Manusia Diciptakan Sebagai Makhluk yang Unggul

Penulis : Dr  KH Abdi Kurnia Djohan Lembaga Dakwah PB NU.

0
65

Ketika Iblis berkata ” ana khoirun minhu” (saya lebih baik daripada Adam), ia menyebutkan alasan kenapa tidak mau sujud kepada Adam alaihissalam:

خَلَقْتَنِي مِنْ نَارٍ وَخَلَقْتَهُ مِنْ طِيْنٍ

Engkau (Allah) ciptakan aku dari api, sedangkan Engkau ciptakan dia dari tanah.

Dulu saya memahami ayat di atas secara letterlijk (harfiah). Dalam pandangan saya yang dahulu, Iblis merasa mempunyai kemuliaan dengan asal muasal dirinya sehingga enggan untuk sujud (memberi hormat) kepada Adam. Padahal, jika direnungi lebih dalam makna yang terkandung di dalam kata طِيْنٍ, ternyata tidak semata-mata bermakna tanah dalam pengertian yang kita lihat. Justru di dalam kata     طِيْنٍ  itu, Allah sebenarnya sudah menampakkan kemuliaan Adam.

Kata   طِيْنٍ  yang kemudian diterjemahkan dengan tanah, berbeda makna esensialnya dengan kata ٌتُرَاب yang juga diartikan dengan tanah. Kata طِيْنٍ lebih menggambarkan tanah sebagai zat yang kaya dengan unsur kimiawi. Para ahli mengatakan bahwa di dalam tanah terkandung unsur mangan (Mg), ferum (Fe), Kalium (Kal), Cobalt, Oksigen, dan masih banyak lagi. Dan tidak bisa dikesampingkan pula, tanah bisa menyimpan air.

Kekayaan unsur-unsur tanah itu yang dapat menyimpan api dan juga dapat memadamkannya. Sampai di sini Iblis paham bahwa secara material dia berada jauh di bawah Adam. Allah benar memuliakan Adam–bapak manusia–dengan kekayaan unsur yang membentuk dirinya.

Sampai di situ, Iblis sadar bahwa usahanya beribadah selama ribuan tahun tidak bisa mengangkat kemuliaannya di hadapan semua ciptaan Allah. Justru Allah menciptakan makhluk yang mulia bernama manusia, dengan mengumpulkan semua unsur kimia di dalam jasadnya.

Iblis lupa bahwa di hadapan Allah kemuliaan itu tidak diukur melalui takaran fisik. Rasulullāh pernah mengingatkan ini di hadapan para sahabat:

إِنَّ اللهَ لَا يَنْظُرُ اِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ اَجْسَامِكُم وَلكِنْ يَنْظُرُ اِلىَ قُلُوْبِكُم وَاَعْمَالِكُم

Sungguh Allah tidak melihat kepada bentuk rupa dan jasad kalian, tetapi Allah melihat kepada isi hati kalian dan perbuatan kalian (hadits ini dikutip al-Nawawi di dalam Riyadhus Shalihin bāb Ikhlasun niyyat)

Simpulan:

1. Merasa baik sebenarnya merupakan ungkapan untuk menyembunyikan kekurangan;

2. Dengki muncul karena tidak mau mengakui keunggulan yang dimiliki orang lain;

3. Manusia diberikan banyak kelebihan materi oleh Allah;

4. Namun karena jauh dari Allah, manusia tidak mengetahui bagaimana mengoptimalkan kelebihan tersebut.

5. Kemuliaan itu bukan diukur dari apa yang terlihat. Tapi, kemuliaan itu berangkat dari ketulusan hati yang melahirkan kesungguhan amal.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here