Hikmah dibalik puasa ramadhan

0
1529
KH. Hilmi Ahmad Hidayat S.Pd.I

Hilmi Ahmad Hidayat S.Pdi adalah Pimpinan Pondok Pesantren Gunung Cupu Jln.Pangeran Santri No. 100 Sumedang Jawa Barat, dan  sebagai pengurus Pusdai Kab. Sumedang.  Penulis adalah alumni pondok pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, Jawa Barat

Beritalangitan.com – Bulan Ramadhan adalan bulan yang penuh hikmah dan keberkahan diantaranya adalah Pertama, terbentuknya pribadi yang muttaqin, pribadi yang mempunyai integritas. Allah berfirman ; “ Hai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kalian bertqwa” (Q.S. Al-Baqarah:183).

Dalam ayat ini menegaskan bahwa puasa mempersiapkan jiwa orang-orang yang berpuasa untuk bertaqwa kepada Allah. Hal itu tampak terlihat dari berbagai aspek; pribadinya yang paling mulia, petunjuknya yang paling otentik, pengaruhnya yang paling menonjol, dan yang paling tinggi kedudujannya. Puasa itu diserahkan sepenuhnya kepada orang yang menjalankannya. Selama berpuasa ini yang mengawasi dirinya hanyalah Allah. Puasa merupakan rahasia yang terjaga antara seorang hamba dan Tuhannya. Tidak ada seorangpun yang mngawasinya selain Allah.

Jika seseorang telah meninggalkan hawa nafsu dan kelezatan hidupnyayang selalu ia hadapi sepanjang waktu hanya untuk mengimplementasikan perintah Allah dan tunduk kepada petunjuk-Nya, selama sebulan penuh dalam dalam waktu setahun dengan memperhatikan (ketika menghadapi makanan yang menggiurkan, minuman dingin yang menyegarkan, buah-buahan yang matang dan lain sebagainya). Bahwa seandainya tidak ada peringatan dan pengawasan Allah terhadap dirinya, agar dirinya tetap bersabar, agar tidak melahap itu semua padahal dirinya sangat menginginkan makan itu, maka pastilah dari perhatian yang selalu mengiringi setiap aktifitas yang berulang-ulang ini, dalam diri orang yang berpuasa terbentuk pengawasan Allah dan rasa malu kepada-Nya kalau Ia melihat-Nya melarangnya.

Dalam perasaan selalu diawasi (muraqobah) muncul dari kesempurnaan iman kepada Allah serta ketenggelamana dalam pengagungan (ta’zhim) dan penyucian (taqdis) Allah ini terkandung unsur penjaminan untuk meraih kebahagian akhirat. Disamping itu, perasaan selalu diawasi juga mempersiapkan diri untuk memperoleh kebahagiaan dunia.

Kedua, orang yang berpuasa akan mendapatkan kebahagiaan didunia dan akhirat serta keharuman dimata Allah. Kebahagiaan yang diterima orang yang puasa tidak hanya ketika ia berbuka setelah menahan lapar seharian tetapi juga nanti diakhirat manakala ia bertemu dengan Sang Khalik. Rasulullah pernah bersabda, “ Orang yang berpuasa itu memiliki dua kegembiraan yang ia pasti gembira menerima keduanya; ketika berbuka dan ketika bertemu Tuhannya ia bahagia karena puasanya” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Ketiga, orang yang berpuasa memiliki pintu disurga yang tidak akan dimasuki oleh orang yang tidak berpuasa. Ini sebagai penghormatan sekaligus keistimewaan yang akan diperoleh orang yang berpuasa diakhirat kelak. Diriwayatkan dari Sahl Ibnu Sa’ad dari Nabi beliau berkata; “ Sesungguhnya didalam surga itu terdapat pintu yang disebut Al-rayyan; orang yang berpuasa dapat masuk (surga) dari pintu ini pada hari kiamat, ada seruan dimana orang-orang berpuasa? Oang-orang yang berpuasa lalu berdiri, selain mereka tidak ada seorangpun yang masuk (surga) melewati pintu ini. Jika orang-orang yang berpuasa ini telah masuk, pintu ini ditutup sehingga tidak ada seorang pun yang masuk melewati pintu ini” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).

Keempat, do’a orang yang berpuasa tidak ditolak, karena itu perbanyaklah berdo’a pada saat berpuasa, mengapa do’a orang berpuasa dikabulkan saat puasa? Ini tidak lain karena pada saat berpuasa seseorang dalam keadaan bersih dan suci secara bathin sehingga mudah terhubung dengan Allah. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, katanya Rasulullah bersabda; “ Ada tiga kelompok orang  yang do’anya ditolak , yaitu orang-orang yang berpuasa ketika mereka berbuka, pemimpin yang adil, dan do;a orang yang dizalimi. Allah mengangkat do’a mereka diatas awan dan dibukakanlah pintu langit unruk do’a ini. Tuhan berfirman: ‘Demi keagungan dan kemulya’an-Ku, Aku pasti akan menolongmu walaupun sampai kapanpun”. (H.R. Ahmad, At-turmuzi dan ibnu Hibban).

Kelima, Allah memberikan ampunan kepada orang yang berpuasa atas do’a yang telah lewat, pengampunan dosa berarti peringanan beban. Orang yang sedikit dosa , secara psikologis beban hidupnya didunia sedikit pula karena ia tidak merasa bersalah kepada siapapun. Terlebih ketika diakhirat orang yang berdosa akan menanggung beban siksa yang pedih. Diriwayatkan dari Abu Hurairah dan nabi, beliau bersabda; “ Barangsiapa yang berpuasa di Bulan Ramadhan karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah memberikan ampunan kepadanya atas dosa yang telah lewat. Barangsiapa yang beribadah pada saat lailatul Qadr karena iman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka Allah memberikan ampunan kepadanya atas dosa yang telah lewat” (H.R. Imam Lima dengan redaksi Al.Bujhari dan Muslim).

 

Edt : aw/cg

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.