Pelajaran Rumah Tangga dari Nabi Ibrahim

0
851

Beritalangitan.com – Renta sudah usianya. Bertahun-tahun lamanya beliau menanti sesosok kecil yang akan memanggilnya ‘Ayah!’. Berwaktu-waktu sudah, harapan pada-Nya untuk dititipkan sang pewaris beliau pegang kuat-kuat. Hingga di suatu waktu, buah dari kesabaran dan baik sangkanya kepada Sang Pencipta akhirnya tertuai dengan kelahiran Nabi Ismail.

Kira-kira, apa yang dirasakannya saat itu? Tentu bahagia dan syukur tak terperi dirasakan hatinya. Namun apa yang terjadi, jika tak lama setelah itu, seorang ayah yang sangat merindu dan sangat cinta kepada anaknya diperintahkan untuk meninggalkan si kecil dan sang istri tercinta di sebuah lahan kering tak bertanaman sama sekali? Diperintahkan untuk berpisah tanpa ada kepastian kapan akan berjumpa lagi. Ringankah itu bagi Ibrahim?

Tentu saja jawabannya pun ‘Tidak’.

Bahkan ketika Nabi Ibrahim as. meninggalkan Siti Hajar dan  anak tercinta di tempat itu, bertanyalah dirinya pada Ibrahim sambil menarik tali kekang unta, ‘Wahai, kenapa engkau tinggalkan kami disini?’. Tentu saja, ini adalah sebuah pertanyaan manusiawi sang istri yang secara fitrah membutuhkan perlindungan, terlebih ketika sedang menggendong sang buah hati.

Karena itu, Siti Hajar mengulang pertanyaan sampai 3x banyaknya, di mana setiap pertanyaan yang diulang selalu membuat Nabi Ibrahim membatu menahan tangisnya. Sampai akhirnya, pahamlah Siti Hajar sampai bertanya ‘Apakah Allah yang perintahkan ini padamu?’, maka Ibrahim memandang langit dan menjawab ‘Allah’ dengan suara perlahan. Siti Hajar pun menjawab, ‘Allah takkan sia-siakan kami, engkau berangkatlah’.

Apakah hal ini ringan bagi Ibrahim dan Hajar?

Tentu saja jawabannya ‘Tidak’.

Terkadang, terbesit dalam benak kita, bahwa yang namanya ikhlas berarti sesuatu yang ringan untuk dilakukan, ringan seolah tak ada beban sama sekali. Namun, tentu saja kita pun memahami, sebagai yang berjuluk ‘Bapak Para Nabi’, sebagai seseorang yang namanya selalu terprasasti dalam setiap duduk tasyahud, Ibrahim adalah sosok yang sangat ikhlas.

Dari sini kita bisa belajar tentang keikhlasan berumahtangga, bahwa ikhlas adalah ketika dalam keadaan berat ataupun ringan, tugas kita adalah patuh dan menjalankan perintahNya. Mungkin akan ada episode kehidupan, di mana suami tampak tak layak diikuti, di sinilah keikhlasan istri berperan, sepanjang apa yang suami perintah bukan maksiat.

Mungkin akan ada episode kehidupan, di mana istri tampak tak layak dilindungi, sudah dinasehati bermacam cara namun tak juga mengikuti. Di sinilah keikhlasan suami berperan, untuk senantiasa melindungi istri dan anak dari api neraka. Untuk senantiasa membimbing, hadir, dan dekat dengannya, tak hanya memberi nafkah dan menjaga raganya namun juga menjaga jiwanya.

Memasuki pernikahan, berarti akan membuat kita merasakan bermacam pelangi rasa kehidupan. Di sinilah keikhlasan kita kan diuji, di sinilah hati kita digoda, oleh berbagai macam bisikan setan yang bersuara di antara kedua telinga. Semoga, saya, Anda, dan kita semua senantiasa mampu menjalankan pernikahan kita sebaiknya-baiknya.

Sumber : muslimahzone.com

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.