Bronco, Brownies Tauco, Si Gurih Asin yang di sulap jadi Si Hitam Manis

0
291

Cianjur, beritalangitan.com – Cianjur Jawa Barat merupakan kota asal tauco, tauco merupakan jenis makanan yang biasa diolah dengan berbagai masakan yang dimakan bersama nasi, namun kali ini tauco disulap menjadi olahan makanan bercita rasa manis dan dibuat sebagai cemilan, siapa yang mengira jika tauco bisa diolah menjadi kue brownies. Brownies yang manis berpadu dengan rasa khas dari tauco mengundang siapapun jadi penasaran untuk mencicipinya. 

Awalnya bisnis ini berdiri di tahun 2008, pendirinya adalah Yetti Sumiati, ia memang biasa membuat kue-keu seperti, bolu kukus, donat dan risoles, namun hanya di titip ke warung-warung di sekitar rumah saja hingga di tahun 2010 Yetti mulai mengembangkan bisnisnya dengan memproduksi kue brownis.

Brownis yang dibuat awalnya hanya brownis biasa, hanya di kukus dan ada banyak rasa dan toping seperti keju, strawbery, almon dan lain-lainnya. Seiring waktu banyaknya inovasi didapat melalui seminar-seminar dan pelatihan dan saya juga mengikuti komunitas-komunitas usaha di cianjur salah satunya adalah IPEMI (Ikatan Pengusaha Muslimah Indonesia) paparnya.

Setelah gabung di IPEMI dan yang lainnya bisnis ini terus meningkat penjualan dan produksinya hingga akhirnya saya dapat membuka toko kue sendiri di cianjur, tepatnya di Btn Bumi Emas Blok E1 No 10, Sirnagalih, Kec. Cilaku, Kabupaten Cianjur.

Pada mulanya nama usaha ini “Brownis Cantik” karena brownis kukus yang dipoles dan diberi toping seperti keju, oreo, kismis, kacang almon dan lain-lainnya dan alhamdulillah sangat banyak yang menyukai bronis saya dari kalangan anak-anak, dewasa hingga orang tua.

Di tahun 2017 Yetti Sumiati selaku owner Bronco ini memiliki ide untuk membuat rasa baru dari kue brownis, karena Cianjur terkenal dengan olahan tauco akhirnya ia mencoba membuat keu brownis yang di campur dengan tauco yaitu kue brownis tauco, kemudian saya ajukan langsung hak patennya agar kue brownis tauco saya bisa menjadi oleh-oleh khas Cianjur dan pada waktu itu juga saya rubah namanya dari “Brownis Cantik” menjadi brownis tauco atau dikenal dengan “Bronco”.

Tantangan saat itu adalah pesanan banyak tapi modal tidak mencukupi, sehingga keteteran juga, dan jumlah karyawan yang masih sedikit, apalagi saat hari raya pesanan sangat padat sekali dan terkadang bahan bakunya kurang karena Bronco menggunakan tauco yang terbaik, jadi tauco nya tidak sembarangan yang banyak di pasar. Selain itu tantangan juga dari segi pemasaran, sekarang ini sudah serba digital sedangkan emak-emak sperti sayamah gaptek, dan harus banyak belajar dulu ujarnya.

Bronco prosesnya di bakar bukan dikukus, bronco memiliki dua jenis yaitu bronco yang memakai toping keju, kismis, almon dan lain-lain dan bronco kering ada tiga varian rasa yaitu rasa tauco, keju dan grentea sedangkan untuk masa kadaluarsanya cukup lama untuk bronco bakar dua minggu di suhu ruangan sedangkan bronco kering empat sampai 6 bulan.

“Alhamdulillah Bronco sering mengadakan kegiatan Jum’at Berbagi, seperti memberikan makanan atau nasi kotak bagi jamaah yang pulang jum’atan dan ke pesantren-pesantren, selain itu Bronco juga bersinergi dengan IPEMI untuk mengikuti program IPEMI yaitu Jum’at Berbagi ke pesantren, santunan, nasi kotak dan membagikan produk dan pengajian bualanan.

“Harapan saya kedepannya pertama semoga bisnis ini dapat membantu prekonomian keluarga dan masyarakat di Cianjur, keduanya dapat membuka lapangan pekerjaan baru, ketiga semoga usaha ini terus berkembang menjadi lebih baik lagi dan yang terakhir atau ke empatnya semoga di setiap keuntungan yang saya peroleh saya bisa sedekahkan atau berbagi untuk yang membutuhkan, pungkasnya”.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.