Sebaik – baik Pengingat adalah Kematian

0
1650
WeCroak, sebuah aplikasi yang mengirimkan notifikasi ke Smartphone penggunanya bahwa dia bisa mati kapan saja dan di mana saja

Oleh: Musa Sulthon Sibghotulloh

Bismillahirrohmanirrohim,
Assalamualaykum warahmatullohi wabarokatu,

Segala puji kita panjatkan kepada Allah SWT azza wa jalla yang senantiasa selalu berada di dekat kita, menjaga kita, menghijab kita dari segala keburukan adab, kemunduran akhlak, ketertinggalan ilmu, minimnya amal, serta ketidak bermanfaatan bagi Umat. Semoga segala aktifitas kita semua tak pernah luput dari penglihatan dan pengawasan Allah SWT azza wa jalla dalam mensyukuri setiap nikmat-Nya dan bersabar atas setiap ujian-Nya.

Sholawat serta salam terbaik kita persembahkan kepada Kekasih Allah, Suri Tauladan kita, Manusia terbaik yang pernah Allah ciptakan, Guru dari segala ilmu dunia dan akhirat, Yang Mulia Baginda Rasulullah Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam. Juga Do’a serta salam terbaik untuk Istrinya, Para Sahabat yang Mulia, Keturunannya, Kepada Para Ulama, juga Para Pimpinan kita, semoga Allah selalu teguhkan hati mereka tetap tegar di atas Tauhid, dijadikannya setiap hembusan nafasnya serta napak tilas perjuangannya menjadi Amal Jariyah bagi mereka dalam misi perjuangan menegakan Dienul Islam dengan sebaik-baiknya ganjaran tempat terbaik di sisi-Nya, yaitu Surga Firdaus.

Kita buka tulisan ini dengan sebuah penggalan ayat dari QS. Al-Ankabut (29) : 57, yang berbunyi “Kullu nafsii Dzaaiqotulmaut…” Setiap yang bernyawa akan merasakan kematian. Dengan mendengar ayat tersebut hati ini begitu terkoyak, sontak menjerit-jerit, takut bukan kepalang. Dalam pikiran bertanya-tanya, “Sudah cukupkah bekal yang akan kita bawa dalam perjalanan panjang kelak di akhirat?”, “Termasuk golongan orang-orang yang akan mendapatkan pertolongan Rasulullah-kah kelak di Telaga Kautsar?”, “Akankah kita menjadi bagian dari kaum yang meminta dihidupkan kembali untuk bersedekah sebanyak-banyaknya?”. Dalam QS. Al-Mu’minuun (23) : 99-100, Allah berkata “(Demikian keadaan orang-orang kafir itu), hingga apabila datang kematian kepada seseorang dari mereka, dia berkata, “Ya Tuhanku, kembalikanlah aku (ke dunia), agar aku dapat berbuat kebajikan yang telah aku tinggalkan.” Sekali-kali tidak! Sungguh itu dalih yang diucapkannya saja…” Nau’dzubillah tsumma na’udzubillah.

Prolog diatas seyogyanya bagi kita yang memiliki peran di dunia hanya sekedar menjadi makhluk, yang kecil, yang dhoif, yang tidak tahu apa-apa, yang imanya lebih sering futur, yang penyakit hatinya sudah menjalar sampai ke urat nadi. Bergetarlah hati kita, menagis terisak-isaklah kita, karena kematian adalah hak Allah, ketentuan Allah. Hendak lari kemana kita, hendak bersembunyi dimana kita. Seperti yang tertera dalam QS. Al-Ahzab (33) : 16, disebutkan “Katakanlah (Muhammad), Lari tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika demikian (kamu terhindar dari kematian) kamu hanya akan mengecap kesenangan sebentar saja.” Allah SWT azza wa jalla, sungguh sangat mencintai makhluknya, wujud cinta-Nya Allah tuangkan dalam Kalam Illahi, sedikit demi sedikit Allah wahyukan kepada Sang Kekasih Hati, ayat demi ayat, tragedi demi tragedi, berangsur-angsur setiap perkara Allah sertakan pelajaran dan kisah didalamnya untuk kita sebagai makhluk mengambil ibroh yang ada didalamnya.

Wahai Manusia, cukup sudahlah cukup. Taubatlah, bersegeralah minta ampun kepada Allah. Takutlah, bergegegas meminta perlindungan kepada Allah. Tawakal-lah, serahkan segera urusan kepada Allah. Belum cukup puaskah kita dengan urusan Dunia? Belum selesaikah kita dengan urusan Dunia? Abu Hurairah r.a meriwayatkan, “Rasulullah SAW bersabda: “Perbanyaklah mengingat pemutus kelezatan, yaitu Kematian.” (HR. Tirmidzi). Ditengah hiruk-pikuk dunia yang semakin memperbudak kita, Allah sangat menganjurkan kita untuk selalu mengingat kematian. Coba kita rehat sejenak, ambil nafas, inhale exhale, renungkan dalam-dalam, kelak suatu saat memang sudah waktunya giliran kita, Allah akan memanggil kita dalam keadaan membenci kita atau merindukan kita. Kita terlalu sibuk dalam mempersiapkan kita akan menjadi apa di dunia ini, tapi kita lupa memikirkan dan mempersipakan kelak kita akan mati dalam keadaan seperti apa. Dalam QS. Ali Imran (3) : 102, Allah berfirman, “Wahai orang-orang beriman! Bertakwalah dalam kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan Muslim.”

Allah karuniakan Jantung dalam tubuh kita untuk berdetak 4800 kali per detik, 288.000 kali per jam, 6.912.000 kali per hari. Lalu apa yang akan terjadi jika derap jantung kita berhenti seketika? Akankah kematian melihat Si Muda & Si Tua, atau bahkan Si Kaya & Si Cukup. Tidak saudaraku. “Dan setiap umat mempunyai ajal (batas waktu). Apabila ajalnya tiba, mereka tidak dapat meminta penundaan atau percepatan sesaat pun.” QS. Al-A’raf (7) : 34. Sadarkah kita karena pada hakikatnya kita ini melakukan siklus yang sama, untuk beristirahat di malam hari dan terbangun di pagi hari adalah sebuah cara kita masing-masing dalam menyongsong jalan kematian. Bermuhasabahlah setiap saat, bersimpuhlah memohon taubat, berdzikirlah dalam setiap ucap untuk kita belajar taat, karena ajal akan datang begitu cepat, datang kepada orang yang tepat, beribrohlah dari Raja Namrud yang matinya hanya tersengat, atau Fir’aun yang dilahap air dengan begitu cepat, hingga taubat sampai tenggorakan pun tak sempat.

Jarak dari derap tawa, haru bahagia, limpahan do’a dari Orang Tua menyambut kelahiran kita terasa begitu dekat dengan jika bayangkan suatu saat nanti, linangan air mata, tangis bertumpah ruah, ucapan duka dimana-mana akan mengalir deras mengiringi kepergian kita. Rasanya baru kemarin “Allah mengeluarkan kita dalam Sulbi, dan Allah jugalah yang mengambil persaksian terhadap kita, (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul. (Engkau Tuhan kami), Kami Bersaksi!…” (QS. Al-A’raf (7) : 172). Dalam sebuah syair pernah disebutkan, jika kita memiliki kesempatan untuk lari dari 100 pintu kematian, dan kita berhasil lolos hingga pintu ke-99, namun kita tidak akan pernah dapat lolos dari pintu terkahir tersebut, yaitu menjadi tua. Karena usia tua tidak dijanjikan kepada siapapun di dunia ini.

Jazzakumullah khoiron katsiro.
Wassalamualaykum warahmatullohi wabarokatu.

Ahad, 5 Sya’ban 1441H/29 Maret 2020

Amal Jariyah Abah,

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.