ(111)

” Sesungguhnya Allah membeli dari orang – orang mukmin, baik diri maupun harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah sehingga mereka membunuh atau terbunuh, (sebagai) janji yang benar dari Allah dalam tauret, injil dan Al – qur’an dan siapakah yang paling benar dalam menepati janjinya selain Allah… Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan demikian itulah kemenangan yang agung. Qs 9:111

Dalam ayat diatas Allah menegaskan akan janji dan jaminannya terhadap seluruh jual beli yang kita lakukan terhadapNya. Artinya kenikmatan yang di anugrahkan kepada kita apabila di pergunakan untuk beribadah kepadaNya, Allah menjamin akan membeli dengan kenikmatan tiada tara, yakni surga.

Dengan demikian pilihan ada pada diri kita, apakah kita akan terus memacu diri untuk senantiasa meningkatkan kualitas  keimanan kita, yang tercemin dari  meningkatnya pengobanan, baik materi, tenaga maupun waktu yang kita miliki. Atau mungkin  sebaliknya, kita disibukkan dengan mengejar keinginan kita (baca syahwat dunia) yang tidak ada batasnya.

Kalau di ibaratkan di perusahaan,  seorang karyawan yang diberi fasilitasi penuh, maka akan dituntut untuk  berdampak kepada proses dan hasil pekerjaannya. Maka dengan kata lain apakah fasilitas yg Allah swt berikan menjadi alat untuk meningkatkan ketaqwaan kita, atau sebaliknya.

Yang harus diingat bahwa musibah dan masalah (baca, cobaan) itu salah satu sarana meningkatkan ketaatan serta menjadikan kita lebih dekat atau lebih jauh terhadap Allah swt.  Dan Allah swt akan memberikan ridhonya kepada hambanya yg benar dan iklas.

Kita yakini bahwa  Allah swt senantiasa memberikan segala  fasilitasnya baik umur, rezekinya, ilmunya, tuntunannya dan aturanya kepada setiap manusia. Jadi kenikmatan apa lagi yang akan kita dustakan.

فَبِأَيِّ آلَاءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ

Maka, nikmat Tuhan-Mu yang manakah yang engkau dustakan ?
(QS Ar-Rahmaan: 13)

Tapi sayang kadang manusia menyadari akan nikmat yang telah Allah berikan, bahkan untuk bersyukur pun dirasa sangat sulit.

Analogi sederhana jika kita punya karyawan lantas karyawan itu di fasilitasi, tapi bekerja ala kadarnya. Ketika di beri tugas mengeluh tapi kalau berbicara pendapatan jeli. Kira – kira bagai mana perasaan kita….?

Tapi subhanallah Allah swt itu maha Ar rahman dan Ar rahim. Allah awt  telah  telah manciptakan pengadilan akherat buat mengadili hal tadi dan kita semua.

Untuk itu temukanlah madhotillah, itulah yang harus menjadi pijakan dalam hidup ini. Iklas dalam menempuhnya, dan all out dalam beribadah kepadaNya.

Seperti ungkapan yang di sampaikan oleh Ibnul Qayyim :
“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah -dengan hikmahNya- berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti –dengan rahmatNya- membukan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.