Makna Kebersihan

0
3558
Prof. Dr. K.H Maman Abdurrahman, M.A.
Oleh: Prof. Dr. KH. Maman Abdurrahman, M.A. *

Beritalangitan.com  – Makna kebersihan yang digunakan dalam Islam ternyata ada yang dilihat dari aspek kebersihan harta dan jiwa dengan menggunakan istilah tazkiyah. Umpamanya, ungkapan Allah dalam Al – Quran ketika menyebutkan bahwa zakat yang seakar dengan tazkiyah, memang maksudnya untuk kebersihan harta yang dizakati adalah bersih dan yang tidak dizakati dinilai kotor. Kebersihan dan pengotoran harta sebenarnya ada korelasinya dengan jiwa. Suatu fitrah adalah kebudayaan itu sendiri, sekaligus peradaban dan keyakinan.

Dengan demikian, maka konsep kebersihan dan kesucian yang berdasarkan keyakinan dan kebudayaan masing – masing ada nuansa, perbedaan, dan nuansanya; Gajah, Kerbau, dan Babi yang kesohor makhluk “menjijikan” mandi dikubangan, bahkan ayampun membersihkan dirinya dengan “debu” dan demikian seterusnya. Dalam bahasa indonesia terdapat kosa kata kotor dan jijik serta kebalikannya, bersih dan suci. Namun, semua itu baru pada tingkat lahiriyah. Lalu, bagaimana islam memberi makna kebersihan tersebut lebih menyeluruh.

Justru yang menarik lagi dalam kehidupan sehari  – hari kita sering mendengar, bahkan melakukannya sendiri , bukan hanya kebersihan jasmaniyah (konkrit) atau kebershan fisik (badan kita), tetapi pakaian, rumah, halaman, kendaraan dengan menggunakan istilah mencuci pakaian, kendaraan, membersihkan rumah, jalan, dan lain – lain. Mencuci diambil dari kata “mensucikan”, membikin suci yang diidentikan dengan bersih. Ini artinya, apapun yang ada harus dibersihkan atau disucikan. Orang suci dicintai Allah, sebagaimana dalam firman-Nya :

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran.” Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. Apabila mereka telah suci, maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.  (QS. Al-baqarah / 2 : 222 )

Ayat ini intinya menentukan makna thaharah dari aspek lain, yaitu bahwa orang haidh memang kotor karena haid kotor dan dapat mengganggu kesehatan dan kenyamanan. Di sisi lain walaupun sudah suci antara lahiriyah diperlukan mandi agar suci secara lahiriyah sekaligus bathiniyah, yaitu dari hadas besar. Seperti disinggung ayat diatas, tentang kesucian setelah keluar dari ghait, rast room, wc, mirhadh, dauratul miyah, dari buang air besar atau kecil dengan memberisihkannya dengan batu atau tanah—sekarang tisue, berkaitan dengan kebersihan sekaligus kesucian. Islam sejak awal amat memperhatikannya.

* Lahir di Ciamis, 7 Agustus 1948. Dosen Pascasarjana UNISBA Bandung, Dosen luar biasa pada Program IAIN Bandung, Dosen luar biasa Pascasarjana UII dan juga pada Program Pascasarjana UMY Yogyakarta, menjabat sebagai Ketua Umum Persis periode 2010 – 2015, dan Ketua Baznas Kota Bandung.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.