Mereka para musisi yang berhijrah (bag 1)

3
5928

Beritalangitan.com – Ketika hidayah dari Allah swt datang siapa yang bisa menolaknya Hidayah mutlak di tangan Allaah ‘Azza wa Jalla dan tidak ada seorang pun yang dapat memberi petunjuk dan menyesatkan selain-Nya. Begitupun hidayah datang kepada para musisi metal dan rock ditanah air. Musisi metal dan rock memang secara umum terkenal dengan sikap dan berpenampilan urakannya, tetapi ketika hidayah tiba mereka hijrah dan bermetamorfosis menjadi lebih baik. Para musisi itu diantaranya :

  1. Irvan Sembiring, gitaris ROTOR (band Thrash Metal legend)
Irvan Sembiring, gitaris ROTOR (band Thrash Metal legend)
Irvan Sembiring, gitaris ROTOR (band Thrash Metal legend)

Di Indonesia jangan mengaku anak Metal jika tidak kenal dengan sosok Irvan Sembiring yang merupakan dedengkot musik cadas tanah air, beliau sempat menggawangi band SUCKERHEAD dan ROTOR, beliau juga sempat mencoba peruntungan di negeri paman Sam, tepatnya di California. Hingga kini nama dan sosoknya masih disegani oleh para musisi rock.

Titik Balik Irvan adalah ketika satu persatu beberapa teman-temannya meninggal akibat over dosis sehingga mengingatkan beliau akan kematian sehingga memutuskan untuk lebih religius dan istrinyapun bercadar. Beliau masih aktif di dunia musik, khususnya di belakang layar dan kerap dipergoki di keramaian dengan ikut menjadi penonton di tengah kerumunan konser band-band Metal lokal ataupun manca negara dengan tetap bergamis.

Siapa mengira bahwa dibalik gamis putih, dan sorban tebal yang selalu melilit di kepala pria yang selalu berjalan dengan gagah ke masjid setiap lima kali sehari ini adalah seorang Raja Metal Indonesia. Ia bahkan pernah membuat serangkaian sensasi dan langkah fenomenal dalam permetalan nasional.

Dialah Irfan Sembiring yang kini seluruh waktunya digunakan untuk mengabdi kepada Allah Swt. Baginya, Masjid adalah rumah, sehari-hari Irfan berada di rumah Allah tersebut meski bukan pada waktu-waktu sholat. Beberapa tahun silam, saya sering menginap di rumah teman di Cinere, Selatan Jakarta, yang kebetulan dekat dengan rumah Irfan di Komplek AL. Saat itulah saya berkesempatan untuk dekat dengan idola saya semasa duduk di bangku SMP ini.

Kalau lagi tidak keliling dunia untuk berdakwah, di Jakarta, ia biasa nongkrong di Masjid Imam Bonjol, atau Masjid Al-Ittihad di dekat Cinere Mall. Kerjaannya kalau nggak Ibadah, Dzikir Qalbi, Dakwah, dan Nongkrong.. kalau nongkrong pun obrolannya gak bakal jauh dari Keagungan Allah, meski sesekali diselingi dengan ngobrol musik, terutama musik Rock. “Orang Islam itu kalo di Masjid ibarat ikan dalam air,” ujarnya berkali-kali kepada saya yang pendosa ini.

mus1.Pria kelahiran Surabaya, 2 Maret 1970 ini kerap keliling untuk berdakwah dari Masjid ke Masjid bersama jamaah yang yang bermarkas di Masjid Jami Kebun Jeruk (Jakarta Barat) ini. Wajah Irfan yang bersinar, memang jauh berbeda dengan keadaannya 20 tahun silam. Sewaktu bandnya, Rotor masih berjaya, hidupnya memang urakan dan tidak pernah nongkrong di rumah Allah.

Baiklah, kini kita mundur ke belakang, siapakah Irfan Sembiring itu? Dia adalah seorang pionir thrash metal, pendiri band Rotor yang sangat disegani di era 90-an. Dan yang patut dicatat, Rotor adalah band thrash metal Indonesia yang pertama kali masuk dapur rekaman. (saat itu merekam lagu tidak semudah/semurah sekarang..lho)

Sebelum Rotor berdiri, pada akhir era-80an, Irfan bermain untuk Sucker Head, yang juga mengusung thrash metal. Rotor sendiri di bentuk tahun 1992 setelah Irfan merasa konsep musik Sucker Head masih kurang ekstrem baginya. Nama Rotor di ambil digunakan karena sesuai dengan musik yang dimainkannya, yaitu cepat bak baling-baling pesawat.

Sebelum memiliki album, dan memainkan lagu sendiri, Rotor masih bermain lagu Sepultura, dedengkot metal asal Brazil. Adalah Judapran yang kemudian bergabung dengan Rotor, setelah ditinggal dua personil sebelumnya. Bersama Juda (Bass) dan Bakkar Bufthaim (Drums), Irfan menggarap rekaman live di studio One Feel dengan cara purba alias tradisional. Hanya dengan dua track, left-right, yang isinya gitar dan drum, tanpa vocalnya, dan bermodal kaset demo itulah, Irfan menyodorkan konsep musiknya ke label-label rekaman besar dan hasilnya….. tentu saja Gagal!! Musik yang dimainkan Rotor masih dianggap sangat ekstra super ekstrim zaman itu.

Irfan pun lantas tidak putus asa, hasil pergumulannya dengan rockstar papan atas ibukota seperti Slank, (alm) Andy Liany dan sebagainya, dan bermodal gitar dan ampli kecil, Irfan hidup nomaden dari satu studio ke studio lainnya. Ia ikut menggarap rekaman Anggun C. Sasmi, ikut membantu Anang (yang saat itu belum pacaran sama Krisdayanti, apalagi dipanggil Pipi), bahkan membantu rekaman Ita Purnamasari.

Di awal 1992 Irfan berkenalan dengan bos label rekaman AIRO, yang juga adik kandung Setiawan Djody. Hasil rekaman cara purba itu diputar di depan bos Airo records. Karena tanpa vokal, Irfan bernyanyi metal ala karaoke di depan bos Airo yang bernama Seno itu. Babak awak perjalanan Rotor bisa dibilang di tahun 1993. Ketika itu pula mereka dipercaya untuk membuka konser Metallica di stadion Lebak Bulus, Jakarta. Meski konsernya bisa dibilang spektakuler, namun puluhan orang meninggal dunia dan puluhan mobil dibakar.

Saat konser tersebut, saya masih SD dan belum doyan metal kebetulan lewat Stadion Lebak Bulus setelah pulang dari Depok bersama keluarga. Masih lihat bagaimana dentuman soundsystem yang terdengar hingga Pondok Indah bahkan Kebayoran, dan kebulan asap dari kejauhan akibat kerusuhan.

Saat itu Metallica sedang mengadakan Tur dan di Indonesia lah satu-satunya negara yang ada band pembukanya. Maka bisa dibilang Rotor lah satu-satunya band pembuka Tur Metallica di awal dekade 90-an tersebut. Di konser ini Rotor juga diperkuat oleh Jodie sebagai vokalis.

Album pertama Rotor berjudul Behind The 8th Ball kemudian dirilis, dan disusul dengan babak baru perjalanan Rotor dengan hijrahnya Irfan, Jodie dan Judha ke Los Angeles, Amerika Serikat. Di Kota ini mereka coba mengadu nasib dengan harapan bisa mengikuti jejak Sepultura, yang sukses menembus Amerika. Perlu dicatat juga, Rudy Soedjarwo, sutradara film ‘Ada Apa Dengan Cinta’ inilah yang sempat menjadi drummer Rotor selama di Amerika.

Di Amrik, persaingan menjadi musisi Metal sangat ketat, sulit untuk mendapatkan job manggung dan sebagainya jika tidak ada agency. Di Amerika, personil Rotor yang lain sering keluyuran dari satu pub malam ke pub malam yang lain, termasuk nongkrong di pub Rainbow, tempat nongkrongnya artis-artis porno bin bokep, Joe Rivera, Ron Jeremy , dan Savannah.

Karena kondisi keuangan dan mental yang melemah, para personel Rotor kemudian membanting stir untuk bisa bertahan hidup di negeri orang dengan cara mereka masing-masing. Jodie ke San Fracisco, dan Judha ke Alabama untuk bekerja di pabrik pengolahan ayam. Sedangkan Irfan bertahan di Los Angeles.

Babak selanjutnya adalah kembalinya Rotor ke tanah air dengan membuang mimpi menjadi superstar setelah menaklukan Amerika. Jodie kemudian memutuskan hengkang dari Rotor dan membentuk Getah. Tahun 1995 Rotor merilis ‘Eleven Key’ dan tahun selanjutnya album ‘New Blood’ dirilis. Tahun 1997, Irfan mendirikan label Rotorcorp dan bersama Krisna Sadrach (Sucker Head) menjadi produser album Metalik Klinik yang legendaris tersebut. Setelah menelurkan tiga album dengan genre musik yang berbeda, tahun 1998 sang basis, Judhapran meninggal dunia karena berlebihan dalam mengonsumsi narkotika, disusul dengan kematian Jodie yang saat itu adalah suami dari aktris Ayu Ashari.

Babak baru kehidupan seorang Irfan Rotor pun dimulai kembali, penghujung tahun 1999, bersama beberapa band produksi Rotorcorp ia sudah lima kali lolos dari pembantaian maut yang hampir merenggut nyawanya. Peristiwa tersebut terjadi di bagian timur pulau Jawa yang sedang hangat-hangatnya terjadi pembantaian dukun santet oleh gerombolan ninja. Lima kali lolos dari upaya pembunuhan menurut Irfan pastilah mukjizat dari Allah SWT. Semenjak itulah ia bersumpah untuk bertakwa kepada Allah SWT dan mendedikasikan hidupnya dengan berdakwah Islamiah non komersil.

Mengapa saya sebut non komersil, karena ketika berdakwah, Irfan dan rombongannya tidak membicarakan dan menyentuh empat hal, yaitu Politik praktis dalam dan luar negeri, Perbedaan pendapat antara beberapa mahdzab dalam Islam, dan Sumbangan. Bahkan ketika berdakwah, ia menyisihkan uangnya untuk berpergian.

Dalam belajar Agama Islam, Irfan pun tidak tanggung-tanggung. Ia berguru di sejumlah pesantren dalam negeri hingga luar negeri, beberapa negara seperti Arab Saudi, Kuwait, Afrika Selatan, Jepang, India, Pakistan, Bangladesh, Amerika Serikat, dan lainnya telah dikunjunginya dalam rangka belajar dan mendakwahkan agama. Selain Irfan, beberapa Rockstar yang juga kerap itikaf di antaranya (Alm) Gito Rollies, Edi Kemput (Ex- Gitaris Grassrock), Henky Tornado (mantan foto model), Tabah Panemuan (pemain sinetron), Lukman (Gitaris- Peterpan), Ivanka (Bassis- Slank), Sakti (Ex-Gitaris Sheila On 7), dan banyak musisi Underground yang tidak perlu saya sebutkan satu persatu di sini… (Buat artikel lainnya aja…..red)

Pada 2010 lalu, setelah 13 tahun vakum dari kancah musik metal, Irfan ‘Rotor’ Sembiring kembali menggarap sebuah project bernama IRS, dan sudah merilis beberapa buah lagu yang syairnya merupakan adaptasi dari Kitab Al Quran. Silakan cek ‘Infidels – Divine Support – The Flame’ judul lagu baru Rotor yang juga terdapat dalam CD album kompilasi band Jakarta ‘Born To Fight’.

Kali ini line up ROTOR 2012 adalah Irfan Rotor Sembiring, Bakar Bufthaim, Ucok Tampubolon, Ungki Blvz, dan Tony Monot. Mereka baru akan aktif, berencana tour, dan rilis album baru setelah Irfan balik ke Indonesia sekitar Agustus 2012 mendatang. Hingga tulisan ini di unggah, IRS sedang berada di Pakistan dan tentunya tidak sedang bermain musik cadas. Yang jelas bagi saya, IRS adalah sosok superstar, idola, kawan diskusi, dan guru agama yang tidak bikin ngantuk.

Kisah-kisah menarik mengenai tentang sosok Irfan Rotor Sembiring memang tak pernah habis untuk dikupas, biarkanlah kisah pendakwah non-komersil ini dicatat oleh Malaikat dan akan dirilis bukunya di Akhirat kelak.

2. Kisah HIjrah Derry Sulaiman (Ex-BETRAYER)

mus2
Derry Sulaiman (ex Gitaris BETRAYER & GIBRALTAR)

Rocker Juga Manusia dimana dia akan kembali berubah jika yang Maha kuasa telah memberi hidayah padanya, seperti pada seorang gitaris band Thrash Metal Indonesia ini (Ex Betrayer)

Kehidupan Derry Sulaiman berubah drastis. Setelah menjelma menjadi seorang pendakwah, dan penyanyi religi. Seperti apa kisahnya?

Dikisahkan, Derry memutuskan hengkang sebagai gitaris Betrayer pada 1998. Pria bernama asli Deri Guswan Pramona itu kemudian hijrah ke Bali untuk meningkatkan kariernya.

“Saya niatnya mau bikin band yang lebih dahsyat lagi, yang lebih gila. Karena di Jakarta kan nggak sebebas Bali. Saya pengen jadi ‘orang gila’, pengen hidup bebas, jauh dari aturan-aturan. Namanya underground itu kan pemberontakan jiwanya,” kenangnya.

Setelah menetap di Bali, Derry bersama teman-temanya lalu membentuk band metal ‘Born by Mistake’. Usai merampungkan sebuah album, ia pun memberitahukan seniornya Irfan Sembiring yang merupakan pendiri band trash metal legendaris, Rotor.

Namun bukannya mendapat pujian, Derry justru sangat terperangah dengan jawaban sang senior. Bukannya dipuji atau diberi dorongan, Derry malah disuruh bertobat, dan mendekatkan diri ke Tuhan.

“Dia (Irfan) suruh saya ke masjid. Katanya, dunia ini nggak lama, hanya sementara. Jangan gaul sama ahli dunia terus. Saya jadi nggak nyambung. Kenapa Bang Irfan yang saya tahu dulu orangnya metal, brutal, tiba-tiba berubah ngomong agama. Ini ada apa?” kisahnya.

Semenjak diceramahi Irfan, pria kelahiran Saniangbaka, Sumatera Barat, 1 Agustus 1978 itu hidup dalam kegalauan. Namun sejak itu pula, ia mulai memikirkan tentang tujuannya hidup.

Sejak memutuskan untuk ‘bertobat’ dari hidupnya yang urakan, Derry Sulaiman aktif menjadi pendakwah. Mantan gitaris band metal Betrayer itu pun mengaku punya banyak pengalaman pahit.”Berdakwah itu nggak gampang. Tantangannya sangat berat,” ungkap Derry di Masjid Madani, daerah Antapani, Bandung, Jawa Barat.
Dikisahkan pria yang mengenakan gamis warna cokelat dan sorban hijau muda itu, dirinya selama ini menetap di daerah Kuta, Bali. Ia pun aktif berdakwah dari pintu ke pintu, ke luar kota, bahkan hingga ke manca negara.

Di Bali, Derry juga aktif berdakwah ke berbagai diskotek dan kelab malam. Meski kedengarannya cukup ekstrem, sosok kelahiran Saniangbaka, Sumatera Barat, 1 Agustus 1979 punya alasan sendiri.

“Dakwah ini kan bukan hanya di masjid saja. Kalau dakwah di masjid saja sih, gampang,” ujar anak kedua dari lima bersaudara yang pernah belajar dakwah secara khusus ke India, Pakistan, dan Bangladesh tersebut.

Kata Derry, banyak pengalaman pahit yang dialaminya saat berdakwah ke berbagai tempat. “Diejek orang, diusir, dibilang sok alim, sok nabi, digeledah, dibilang teroris. Macam-macamlah. Orang-orang yang nggak suka banyak,” sahutnya.

Derry juga mengisahkan, dirinya pernah mengajak Sunu vokalis band Matta berdakwah ke tukang tempe di daerah Bandung. Namun sayang, ucapan mereka berdua kala itu sama sekali tak digubris

“Sunu kan tahu sendiri, artis. Siapa yang nggak kenal dia kan? Kita datang ke tukang tempe, itu kita ngomong nggak diliat. Dia tahu itu Sunu, artis yang datang. Tapi ketika urusan dakwah, orang nggak suka,” ucapnya.

Meski sering dapat perlakuan tak menyenangkan saat berdakwah, Derry tetap tegar. “Rasullullah SAW itu manusia terindah wajahnya, termulia akhlaknya. Keringatnya bau kasturi. Tapi itu saja dilempar batu ketika dakwah. Gimana kita?” ujarnya retoris.

Dikatakan Derry, semakin berat tantangan yang dihadapinya saat berdakwah, dirinya semakin yakin apa yang dilakukannya benar. Hal itulah yang membuat pelantun ‘Dunia Sementara Akhirat Selamanya’ itu teguh bak batu karang.

“Semakin tantangan itu berat, semakin besar iman yang masuk. Saya semakin merasa memiliki agama. Semakin banyak orang yang menentang nggak suka, semakin saya yakin ini benar,” tandasnya sosok yang memelihara jenggot itu.

  1. Yuke Semeru, MA (GONG 2000)
Yuke Semeru, MA (GONG 2000)
Yuke Semeru, MA (GONG 2000)

Kisah Hijrah Yuke Sumeru, dari Musisi Rock Menjadi Hafidz Qur’an

Siapa anak muda pecinta musik Rock Indonesia yang tidak mengetahui Gong 2000? Band yang digawangi oleh Ian Antono dan Ahmad Albar itu merupakan salah satu legenda musik rock di Indonesia.

Namun, hingar bingar musik rock itu akhirnya menjadi tidak berarti bagi mantan pemain bas Gong 2000, Yuke Sumeru. Kini kehidupan Yuke bertolak-belakang dengan masa lalunya yang kental dengan hingar-bingar rock. Ia kini telah menjadi seorang hafidz (penghafal) Al-Qur’an. Kehidupannya berubah drastis setelah meninggalkan musik dan menekuni agama.

Yuke juga membuktikan keseriusan hijrahnya dengan kembali bersekolah. Kesuksesan bermusik dan umur yang telah lanjut tidak lantas mematahkan semangatnya. Selama tujuh tahun kuliah iapun menuntaskan gelar Master of Al Qur’an (MA) di sebuah Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur’an di Jakarta. Demi cintanya pada agama dan ilmu al-Quran, ia harus membatasi pergaulan dengan teman-temanya di masa lalu. “Saya harus mengganti nomor telpon saya, agar teman-teman musisi tidak bisa menghubungi saya. Saya sadar untuk berubah saya juga harus mengkondusifkan lingkungan pergaulan saya,” jelasnya lagi.

Kini jalan dakwah sudah menjadi pilihannya. Lelaki yang memiliki sebuah usaha bisnis show room modifikasi mobil ini juga menolak menerima bayaran dari setiap aktivitas dakwahnya. Ia mengkritik sikap banyak da’i ditelevisi yang suka memasang tarif mahal dan berlagak seperti artis. Keresahannya itu juga membuat dia justru fokus pada dakwah di daerah kemiskinan.

4. Sunu ‘matta band’

mus4barangkali anda masih ingat dengan lirik lagu berikut ini,

O..oo..kamu ketahuan…pacaran lagi dengan dirinya teman baikku…..

Lagu hits di tahun 2008 itu dinyanyikan oleh vokalis Matta Band yang bernama lengkap Sunu Hermaen asal Bandung. Sejak umur 3 tahun ia sudah gemar bernyanyi dan saat bernyanyi, sang paman sering mengirinya dengan petikan gitar.

Vokalis ini merupakan anak dari seorang kontraktor yang pernah menangani beberapa proyek perusahaan besar. Terlahir dari keluarga yang menyukai musik, membuatnya mudah untuk mendapatkan dukungan dari keluarga untuk terjun ke industri hiburan. Sejak pertama kali lagu Ketahuan mulai diputar di stasiun televisi, Matta Band, makin dikenali publik. Banyak anak muda yang menyukai lagu dengan lirik yang mudah diingat itu.

Popularitas yang diraihnya ternyata hanya membahagiakan dirinya secara lahiriah, sebagai anak band, Sunu mengaku pernah terjerumus ke dalam pergaulan yang tidak baik, mulai dari suka ke klub malam, hingga perbuatan yang mengarah ke hal-hal maksiat. “Kalau dicari, kebahagiaan dari popularitas, uang, pangkat atau jabatan pernah saya rasakan semua. Saya pernah populer dan punya banyak uang waktu itu. Kehidupan pun berubah, saya suka ikut party (pesta),” kata Sunu.

Namun kegiatan hura-hura yang pernah dilakukan, sedikitpun tidak pernah membahagiakan batinnya. Meskipun secara kasat Mata ia terlihat bahagia dengan apa yang telah diraihnya namun kesenangan semu itu tidak mampu menentramkan hati seperti yang telah ia alami saat ini, setelah melakukan hijrah (pindah dari hal yang tidak baik kepada hal yang baik, red). “Anehnya, party di mana-mana, tapi saya tidak bahagia. Malah ketika benar-benar masuk dan mendalami agama ini saya dapat ketenangan batin,” lanjutnya.

Boleh jadi inilah yang dimaksud oleh Syeikh Ibnu Athaillah dalam Al Hikam, sebagaimana yang ia tuliskan bahwa adakalanya seorang hamba Allah terjerumus dalam maksiat agar ia mengerti bahwa ia telah bersalah kemudian segera bertaubat, karena jika manusia ditakdirkan tidak pernah bersalah boleh jadi ia akan menjadi makhluk Allah yang sombong.

Pria yang pernah mengenyam pendidikan di Unpad ini, mengaku bahwa ia mulai mendapatkan hidayah ketika suka nongkrong di mesjid, “Awalnya nongkrong di mesjid, alhamdulillah lingkungan di sana banyak menyebutkan kebesaran Allah dan Rasulullah, hati saya merasa tergugah, di situ saya merasa sadar kalau selama ini saya salah,” tutur vokalis ini.

Untuk menambah wawasan agamanya ia banyak membaca buku tentang Islam dan mendengarkan ceramah. Bahkan Sunu pernah mengikuti kegiatan jaulah (perjalanan dakwah) ke Pakistan sekaligus menuntut ilmu. Sejak 2010, Sunu sudah mengkuti pengajian Jama’ah Tabligh, bersama Reza “Noah” hanya saja ia tidak meninggalkan aktivitas bermusik seperti yang dilakukan oleh sakti SO7 dan Reza.

Sunu menganggap bahwa dunia hiburan merupakan ladang dakwah baginya, “Saya bisa dakwah di kalangan artis. Khususnya pemain band. Pemain band tahu sendiri kan, orang lihatnya pasti negatif aja,” kata Sunu. Kini pria kelahiran Bandung, 22 Nopember 1980 ini aktif membawakan lagu-lagu religi bersama, Rey Nine Ball dengan nama Medina dan pernah mengajak Umi Pipik untuk turut bernyanyi pada lagu Innallaha Ma’ana.

Group vocal yang identik dengan lagu-lagu religi ini, kerap mendapat tawaran untuk manggung sekaligus berdakwah, namun Sunu tidak menganggap bahwa hal itu adalah sebuah penyampaian ceramah, apalagi menggurui, “Memang sejak saya tampil di Madina Trans 7, saya banyak datang tawaran untuk ceramah, karena saya bukan seoarang ustadz dan saya juga nggak mau dipanggil ustadz, saya pengen tetep dipanggil Sunu Matta Band. Bahkan tawaran ceramah pun saya tolak.” Pungkas Sunu.

Meskipun penampilannya sudah berubah seperti seorang dai, namun ia tidak mau dipanggil sebagai seorang ustad, “Saya bukan ustadz, setelah saya berubah, saya lebih banyak bawakan lagu-lagu religi, tapi saya nyanyi sambil berdakwah saya nggak terlalu paham dengan agama, ilmu agama saya belum cukup untuk memberikan tausiah.” ujar Sunu.

Sunu tidak pernah berpikir bahwa perubahannya yang berbalik 180 derajat telah mencerminkan kedalaman ilmu agamanya, ia masih terus mempelajari Islam dengan membaca buku-buku agama Islam serta mengikuti pengajian bersama teman-temannya, seperti Reza, mantan drummer band Noah, Hengky Tornado, Sakti Shiela On 7 dan sederet artis lainnya setiap Kamis di Mesjid Kebun Jeruk, Keluaran Maphar, Kecamatan Tamansari, Jakarta Barat. Mesjid ini sering diramaikan oleh komunitas Jamaah Tablig yang dikenal karena aktivitas khuruj atau jaulah ke berbagai daerah bahkan sampai ke mancanegara.

Perubahan gaya berpakaian Sunu merupakan wujud dari kekagumannya kepada Rasulullah, ia mengaku bahwa ia ingin mengikuti cara berpakaian beliau. Sedangkan sebelum berhijrah, ia sangat mengagumi band rock barat, Muse dan Incubus. “Dulu Muse dan Incubus saya idolakan banget. Mulai dari gaya pakaian hingga gaya hidupnya yang suka pesta saya ikuti. Sekarang saya mengidolakan Nabi Muhammad SAW, kalau Muse dan Incubus hanya saya jadikan referensi untuk lagu saya,” terang Sunu.

Meskipun telah menampakkan perubahan pada gaya berpakaiannya, namun anak band ini tidak meninggalkan aktivitas bernyanyi yang telah di gemarinya sedari kecil. Sunu kini lebih condong membawakan lagu-lagu religi, “Ada kenikmatan saat membawakan lagu-lagu religi. Di situ, saya jadi tidak sekadar menyanyi tapi juga berupaya berdakwah. Salah satu lagu religi yang sering saya bawakan yakni berjudul, Dunia Sementara Akhirat Selamanya. Memang belakangan banyak undangan ke saya untuk berceramah. Untuk itu saya perlu memperbanyak ilmu agama dulu,” jelas Sunu. (fh)

5. Ray Nineball

mus5Ray Shareza seorang vokalis dari Group Band Nineball, terlihat berubah dari aspek penampilan luar. Namun perubahan yang dilakukannya tidak terlepas dari pengalaman spiritual yang erat hubungannya dengan hidayah Allah yang masuk ke dalam hatinya pada bulan suci Ramadhan.

Pelantun lagu Hingga Akhir Waktu ini, mengawali karir musik di group band Nineball yang resmi berdiri pada tanggal 9 September 2000. Nineball memulai kariernya dari menyanyi di kafe dan event-event, lagu Nineball yang menjadi hits adalah lagu yang berjudul Hingga Akhir Waktu yang di putar pertama kali di stasiun televisi Indonesia pada 2008.

Ray mengaku bahwa ketika kuliah di Jakarta, kehidupannya seperti kembali lagi ke zaman jahiliyah. Padahal menurutnya, ketika masih duduk di bangku SMA ia sering menghadiri Tablig Akbar. Namun karena hidayah belum lekat di hatinya, godaan untuk terjun ke kehidupan yang gemerlap pun mudah ia lakukan. “Pas kelas 1 SMA tahun 1996 saya sering duduk dalam satu majelis Tablig Akbar, ini tausiahnya enak, kok nyaman, tapi itu hanya berlangsung 3 tahun kemudian lulus SMA saya kuliah di Jakarta tertarik lagi pada kehidupan jahiliyah kurang lebih 6 tahun,” ujarnya.

Ray mengaku bahwa ia tidak menduga dapat berubah seperti sekarang ini, hatinya mulai terketuk dan terbuka ketika melakukan iktikaf pada bulan suci Ramadhan di masjid yang berada di dalam pesantren Darut Tauhid, Bandung. “Kok Allah kasih saya hidayah padahal saya bukan orang baik, oh mungkin ini doa ibu saya. Saya yakin diantara doanya ia mendoakan saya,” cerita Ray.

Menurutnya, doa ibunya dikabulkan Allah sehingga hatinya terbuka menerima hidayah. Ia pun menyadari bahwa kalau hanya untuk mengerti ilmu agama tanpa dibukakan pintu hidayah maka itu tidak akan membekas pada perilaku kita. Bagi Ray, peran seorang ibu dalam pertumbuhan fisik anaknya sangatlah penting, namun pada sisi lain seorang ibu berharap agar anaknya menjadi baik di hadapan Allah, di sinilah ia menyadari bahwa perubahan besar yang dialaminya saat ini tidak terlepas dari seorang wanita yang telah melahirkannya.

Keseharian Ray saat ini, lebih banyak diisi dengan berdakwah, namun sejak mengikuti Jemaah Tablig, vokalis ini berpendapat bahwa dakwah yang baik itu adalah dakwah untuk memperbaiki diri. “Saya lebih senang dakwah islahiyah, maksudnya dakwah untuk memperbaiki diri sendiri, bukan ceramah sembarangan menggurui orang tetapi saya ceramah tentang kebesaran Allah dan perjuangan Rasulullah dan para sahabat, itu otomatis membuat saya ingin melakukan hal itu (meniru Rasulullah SAW dan para sahabatnya),” ungkap Ray.

Pada awal hijrahnya, Ray yang hendak khuruj (keluar rumah untuk berdakwah), harus dihadapkan dengan persoalan dilematis. Saat itu sang isteri sedang hamil tua dan mendekati persalinan. Ray sempat bimbang untuk mengambil keputusan apakah ia harus ikut berdakwah bersama jemaah atau menemani persalinan istrinya di rumah sakit? Dihadapkan dengan persoalan yang dilematis ini, maka ia pun akhirnya mantab mengambil keputusan untuk tetap berdakwah.

Saat hendak menyampaikan keinginannya untuk khuruj, tanpa ia duga sang istri pun merestui namun ia menginginkan agar Ray menemaninya ketika berlangsungnya proses persalinan. “Saya ingat kata ustadz saya bahwa amal baik kamu buat, maka keputusan baik turun dari langit, amal buruk kamu buat maka keputusan buruk turun dari langit. Ketika Rasulullah isra’ beliau melihat cahaya dari bumi naik ke langit kemudian dijelaskan oleh malaikat bahwa itu adalah amal baik seseorang,” ungkap Ray.

Dengan kalimat-kalimat tersebutlah, akhirnya Ray yakin bahwa akan ada pertolongan dari Allah jika kita berbuat baik (amal saleh) karena Allah. Tatkala istrinya hendak melahirkan, tiba-tiba Ray diberi kemudahan untuk dapat menemani istrinya selama proses persalinan berlangsung. “Saat itu saya lagi khuruj, kemudian dapat telepon, istri saya mau melahirkan. Nah saya bilang sama amir (pemimpin) jamaah, akhirnya dia ngizinkan dan saya bisa nemenin istri, inilah pertolongan Allah menurut saya,” cerita Ray.

Meskipun Ray telah melakukan hijrah, namun ia tidak meninggalkan profesi lamanya. Sampai sekarang masih tetap menjalani pekerjaan sebagai musisi dan itu pun dijadikannya sebagai ladang dakwah, “Pernah dong kepikiran. Waktu itu, aku lagi senang-senangnya belajar agama, terus terpikir untuk kayaknya saya berhenti deh dari dunia entertain. Cuma waktu itu banyak masukan, terutama dari guru-guru, dari ustadz-ustadz juga. Mereka bilang seandainya saya berhenti dari dunia entertain, terus siapa yang akan berusaha mengingatkan teman-teman lain yang ada di dunia entertain?,” pungkasnya. (aw)

bersambung

3 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.