Resep Mengatasi Kesulitan Menurut Al – Qur’an Dan Sunnah

1
14838
KH. Hilmi Ahmad Hidayat S.Pd I

Hilmi Ahmad Hidayat S.Pdi adalah Pimpinan Pondok Pesantren Gunung Cupu Jln.Pangeran Santri No. 100 Sumedang Jawa Barat, dan  sebagai pengurus Pusdai Kab. Sumedang.  penulis adalah alumni pondok pesantren Miftahul Huda Manonjaya Tasikmalaya, Jawa Barat

(Beritalangitan.com) – Setiap orang pasti pernah mengalami masa-masa sulit. Karena itulah sunnatullah yang telah digariskan dalam kehidupan manusia yang selalu dinamis, penuh warna dan tantangan. Pasang surut kehidupan, susah dan senang, sehat dan sakit, sukses dan gagal, silih berganti mewarnai perjalanan hidup setiap orang. Karenanya jangan aneh atau kaget apabila jalur kehidupan kita tidak selalu lurus atau baik-baik saja. Terkadang berkelak-kelok dan bergelombang. Live never flate ( hidup tidak pernah rata atau enak terus ), begitu kata sebuah iklan. Maka kita harus siap menghadapi keniscayaan hidup baik berupa kenikmatan ataupun kesulitan.

Sebagai umat Islam, kita amat beruntung mendapat petunjuk – petunjuk praktis dari Allah dan RasulNya dalam mengatasi berbagai rintangan dan cobaan agar kita dapat melewatinya sekaligus menikmatinya sebagai seninya kehidupan. Di antara ajaran Al-Qur’an dan Sunnah dalam mengatasi kesulitan adalah sebagai berikut :

  1. Bersabar dan shalat.

Allah SWT berfirman :“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’.” (Q.S. Al-Baqarah : 45)

Sabar yang dimaksud ayat ini bukanlah suatu sikap yang hanya “nrimo” begitu saja terhadap nasib atau keadaan. Sabar di sini mengandung arti “habsun nafsi” (pengendalian diri). Dengan kata lain, kita disuruh untuk cerdas mengelola emosi dan nafsu kita agar tidak sampai melakukan tindakan yang bodoh, merusak, dan merugikan. Sebaliknya akal kitalah yang harus mendominasi dan menyetir emosi dan nafsu kita tersebut agar cermat dalam bersikap dan bertindak, sehingga akan melahirkan solusi terbaik dari setiap masalah.

Bersabar dalam menghadapi musibah atau tantangan, artinya terus menerus berusaha merubah nasib atau keadaan dengan penuh optimis, tidak mengenal lelah putus asa, dan menyerah sampai masalahnya dapat terselesaikan atau terpecahkan. Sebab dunia tidak akan peduli dengan kesedihan kita, sampai kita sendiri yang bangkit dari kedukaan atau keterpurukan. Life must go on, hidup harus terus berlanjut, tidak boleh terhenti hanya karena suatu musibah atau tragedi. Tanpa kita sendiri yang berusaha menata dan memperbaiki kondisi kita, mustahil nasib kita akan berubah. Bukankah Allah tidak akan merubah nasib seseorang jika ia sendiri tidak mau merubah nasibnya?

Sebagaimana firmanNya :“Sesungguhnya Allah tidak merohah Keadaan sesuatu kaum sehingga merelai meroboh keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (Q.S Ar-Ro’du : 11)

Kemudian Allah memberi kita petunjuk utnuk menjalankan shalat sebagai solusi mengatasi masalah. Selain shalat fardhu yang sudah merupakan kewajiban, sebaiknya kita pun mengerjakan shalat-shalat sunnah lainnya, terutama sholat sunnah yang seringkah dijadikan media memohon pertolongan seperti Sholat Hajat, Sholat Dhuha, Sholat Tahajjud, dan Sholat Tasbih.

Rasulullah saw memberi contoh kepada kita, yakni setiap kali beliau menghadapi masalah apa saja baik yang berkaitan dengan masalah pribadi, keluarga, ataupun ummat beliau segera curhat kepada Allah melalui ibadah shalat.

Sebagaimana yang dituturkan oleh Hudzaifah al-Yamani berikut ini :”Adalah Rasulullah saw apabila menghadapi suatu perkara yang menyedikan menyulitkan, maka bersegeralah beliau menjalankan shalat.” (H.R.Ahmad dan Abu Dawud).

Begitu pula kita jika menghadapi suatu problema, disunnahkan untuk sholat guna mencari solusi terbaik dari Allah. Karena Dia-lah sebaik-baiknya penolong, satu – satunya tempat berserah diri. Pengurus yang terbaik, tempat bermohon dan berharap semua makhluk. Apalagi Allah tidak pernah menyia-nyiakan orang yang berharap padaNya.

Shalat adalah media untuk mencurahkan isi hati yang efektif kepada Allah. Seseorang dapat menumpahkan segala keluh kesahnya di hadapan Sang Khalik (Pencipta). Apa saja yang menghimpit jiwanya, membebani pikirannya, mempersempit daya upayanya, bisa dengan bebas diungkapkan dengan transparan, tanpa tedeng aling-aling. Sebab tiada satu pun yang tersembunyi di dada, melainkan pasti diketahui oleh Allah Ta’ala. Terlebih lagi hubungan yang paling dekat antara hamba dan Tuhannya adalah saat bersujud, sehingga Nabi menyuruh kita untuk banyak berdo’a saat itu. (H.R Muslim, Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Cara lain yang mujarab untuk mengatasi kesulitan adalah dengan bersedekah. Apabila kita ingin dimudahkan segala urusan, maka cara yang paling ampuh adalah bersedekah seawal mungkin, sebelum kita memulai urusan tersebut. Melalui wasilah (perantara) sedekah, maka bantuan Allah akan segera turun menuntaskan segala urusan, menghalau segala bala’, mempermudah segala yang sulit, mengurai semua kerumitan, menghasilkan segala maksud dan mewujudkan semua harapan.

Di antara janji Allah dalam Al-Qur.an adalah memberi kemudahan bagi hamba-hambaNya yang selalu bermurah hati, peduli sosial dengan semangat berbagi, menyingsingkan lengan baju. berkorban untuk membahagiakan orang lain yang terbelit kesulitan.

Hal ini ditegaskan dalam firman Allah sebagai berikut:“Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa. Dan membenarkan adanya paha/a yang terbaik (syurga). Maka Kami kelak akan menyiapkan baginya jalan yang mudah.” (Q.S Al-Lail : 5-7).

Sebaliknya bagi mereka yang kikir alias bakhil, maka dunia ini terasa sempit, sukar, dan rumit. Kesialan selalu menyertainya. Bala’ selalu menghantuinya. Hidupnya jauh dari rahmat, berkah dan ridho Allah. Tiada kedamaian dalam hatinya. Tiada pula jalan keluar bagi kesulitan yang dihadapinya, seperti menemui jalan buntu. Alih-alih Allah membantunya, manusia saja tidak ada yang sudi menolongnya.

Allah mengingatkan hal ini dalam firmanNya :“Dan Adapun orang-orang yang bakhil dan merasa.,dirinya cukup. Serta mendustakan pahala terbaik. Maka.kelak. Kami akan menyiapkan baginya (jalan) yang sukar.” (Q.S Al-Lail: 8-10).

  1. Memudahkan urusan orang

Sudah menjadi sunnatullah bila seseorang yang menebar kebaikan maka ia akan menuai kebaikan. Sebaliknya orang yang menebar keburukan, pasti ia akan menuai keburukan pula. Barangsiapa yang memancarkan kebaikan maka akan terpantul pula kebaikan padanya, demikian juga sebaliknya. Ibarat orang yang menanam jeruk, tidak mungkin menuai kedondong, begitu pun sebaliknya. Ini sebuah keadilan yang berlaku universal. Siapa pun dia, apa pun warna kulitnya, dari bangsa mana pun, sunnatullah ini tetap berlaku.

Mereka yang suka memudahkan urusan orang lain, maka urusannya pun akan dimudahkan lagi oleh Allah. Siapa saja yang selalu menolong sesama, maka ia pun akan ditolong lagi oleh Yang Maha Kuasa dengan berbagai cara yang dikehendakiNya.

Rasulullah saw bersabda :”Barangsiapayang memudahkan urusan orang yang tertimpa kesiditan,maka Allah akan memudahkan urusannya di udr.ia dan akherat.” (H.R Ibnu Majah).

Selain itu, jika kita berbuat baik kepada orang lain, sama dengan kita bebuat kebaikan pada diri kita sendiri. Sebaliknya jika kita berbuat jahat kepada orang lain, maka kerugiannya tidak akan berpulang kepada siapa-siapa, melainkan kepada diri si pelakunya sendiri.

Allah Ta’ala berfirman:”Jika kamu berbuat baik (‘berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri.”(Q.S.Al-lsra : 7)

  1. Sadarilah bahwa lebih banyak kemudahan yang kita nikmati dari pada kesusahan yang kita derita

Salah satu bukti kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya adalah mengkaruniai lebih banyak nikmat daripada cobaan. Orang lebih panjang mengalami masa sehat daripada masa sakit. Lebih lama merasakan masa jaya daripada masa kejatuhan. Lebih sering untung daripada ruginya. Lebih banyak sukanya daripada dukanya Karenanya janganlah kita melupakan kebaikan-kebaikan Allah begitu saja, hanya lantaran sedang dicoba dengan suatu musibah. Seharusnya kita banyak bersyukur atas nikmat-nikmat yang telah kita reguk, agar Allah semakin menambah nikmat-nikmatNya kepada kita. (Q.S.Ibrahim : 7).

Nabi SAW mengingatkan kita bahwa betapa pun beratnya musibah, masih kalah dengan derasnya limpahan kasih sayangNya baik berupa anugerah yang bersifat lahiriyah maupun batiniyah. Bahkan yang tidak diminta oleh kita pun, seandainya itu perlu dan penting bagi keselamatan dan kemaslahatan hidup kita, maka diberikan juga olehNya.

Rasulullah saw bersabda :”Satu kesulitan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (H.R. Al-H’akim).

Itulah Sebabnya Allah memberi semangat berjuang dan menanamkan optimisme kepada hamba-hambaNya melalui firmannya :“Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.” (Alam Nasyrah : 5-6)

Allah melukiskan kata kesulitan dalam bentuk Isim Ma’rifat ( khusus, yang ditandai dengan Alif Lam di awal kata ) yang berarti kesulitan itu cuma satu alias sedikit. Sementara untuk kemudahan) dilukiskan Allah dalam bentuk Isim Nakirah (umum, yang ditandai dengan tanpa Alif Lam). Di sini Allah ingin menegaskan dan meyakinkan kepada kita semua bahwa kemudahan atau nikmat itu jauh lebih banyak dan lama menyelimuti seorang hamba ketimbang kesulitan yang sedikit dan sebentar.

Oleh karena itu, tidak pantas kita menggerutu atau menyesali keadaan, meratapi musibah, atau putus asa terhadap penyakit. Justru perbanyaklah mengingat nikmat-nikmat yang sepanjang ini telah kita rasakan.

  1. Yakinlah bahwa Allah tidak akan menimpakan musibah atau cobaan di luar batas kesanggupan seseorang. 

Allah Yang Maha Bijaksana sudah pasti lebih mengetahui batas-batas kemampuan tiap hambaNya dalam menanggung musibah atau cobaan. Karena itu setiap musibah tidak akan ditimpakan begitu saja tanpa kadar yang bisa dipikul oleh hamba yang ingin dicintaiNya. Maka janganlah kita berburuk sangka sedikit pun kepada Allah atas musibah yang menimpa kita.

Al-Qur’an menegaskan sebagai berikut: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Q.S. Al-Baqarah : 286).

  1. Sadarilah pula bahwa jika seorang hamba, sedang dicoba, berarti ia sedang disayangi Allah,

Cobaan yang ditimpakan kepada seorang hamba yang saleh bukaniah karena Allah membencinya, sebaliknya justeru Allah sedang mencintainya.

Nabi Muhammad SAW bersabda :“Jika Allah mencintai seorang hamba, maka Pia akan menguji hamba tersebut dengan aneka cobaan demi mendengar curahan hatinya.” (H.R Al-Baihaqy dan Ad-dailamy).

  1. Berdo’a

Do’a adalah senjata orang yang beriman, tiangnya agama, dan cahaya yang mencerahkan langit dan bumi (H.R. Al-Hakim dan Abu Ya’la). Allah Ta’ala juga menyuruh hamba-hambaNya banyak berdoa. Dalam berdo’a tersimpan harapan besar tanpa akan pertolongan dan kasih sayang Allah YangMaha Kuasa sekaligus penegasan atas kedho’ifan (kelemahan) manusia sebagai hamba yang tiada daya dan upaya untuk meraih manfaat atau menolak madharat (bahaya) tanpaidzin dan pertolongan Allah SWT.

9 Sikap Pokok Menanggulangi Kesulitan

  1. Jangan panik. Tetap tenang. Pakailah akal sehat Anda. Berpikirlah wajar.
  2. Jangan menyerah. Jangan bayangkan kesulitan.
  3. Kendurkan ketegangan Anda. Misalnya dengan menulis semua kesulitan Anda pada sehelai kertas dan cobalah menelaahnya satu persatu.
  4. Langkahi masalah yang telah berlalu. Tanggulangi masalah saat ini.
  5. Carilah pemecahannya, jangan hanya menimbang-nimbang masalah itu. Pandanglah ke depan, kepada langkah berikutnya.
  6. Praktikkan cara mendengar yang kreatif. Sementara itu hendaklah Anda tenang hingga pandangan yang terang muncul dalam pikiran Anda.
  7. Selalu bertanya dalam hati, apakah yang paling tepat dan patut saya lakukan ?
  8. Teruslah gunakan pikiran Anda, teruslah yakin, teruslah bekerja, teruslah berdo’a.
  9. Teruslah menerapkan prinsip hidup dan berpikir positif itu.

Semoga bermanfaat.

Editor : Cepi Gantina / Lukman

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.