Kasih Sayang Sesama Hamba Allah

0
1216
KH. Hilmi Ahmad Hidayat S.Pd I

Hilmi Ahmad Hidayat S.Pdi adalah Pimpinan Pondok Pesantren Gunung Cupu Jln.Pangeran Santri No. 100 Sumedang Jawa Barat, dan  sebagai pengurus Pusdai Kab. Sumedang.  Penulis adalah alumni pondok pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, Jawa Barat

Beritalangitan.com – Manusia dengan predikatnya sebagai khalifah Allah di atas bumi mempunyai kedudukan ganda satu pihak manusia sebagai hamba Allah dan di lain pihak manusia sebagai makhluk sosial.

Dua kedudukan manusia itulah yang sangat menghajatkan kesadaran diri; sadar bahwa dirinya hidup lantaran titah Allah dan sadar bahwa dalam mengarungi bahtera kehidupan tidaklah mungkin kita hidup tanpa orang lain, karena sifat manusia yang serba berkekurangan. Pada kedudukan pertama, secara vertikal (tegak lurus) kita hendaknya senantiasa menyerahkan jiwa-raga dan segala yang ada pada kita semata-mata hanya untuk Allah, penyerahan dalam arti pengabdian.

Firman Allah SWT. dalam Al-Qur’an :

“Dan tiadalah Kami ciptakan jin dan manusia, melainkan hanya untuk mengabdi kepada-Ku,” (QS. Adz-Dzaariyat: 56)

Pengertian mengabdi sangatlah luas; bukan saja lima kali sehari semalam, yaitu salat lima waktu, tetapi lebih dari itu sepanjang kehidupan yang kita lalui dan kita gumuli, hendaklah didasarkan semata-mata untuk Allah.

Tegasnya, semua gerak dan langkah kita, laku dan perbuatan kita, amal dan bakti kita, hanyalah untuk Allah jua, sehingga dari pengabdian yang mutlak ini terwujudlah pribadi-pribadi muslim yang saleh dan taat.

Selanjutnya, pada kedudukan kedua, yaitu sebagai makhluk sosial, kita hendaklah sadar sepenuhnya bahwa tanpa adanya orang lain, maka kehidupan akan terasa sulit dan tersendat; atau dengan kata lain tidak mungkin seseorang tidak akan mampu berdiri sendiri tanpa kerjasama dengan orang lain.

Dalam kedudukan kedua inilah kita menjumpai pula satu kenyataan, bahwa keadaan seorang dengan lainnya tidaklah sama; ada si kaya dan ada si miskin, ada si pandai dan ada pula si bodoh, ada si kuat dan ada pula si lemah. Namun mereka semua berbaur menyatu sebagai makhluk sosial. Yang pasti antara seorang dengan lainnya tentu memerlukan jasa masing-masing sebagai upaya mempertahankan hidup dan kehidupan­nya.

Sebagai contoh, adanya penguasa tentu memerlukan pekerja, adanya pedagang tentu mengharapkan pembeli, adanya murid tentu mengharuskan adanya guru dan begitulah seterusnya.

Akan tetapi di luar contoh-contoh tersebut, yang paling memerlukan bantuan ialah si miskin, si jompo, si yatim piatu dan lain-lainnya yang senasib dengan mereka.

Mereka adalah hamba Allah yang mempunyai hak hidup, hanya saja untuk mempertahankan hidupnya mereka menjumpai perjalanan yang menyedihkan, sulit dan bahkan mungkin tertutup.

Dalam menghadapi kenyataan hidup semacam itu, maka kita dituntut untuk membuktikan diri sebagai hamba Allah yang tahu diri.

Bukankah kita telah menyatakan pengakuan sebagaimana tertera dalam Surat Al-Fatihah yang berbunyi:

“Hanya Engkaulah yang kami sembah dan hanya kepa­da Engkaulah kami mohon pertolongan.” (QS. Al-Fatihah: 5)

Ayat di atas secara jelas menunjukkan bahwa hidup kita senantiasa bergantung dari pertolongan Allah; dan pertolongan itulah yang setiap saat kita mohon.

Tetapi pantaskah kita selalu memohon pertolongan Allah, padahal kita sendiri tidak pernah menolong orang-orang yang memerlukan pertolongan? Tentu tidak pantas dan mustinya kita harus malu kepada Allah.

Seiring dengan itu, Nabi Muhammad Saw. telah bersabda:

“Allah senantiasa menolong hamba-Nya, selama hamba itu suka memberi pertolongan kepada saudaranya.” (HR. Muslim)

Hadis di atas dapat kita artikan sebagai peringatan, bahwa hendaknya kita jangan hanya suka meminta pertolongan, tetapi kita juga harus gemar memberikan pertolongan kepada orang’ lain yang membutuhkannya.

Memberikan pertolongan adalah gambaran dari kecintaan seseorang kepada orang lain. Sedang kecintaan seseorang kepada orang lain adalah cermin dari iman, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:

“Tidaklah beriman seorang di antara kamu sehingga ia mencintai saudaranya sebagaimana mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari uraian di atas, maka nyatalah bahwa untuk memperoleh pertolongan Allah dan mendapat derajat mukmin yang baik hendaklah kita selalu berbuat baik dan bijak, yakni suka beramal saleh, menolong saudara-saudara kita yang menghajatkan pertolongan.

Untuk itu, marilah kita buktikan dengan amal-amal nyata; kita santuni orang-orang jompo dan yatim piatu, kita bantu fuaara dan masakin, kita ringankan beban mereka, kita mudahkan urusannya dan kita lapangkan jalannya.

Insya Allah jika kita sudah dapat membuktikan semua itu, maka pasti Allah memberikan kemudahan bagi kita, baik di dunia maupun di akhirat nanti, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Saw.:

“Barangsiapa yang suka memberikan kemudahan kepada orang yang sedang dalam kesempitan, maka Allah akan memberikan kemudahan baginya di dunia dan di akhirat.” (HR. Ibnu Majah)

Hadis di atas merupakan penegasan bahwasanya hubungan antara dua kehidupan manusia, yakni dunia dan akhirat sangat erat pertaliannya.

Hubungan tegak lurus antara makhluk dengan Khalianya yang dipelihara dengan baik, yakni dengan pengabdian mutlak kepada-Nya dapat menumbuhkan pribadi-pribadi yang saleh serta taat. Dari pribadi-pribadi semacam itulah, antara sesama hamba Allah dapat terwujud hubungan yang harmonis, rukun, damai dan tenteram atas dasar kasih sayang, bantu membantu dan tolong menolong.

Sebagai generasi tua, kita hendaknya berusaha memberikan didikan kepada anak-anak kita supaya mereka juga kelak menjadi orang-orang yang suka memberi pertolongan kepada orang lain.

Sebab, manakala anak-anak kita yang kelak diharapkan untuk menjadi generasi penerus telah mempunyai sifat dan sikap yang mencerminkan kasih sayang sesama hamba Allah, niscaya kehidupan mereka pun akan selalu diliputi suasana kedamaian.

Dari kasih sayang sesama hamba Allah itu pulalah yang menumbuhkan kesegaran bermasyarakat, sehingga semua pekerjaan yang dibebankan kepada mereka oleh dan dari masyarakat, bangsa dan negara dapat ditunaikan dengan baik dan pada akhirnya mereka dapat mengenyam kenikmatan sukses yang telah dijanjikan oleh Allah.

Edt : cg/aw

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.