Bahagia Itu Menerima

0
1295
Ustadz Kemal Faisal Ferik.

Oleh: Ust. Kemal Faisal Ferik (Pengasuh Majlis Komunitas Cinta Ilahi)

Beritalangitan.com – Alkisah, suatu ketika serombongan orang  masuk menemui Rasululah SAW kemudian Rasululah SAW pun bertanya kepada mereka, “Siapakah kalian ini?”, mereka terdiam sejenak kemudian menjawab, “Kami ini orang-orang beriman  yaa Rasulullah !, Rasululah SAW pun bertanya kembali, “Apa yang menjadi ciri atau bukti kalian sebagai orang beriman ? maka mereka pun menjawab, “bukti kami beriman adalah bahasawanya kami senantiasa bersyukur ketika kami dalam keadaan lapang, kami senantiasa bersabar jika kami berada dalam kehidupan yang  sulit dan kami selalu bersikap menerima dengan taqdir yang Allah tetapkan kepada kami. Rasululah SAW pun berkata kepada orang-orang tersebut , “Demi Allah Tuhannya ka’bah,  kalian memang orang-orang yang beriman”. (Dikutip dari kitab Ihya Ulumudin karya Abu Hamid Al Ghozali rahimahullah, hadits yang diriwayatkan oleh Imam Thobroni dalam Jami Al Ausath sebagaimana penjelasan Al muhadits, Al hafizh , al iraqi)

Iman artinya percaya dan bukti bahwa kita percaya dengan keberadaan Allah adalah memiliki sikap menerima dengan apa yang Allah taqdirkan kepada kita. Ciri kita percaya dengan sifat kemurahan Allah adalah kita senantiasa menerima dengan setiap episode kehidupan yang sudah digariskan oleh yang maha kuasa. Pengakuan keimanan kita kepada Allah tidaklah cukup terlontar dari mulut saja sebagaimana sikap Rasululah SAW kepada para sahabat. Pengakuan keimanan itu harus terwujud dengan sikap kita dalam kehidupan sehari-hari. Sikap menerima merupakan salah satu bukti perwujudan atas nilai-nilai iman yang ada dalam dada kita.

Dalam bahasa agama,  biasanya sikap menerima itu diistilahkan dengan dua kata yaitu ridho dan qonaah. Pakar bahasa, Ibnu faris dalam Mu’jam maqoyis al lughoh menjelaskan bahwa “…jika seseorang ridho maka disebut dengan istilah qonaah karena dia menerima sesuatu dengan keridhoaan”. Ibnu manzdur  dalam lisanul arob menerangkan “.. sebagain para ahli bahasa mengatakan ‘.. orang yang ridho disebut orang yang qonaah dan demikian pula orang yang qonaah disebut orang yang ridho..”. Pendek kata, orang yang memiliki sikap menerima itu adalah orang yang ridho dan orang yang qonaah.

Orang-orang  yang memiliki sikap menerima akan mendapat tempat yang utama di sisi Allah SWT kelak di akhirat. Keridhoan kita kepada Allah akan menjadi sebab terbukanya pintu  keridhoan Allah kepada kita. Allah SWT berfirman

“…Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah surga Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya…” QS Al Bayyinah ayat 8.

Rasululah SAW menegaskan “sungguh berbahagialah  orang-orang yang diberikan nikmat islam kemudian diberikan rejeki yang cukup dan dia bersikap menerima dengan apa yang Allah berikan kepadanya. HR Muslim dan Tirmizdi.

Sikap menerima dengan aspek kesehatan fisik

Seorang dokter spesialis bedah pencernaan yaitu  Dr. Shigeo Haruyama dalam buku the Miracle of Endorphin menjelaskan bahwa ketika seseorang bersikap tidak menerima atau marah dengan kejadian yang dialaminya maka tubuh akan meresponnya dengan mengeluarkan hormone adrenalin dan noradrenalin. Jika sikap ini dipertahankan maka hormon adrenalin dan noradrenalin akan diproduksi secara berlebihan sehingga menjadi racun alami bagi tubuh. Saking berbahayanya, daya racunnya berada di urutan kedua setelah racun bisa ular. Bayangkan jika selama ini kita memelihara sikap tidak menerima maka selama ini kita terus meracuni diri kita sendiri. Maka buanglah jauh-jauh dari hati kata-kata “saya tidak terima, saya tidak akan memamafkannya, saya tidak ridho dan lain sebagainya!”.

Sebaliknya jika seseorang berkata dalam hatinya “saya menerima” maka tubuh akan merespon dengan menghasilkan hormon-hormon yang dapat menghasilkan perasaan nyaman, tenang dan rasa bahagia yang disebut dengan hormon endorphin. Mekanisme kerja hormone ini mirip dengan morfin bahkan lebih bagus dari morfin.Oleh sebab itu hormone ini disebut hormone endhorfin yang berarti morfin yang diciptakan dari dalam tubuh. Dr. Shigeo Haruyama menyebut hormone ini dengan sebutan hormone kebahagiaan.

Hormon kebahagiaan ini memiliki dampak positif yang amat banyak pada tubuh. Diantarnya seperti memperlancar sirkulasi darah, mencegah penuaan dini,  meningkatkan kekebalan, memperpanjang usia dan masih banyak lagi.

Sikap menerima dengan kesehatan jiwa

Pakar kejiwaan, kubler ross menjelaskan dari hasil penelitiannya bahwa normalnya setiap orang ketika mendapatkan hal yang tidak menyenangkan seperti kehilangan harta atau orang yang kita cintai maka ia akan melalui 5 fase secara berurutan. Jika seseorang bisa sampai ke fase terakhir maka sehatlah jiwanya. Fase tersebut yaitu fase denial (menolak), fase anger (marah dan berontak), fase bergaining (tawar menawar), fase depresi (sedih) kemudian terakhir fase acceptance (menerima).

Jika kita diuji oleh Allah SWT dengan hal-hal yang tidak kita sukai seperti kegagalan dalam berkarir, kegagalan dalam berumah tangga, perginya orang yang kita sayangi, berkurangnya omset usaha, tertipu dalam bisnis maka hadapilah dengan sikap penerimaan. Jangan terlalu lama kita berada dalam fase marah, jangan terus berdiam dalam fase sedih dan segeralah ambil sikap menerima agar kita kemudian bisa bangkit dan jaya kembali.

Sikap menerima membuat amal kita pun diterima

Rasululah SAW bersabda “barang siapa yang bersikap menerima dengan rejeki yang Allah berikan kepadanya meskipun sedikit maka Allah kelak akan ridho dengan  amal hambanya yang sedikit“. HR Abu manshur dalam Musnad Al firdaus.

Maka tidak ada pilihan bagi kita dalam hidup ini kecuali harus menjadi orang-orang yang beruntung yaitu orang yang menerima terhadap apa yang Allah tetapkan kepada kita dan kita terus berjuang mempersembahkan karya terbaik dalam hidup ini.

Semoga bermanfaat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.