Bahagia tidak diukur dengan harta

1
6275
KH. Hilmi Ahmad Hidayat S.Pd.I

Hilmi Ahmad Hidayat S.Pd.I adalah Pimpinan Pondok Pesantren Gunung Cupu Jln.Pangeran Santri No. 100 Sumedang Jawa Barat, dan  sebagai pengurus Pusdai Kab. Sumedang.  penulis adalah alumni pondok pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, Jawa Barat

Beritalangitan.com – Bahagia tidak bisa diukur dengan harta, pangkat dan segala keme­wahan duniawi. Tetapi sesungguhnya kebahagiaan itu terletak pada ke­tenangan hati seseorang.

Banyak orang yang kaya dengan harta, tetapi kekayaannya tidak mem­buat hatinya menjadi tenang, bahkan sebaliknya, kekayaan yang ia kumpulkan justru menyibukkan dirinya untuk selalu mengejar kekura­ngan, karena berapapun harta benda yang ia miliki masih saja diang­gapnya kurang. Allah berfirman :

“Bermegah-megahan (soal harta, pengikut dan seumpama­nya) telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur”. (Q.S. At-Takasur : 1-2)

Demikian kebiasaan manusia di dalam mengejar kekayaan, mempunyai satu buah mobil, ingin menjadi dua, mempunyai dua, ingin bertambah tiga, dan seterusnya.

Karena itu marilah kita berusaha dan berdo’a, agar hati kita selalu di­beri ketenangan. Sebab hanyalah di dalam hati yang tenang letak keba­hagiaan yang haqiqi. Ulama Hikmah telah berkata :

“Kaya yang sebenarnya adalah ketenangan jiwa”.

Ketenangan jiwa adalah suatu anugerah Allah yang sangat berhar­ga. Banyak orang yang merindukannya, tetapi sedikit sekali yang dapat memperolehnya. Hal ini disebabkan karena banyak umat manusia yang lupa kepada Penciptanya, lupa kepada Dzat yang memberi kebahagia­an, dan lupa tentang siapakah sebenarnya yang menciptakan ketenang­an di dalam jiwa. Allah SWt berfirman :

“Dia-lah yang telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mu’min agar keimanan mereka bertambah di-samping keimanan mereka (yang telah ada)”. (Q.S. Al-Fath : 4)

Dengan keterangan di atas kiranya dapat disimpulkan, bahwa sese­orang yang menginginkan bahagia, ingin berjiwa tenang, tetapi lupa ke­pada Penciptanya, maka segala keinginannya hanyalah sia-sia belaka.

Oleh karena itu marilah kita kejar terus kebahagiaan itu, dengan senantiasa ingat kepada Allah, karena Allah-lah Dzat yang menentukan kebahagiaan.

Berusahalah terus untuk memperoleh ketenangan dalam jiwa, yaitu dengan bertaqwa kepada Allah Dzat yang memberi ketenaran kepada siapapun yang dikehendaki-Nya. Allah berfirman dalam surat Ar Ra’du yang artinya :

“Sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya. (yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram”.

Dan Allah juga berfirman dalam surat An Nisa :

“Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul-Nya, mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, yaitu : para nabi, shiddiiqh, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang shalih. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. Yang demikian itu adalah karunia dari Allah, dan Allah cukup mengetahui”.

Demikianlah, kebahagiaan yang dicapai oleh orang-orang yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan ini adalah janji dari Allah terhadap orang-orang yang patuh kepada-Nya, bukan orang-orang yang mendurhakai kepada Tuhannya.

Cobalah kita renungkan, mana mungkin seseorang bisa memperoleh kebahagiaan jika ia mendurhakai kepada Tuhannya. Memang orang-orang yang tidak taat kepada Allah beranggapan, bahwa kebahagiaan adalah terletak pada harta yang menumpuk, tetapi anggapan seperti ini adalah keliru besar. Mereka lupa bahwa kemegahan, kedudukan, jabatan dan segala kemewahan dunia itu pasti rusak, tidak ada yang abadi.

Dunia ini hanya tempat lintasan saja dalam rangkaian perjalanan me­nuju akhirat. Allah berfirman :

“Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dari sesungguhnya akhirat itulah ne­geri yang kekal”. (Q.S. Al-Mu’minun : 39)

Rasulullah pernah bersabda :

“Untuk apakah dunia bagiku. Tidaklah aku di dunia ini me­lainkan seperti orang yang pergi berkendaraan yang ber­naung sebentar di bawah pohon, kemudian pergi lagi dan meninggalkannya”. (HR. Tirmidzi).

Bagi orang yang menyadari bahwa hidup di dunia ini hanyalah se­mentara, semestinya harus giat mencari bekal untuk persiapan dalam perjalanannya menuju akhirat yang abadi. Sebab ibarat seorang musa­fir yang akan menempuh perjalanan jauh, tentu lebih dulu harus mem­persiapkan diri dengan mengumpulkan bekal sebanyak mungkin untuk keperluan dalam perjalanannya, sehingga dengan perbekalan itu diharapkan agar dapat mencapai tujuan dengan selamat. Karena itu marilah kita siap berusaha mengumpulkan bekal untuk kehi­dupan di akhirat, dan jangan sekali-kali kehidupan dunia dengan segala kemewahannya ini menggelincirkan kita hingga lupa kepada akhirat.

Edt : aw/cg

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.