Para Tunanetra ini Tetap Tadarus Berkat Alquran Braile

0
665

Beritalangitan.com  Para muslim penyandang tunanetra di Medan, Sumatera Utara, tak mau kalah dengan mereka yang terlahir normal. Para penyandang disabilitas itu bertekad tetap bertadarus (membaca Alquran secara bersama-sama dalam bulan puasa) meski dengan keterbatasan selama Ramadan tahun 2016.

Para tunanetra anggota Persatuan Tunanetra Indonesia Sumatera Utara (Pertuni Sumut) itu tentu tidak membaca Alquran dengan kitab pada umumnya. Mereka membaca Alquran khusus dengan huruf-huruf braile.

Mereka bertadarus Alquran di kantor Pertuni Sumut di Jalan Sampul, Kota Medan, sekali seminggu selama Ramadan. Waktunya ditentukan dari pukul sepuluh sampai dua belas siang atau sebelum waktu salat zuhur.

Sebenarnya ada 120 orang yang sudah bisa membaca Alquran Braile tetapi baru 40 di antaranya yang hadir. Mereka sesungguhnya sangat antusias mengikuti tadarus itu namun tidak sedikit mereka yang berhalangan karena keterbatasan biaya transportasi dari rumah ke kantor Pertuni.

Dalam tadarus itu mereka juga dibimbing seorang guru mengngaji yang juga tunanetra. Seperti anggota lain, dia juga menyimak dan mengoreksi bacaan peserta. Ada dua ruangan yang digunakan untuk tadarus Alquran. Selain ruang tengah, para anggota Pertuni juga menggunakan mushola yang terletak di bagian belakang. Pengurus sengaja membagi lokasi tadarus agar semua peserta mendapat bagian untuk mengaji.

Ketua Pertuni Sumut, Khairul Batubara, menjelaskan bahwa selain tadarus, para penyandang tunanetra itu juga menyatakan rutin membaca Alquran di rumah masing-masing. “Kita juga ada program satu juz satu hari. Ada tiga puluh delapan anggota yang mengikuti program ini,”  pada Kamis, 9 Juni 2016.

Pertuni Sumut juga menggelar pengajian, sedekah, dan berbuka bersama. “Kalau khataman Alquran biasanya setiap 17 Ramadan. Juga akan ada halalbihalal setelah Idul Fitri,” katanya.

Seorang anggota Pertuni Sumut, Jenny Heryani (52 tahun), tampak khusyuk melantunkan ayat-ayat suci Alquran. Jemarinya terus bergerak meraba huruf braille yang tersusun sebagai ayat suci.

“Kami memang tadarus di sini setiap hari Kamis. Ini sudah kegiatan tahunan Pertuni Sumut,” ujarnya.

Jenny Heryani mengatakan, tadarus yang rutin dia ikut setiap pekan itu bertujuan untuk melancarkan mengajinya meski mengalami keterbatasan penglihatan. Dia tidak patah semangat untuk mengaji dan mengamalkan Alquran. (st)

 

Sumber : viva.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.