Puasa dan Kesehatan

0
900
H. Rachmat Muhammad Soji, Lc. MA. | Pengasuh PP. Bina Insan Madani Sukabumi
Oleh : H. Rachmat Muhammad Soji, Lc. MA.

Pengasuh PP. Bina Insan Madani Sukabumi.

Lulusan S1 Terbaik Universitas Al-Azhar Cairo Mesir dengan gelar Predikat Kehormatan.

Lulusan S2 Terbaik Universitas Al-Azhar Cairo Mesir dengan gelar Predikat Istimewa.

Kandidat S3 (Doktor) di Al-Azhar.

  1. Arti sehat

Dalam UU No 23 1992 dinyatakan “sehat adalah keadaan sejatera dari badan, jiwa dan sosial yang memungkinkan hidup produktif secara sosial dan ekonomi”.

Dari definisi diatas jelas bahwa sehat adalah kondisi paduan jasmani dan rohani yang menghasilkan produktifitas amal sosial dan amal usaha. Dan sakit berarti kebalikannya, tidak produktif secara amal sosial, ekonomi, dakwah dan lain-lain.

  1. Cakupan sehat (fisik dan mental)

Untuk mencapai karakter sehat ada dua dimensi yang harus sehat; sehat fisik dan sehat mental. Masing-masing dari keduanya tidak bisa berdiri sendiri secara umum.

Orang yang fungsi fisiknya berfungsi secara seimbang, biasanya secara umum mentalnya juga seimbang, sehingga paduan dari keduanya melahirkan produktifitas. Sedangkan orang yang mentalnya tidak sehat, maka biasanya sangat pengaruh terhadap fisiknya, seperti penyakit-penyakit yang berhubungan dengan fikiran. Darah tinggi, struk, jantung dan lain sebagainya. Demikian juga, tidak sedikit orang yang mentalnya sakit gara-gara memikirkan sakit fisiknya.

Oleh sebab itu sehat harus mencakup kedua dimensi ini.

  1. Puasa dan kaitannya dengan sehat fisik dan mental

Apa hubungannya kesehatan (fisik dan mental) dengan puasa?

Dalam ilmu kesehatan satu kunci yang paling initi untuk menjaga kesehatan adalah menjaga gaya hidup. Dan gaya hidup yang paling erat kaitannya dengan kesehatan adalah gaya atau pola makan.

Banyak sekali, kalau tidak dikatakan semuanya penyakit-penyakit manusia itu ditimbulkan dari gaya makan yang salah; berlebihan dan tidak teratur.

Makanya kunci kesehatan dalam al-Quran terletak pada ayat,

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلَا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لَا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ (31) الأعراف

Rasulullah menyebutkan,

«مَا مَلَأَ آدَمِيٌّ وِعَاءً شَرًّا مِنْ بَطْنٍ، حَسْبُ الْآدَمِيِّ، لُقَيْمَاتٌ يُقِمْنَ صُلْبَهُ، فَإِنْ غَلَبَتِ الْآدَمِيَّ نَفْسُهُ، فَثُلُثٌ لِلطَّعَامِ، وَثُلُثٌ لِلشَّرَابِ، وَثُلُثٌ لِلنَّفَسِ»  (البخارى)

“Tiada wadah yang paling jelek ketika manusia memenuhinya kecuali perut, maka cukup bagi manusia beberapa suap saja agar bisa menegakkan tulang rusuknya. Kalaupun dia masih kalah dengan hawa nafsunya, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk minuman dan sepertiga untuk nafas”. (Imam Bukhari)

Imam Qusyairi (tokoh akhlak) mengatakan,

وإن الله يبغض من الحلال شيئين: الطلاق والشبع  (القشيرى)

”sesungguhnya Allah membenci dua hal yang dihalalkan; talak, dan kenyang”.

وقال سليمان الدرانى([1]): «مفتاح الدنيا الشبع، ومفتاح الآخرة الجوع».

Imam Sulaiman ad-Daroni mengatakan,

“kunci dunia itu kenyang, dan kunci akhirat itu lapar”.

Lukman Hakim berkata kepada anaknya,

وقال لقمان لابنه: «يابنى إذاامتلأت المعدة نامت الفكرة، وخرس لسان الحكمة، وقعدت الأعضاء عن العبادة»

“wahai anaku! Kalau perut penuh, maka pikiran tidur, lisan hikmah menjadi bisu, dan badan tidak mau dipakai ibadah”.

Ibrahim bin Adham mengatakan,

قال ابراهيم بن أدهم: «خدمت ثلاثمائة ولى، وكل منهم يوصينى بأربعة أشياء؛ أحدها:  من أكثر من الأكل لم يجد لطاعة الله لذة، ثانيها: من أكثر من النوم لم يجد فى عمره بركة، ثالثها: من أكثر من مخالطة الناس لم تقم له عند الله حجة، رابعها من أكثر من الوقوع فى أعراض الناس لم يخرج من الدنيا على التوحيد»

“saya melayani 300 wali. Dan semuanya berwasiat kepada saya dengan empat hal; (1) siapa yang banyak makan, maka tidak akan menikmati enaknya ibadah; (2) siapa yang banyak tidur, maka umurnya tidak akan berkah; (3) siapa yang banyak bergaul dengan orang (orang tidak baik), maka dihadapan Allah tidak akan punya alasan; (4) siapa yang banyak membuka aib orang lain, maka tidak akan mati dalam keadaan bertauhid”.

Syekh Said Hawa dalam buku Al-Islam menuliskan beberapa dampak kebaikan dari puasa terhadap berat badan, gula, cairan tubuh, kerja jantung dan seterusnya.

Kesimpulannya, jika kita makan sekenyangnya, maka akan tidurnya banyak, syahwat kita akan meningkat, baca Al-Quran berat, shalat malam berat, pikiran kita jadi tumpul, maka otomatis mental kita akan sakit, mulai dari kurang empati sama orang lain, sombong, egois, bahkan lama-lama mudah marah, benci, hasud dan seterusnya.

Maka dengan puasa fisik dan mental kita akan sehat. Mungkin ada benarnya perkataan “puasalah kalian, maka pasti sehat”.

Semoga bermanfat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.