I’TIKAF “Fiqih Dan Keistimewaanya”

0
973
H. Rachmat Muhammad Soji, Lc. MA. | Pengasuh PP. Bina Insan Madani Sukabumi.
Oleh : H. Rachmat Muhammad Soji, Lc. MA.

Pengasuh PP. Bina Insan Madani Sukabumi.

Lulusan S1 Terbaik Universitas Al-Azhar Cairo Mesir dengan gelar Predikat Kehormatan.

Lulusan S2 Terbaik Universitas Al-Azhar Cairo Mesir dengan gelar Predikat Istimewa.

Kandidat S3 (Doktor) di Al-Azhar.

 

  1. Definisi I’tikaf

Secara bahasa arab kata I’tikaf daimbil dari kata ‘akafa  artinya diam, menahan, dan menetap.

Sedangkan menurut syariat I’tikaf artinya diam di mesjid dengan niat dan menahan diri dari berhubungan suami-isteri. Demikian Imam al-Gahzali menuturkan dalam kitab al-Wasith.

  1. Ayat-ayat al-Quran yang berkaitan dengan I’tikaf

وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي الْمَسَاجِدِ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ (187) البقرة

فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ [الأعراف: 138]

 مَا هَذِهِ التَّمَاثِيلُ الَّتِي أَنْتُمْ لَهَا عَاكِفُونَ [الأنبياء: 52]

وَعَهِدْنَا إِلَى إِبْرَاهِيمَ وَإِسْمَاعِيلَ أَنْ طَهِّرَا بَيْتِيَ لِلطَّائِفِينَ وَالْعَاكِفِينَ [البقرة: 125]

  1. Fadhilah I’tikaf
  • Terlindung dari panasnya padang Mahsyar

Diantara tujuh golongan yang akan mendapatkan naungan di alam Mahsyar yang panas adalah orang yang hatinya terikat dengan masjid.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ” سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللَّهُ فِي ظِلِّهِ، يَوْمَ لاَ ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: الإِمَامُ العَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ فِي عِبَادَةِ رَبِّهِ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي المَسَاجِدِ، وَرَجُلاَنِ تَحَابَّا فِي اللَّهِ اجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ، وَرَجُلٌ طَلَبَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ، فَقَالَ: إِنِّي أَخَافُ اللَّهَ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ، أَخْفَى حَتَّى لاَ تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِينُهُ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ”

“Tujuh kelompok yang akan Allah naungi dalam naungan-Nya disaat tiada naungan kecuali naungan-Nya; Pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam Ibadah kepada Tuhannya, seseorang yang hatinya terikat didalam mesjid, dua orang yang saling mencintai dijalan Allah, mereka berkumpul dan berpisah karena-Nya, seorang lelaki yang diajak berzina oleh perempuan yang terhormat dan cantik, kemudian dia menolak dengan mengatakan aku takut kepada Allah, seseorang yang menyembunyikan sedekahnya, sampai tangan kirinya tidak tau apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya, dan seseorang yang mengingat Allah dalam kesendirian, lalu menangis mengalirkan air mata”. (Imam Bukhari)  

  • Menjaga kesucian dan kekhusyuan jiwa

Diantara yang merusak kesucian dan kehusyuan jiwa seseorang adalah pergaualn dan interaksi yang buruk. Mendengar perkataan kotor atau mengucapkannya akan berakibat buruk terhadap kondisi jiwa.

Oleh sebab itu, seorang muslim dianjurkan untuk sering berkholwat, paling tidak setiap setahun sekali dengan jumlah minimal 10 hari disepuluh hari terakhir dibulan Ramadhan. Disaat I’tikaf seseorang akan melakukan perenungan-perenungan, evaluasi diri, reformasi diri, bercermin dari masa lalu dan pengalaman untuk menyongsong hari yang lebih baik. Dia akan menghitung usia, amal dan segala yang telah ia lakukan.

Oleh sebab itu, dalam hadist-hadist dibawah ini dijelaskan bahwa Rasulullah tidak pernah meninggalkan I’tikaf ini, bahkan Beliau menambahnya  dengan 10 hari sebelum tgl 20 dan 10 hari setelah masuk bulan Syawal.

أَنَّهُ «- صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوْسَطَ مِنْ رَمَضَانَ ثُمَّ اعْتَكَفَ الْعَشْرَ الْأَوَاخِرَ وَلَازَمَهُ حَتَّى تَوَفَّاهُ اللَّهُ ثُمَّ اعْتَكَفَ أَزْوَاجُهُ مِنْ بَعْدِهِ» (متفق عليه)

“Sesungguhya Rasulullah SAW. selalu Beri’tikaf disepuluh pertengahan dari Ramadhan dan disepuluh terakhirnya sampai beliau wafat. Kemudian setelah beliau wafat, isteri-isteri beliau beri’tikaf”. (Imam Bukhari dan Muslim)

أنه «اعْتَكَفَ فِي الْعَشْرِ الْأُوَلِ مِنْ شَوَّالٍ» (ِمُسْلِمٍ)

“Sesungguhnya Rasulullah beri’tikaf disepuluh pertama dari bulan Syawal”. (Imam Muslim)

عن عثمان بن عطاء عن أبيه قال: “إنَّ مثل المعتكف مثل المُحْرم ألقى نفسه بين يدَي الرحمن فقال: والله لا أبرح حتى ترحمني” البيهقى.

“Sesungguhnya perumpamaan orang yang I’tikaf itu seperti orang yang berihram, dia melemparkan dirinya dihadapan Allah Yang Maha Penyayang, kemudian dia mengatakan, sya tak akan berhenti samapai Allah mengasihani saya”. (imam al-Baihaqy)

  1. Fikih I’tikaf

Syarat orang yang ber’itikaf :

  • Muslim laki-laki atau perempuan;
  • Berakal;
  • Suci dari haid, nifas, junub.

Hukum I’tikaf

Pada asalnya I’tikaf hukumnya mandub  atau sunnat, kecuali I’tikaf yang dinadzarkan.

Mesjid yang sah digunakan beri’tikaf

Sepakat para ulama bahwa tempat I’tikaf itu adalah masjid jami, sedangkan selain masjid jami itu diperdebatkan oleh para ulama, kebanyakan mengatakan harus dimesjid jami, tidak bisa di surau-surau atau mushalla-mushalla.

Hal-hal yang membatalkan I’tikaf:

  • Melakukan hubungan suami-isteri
  • Keluar sperma dengan sengaja
  • Haid dan nifas
  • Keluar dari masjid tanpa alasan syar’i

Alasan-alasan syar’i yang membolehkan seorang I’tikaf keluar masjid :

  • Kebutuhan kemanusiaan, seperti ke toilet, mandi dst.
  • Keluar untuk melaksanakan shalat jumat, kalau dia I’tikaf dimesjid yang tidak ada shalat jumat.
  • Karena kondisi mendesak, seperti membantu orang kebakaran, menyelamatkan yang tenggelam, mengantar orang sakit yang mendesak, dst.
  • Menengok orang sakit, mengurusi jenazah, untuk melakukan kesaksian yang wajib ain, kalau I’tikafnya I’tikaf sunah (menurut sebagian ulama).

Qodho I’tikaf

  • Orang I’tikaf sunat, kemudian dia membatalkannya, menurut sebagian ulama wajib diqodho dan menurut sebagian lagi sunnat diqodho.
  • Orang yang I’tikaf wajib seperti karena nadzar, kemudian dia membatalkannya sebelum selesai, maka wajib diqodho.

Semoga bermanfaat…

Editor : Jm

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.