Hukum Riba dan Bunga Bank (1)

0
989
HUKUM RIBA DAN BUNGA BANK (1)

Islam telah menetapkan hukum riba dan larangannya, termasuk di dalamnya praktek-praktek kapitalisme berupa bunga Bank, kartu kredit, kredit motor, kredit mobil, kredit barang-barang rumah tangga hingga KPR atau kredit perumahan. Semua praktek riba tersebut hukumnya haram, pelakunya dihinakan Allah jika tidak segera bertaubat, dasarnya sangat tegas terdapat dalam firman Allah SWT QS. Al Baqarah (2) ayat 275 :

“Orang-orang yang makan (mengambil) riba tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan setan lantaran (tekanan) penyakit gila. Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli danmengharamkan riba. Orang-orang yang telah sampai kepadanya larangan dari Tuhannya, lalu terus berhenti (dari mengambil riba), maka baginya apa yang telah diambilnya dahulu (sebelum datang larangan); dan urusannya (terserah) kepada Allah. Orang yang mengulangi (mengambil riba), maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.

Hukum riba dan bunga bank hingga saat ini masih banyak kaum muslimin yang tidak faham. Sebagian mengatakan riba itu haram jika berlipat-lipat, dan sebagaian mengatakan seberapapun jumlah tambahan dari pinjaman itulah definisi riba. Ada yang mengatakan bahwa bunga bank itu tidak haram karena hanya kecil bunganya sehingga dianggap sebagai jasa penyimpanan saja.Bagaimana melihat fenomena pendapat dimasyarakat terkait hukum riba dan bunga bank? tulisan ini akan mencoba mengulasnya. Sebagaimana telah ditayangkan dalam situs : alqandaly.wordpress.com.

RIBA adalah sebuah fenomena yang telah mendunia. Praktek riba sudah dikenal sejak munculnya transaksi perdagangan dalam peradaban manusia ribuan tahun yang silam. Dalam masyarakat Yunani kuno kata riba dikenal dengan istilah “rokos” yang artinya keturunan makhluq organik (maksudnya bisa melahirkan mata uang baru ). Demikian pula persoalan riba sempat disinggung dalam kitab Taurat maupun Injil. Dan Al Qur’an dengan jelas memaparkan pandangannya mengenai riba.

Kedudukan persoalan ini yang mendapatkan perhatian penting setiap peradaban dan agama samawi mempunyai arti bahwa dosa riba telah menjadi borok peradaban manusia yang menggerogoti tubuhnya secara perlahan-lahan, yang mampu menghancurkan sendi-sendi peradaban, dan diperlukan tindakan preventif untuk menanggulangi bahkan untuk menghancurkan penyakit ini secara keseluruhan. Hal inilah yang menjadikan riba mendapat perhatian penting dalam setiap kurun dan peradaban manusia.

Namun masih banyak orang yang tidak mengetahui apa hakikat ribadan bagaimana Islam membasmi praktek-praktek riba dan yang sejenisnya dari akar-akarnya. Bagaimana kerasnya siksa yang ditimpakan Allah SWT kepada pelaku riba di akhirat kelak serta kehinaan yang mereka terima di dunia. Tidak ada masalah jahiliyah yang dinilai Islam begitu keji dan keharusan yang sangat untuk memberantasnya melebihi masalah riba ini. Dan tidak ada kemungkaran selain syirik yang begitu besar ancamannya melebihikemungkaran riba.

Definisi Riba

Riba menurut bahasa berarti “tambahan”.Sedangkan menurut syara’,riba adalah “tambahan yang diperoleh dari seseorang yang meminjam (barang atau uang) dengan tempo atau batas waktu” . Menurut Ali bin Muhammad ad-Durjani, riba adalah tambahan yang tidak menjadi imbalan bagi sesuatu yang disyaratkan bagi salah seorang yang meminjam dan yang memberi pinjaman. Riba menurut istilah tadi barangkali terlalu sempit. Istilah yang lebih baik dikemukakan oleh Syaikh ‘Abdurrahman  yaitu setiap tambahan pada salah satu pihak (dalam) aqad Mu’awwadhoh tanpa mendapat imbalan, atau tambahan itu diperoleh karena penangguhan.

Riba terdiri dari dua macam : riba nasiah dan riba fadhal.Akan tetapi menurut para ulama pengikut Syafi’i, riba terdiri atas tiga macam : riba fadhal yang di dalamnya termasuk riba qardh, riba nasiah, dan riba yad. Berdasarkan hal itu maka kita mengenal berbagai bentuk riba yang tercakup dalam empat kategori:

1. Riba Nasiah: memberi hutang kepada orang lain dengan tempo yang jika terlambat mengembalikan akan dinaikkan jumlah/nilainya sebagai tambahan atau sanksi.

2. Riba Fadhal: menukarkan barang yang sejenis tetapi tidak sama keadaannya atau menukar barang yang sejenis tetapi berbeda nilanya.

3. Riba Qardh: meminjam uang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan/keuntungan bagi pihak pemberi utang.

4. Riba Yadd: pihak peminjam dan yang meminjamkan uang/barang telah berpisah dari tempat aqad sebelum diadakan timbang terima. Dalam keadaan demikian khawatir terjadi penyimpangan.

Riba Nasiah lebih terkenal dengan sebutan riba jahiliyyah, dimana seseorang memberi pinjaman kepada orang lain dan setiap bulan diambilnya tambahan tertentu jika melewati batas/temponya. Mengenai istilah riba jahiliyyah disinggung pada khutbah Rasulullah SAW pada saat Hijjatul Wada :

“… dan sesungguhnya riba jahiliyyah itu dihapuskan, dan bahwasannya ribayang pertama kali kuhapuskan adalah riba pamanku Abbas bin ‘Abdul Muthallib…”

Adapun hadits yang menyinggung riba fadhal diriwayatkan dari Abu Sa’id bahwasannya Rasulullah SAW bersabda :

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum, garam dengan garam, sama-sama dari tangan

ke tangan. Barang siapa yang menambahkan atau meminta tambahan sungguh ia telah berbuat riba“. (HR. Bukhari dan Ahmad).

Tentang riba qardl, maka kita mengenal kaedah fiqih yang berkaitan dengan masalah ini.

“Setiap bentuk qardl (pinjaman) yang menarik manfaat (membuahkan bunga) adalah riba.”

Ini menunjukkan bahwa pemanfaatan uang dibalik pinjaman termasuk riba yang dilarang oleh syari’at Islam.

Mengenai riba yadd telah diriwayatkan bahwasannya Malik bin Aus bin Hadtsan mencari-cari orang yang dapat menukar uangnya 100 dinar, lalu datang Thalhah. Thalhah menjelaskan ciri-ciri barangnya, sampai kemudian Malik mau menerimanya. Tatkala Thalhah mengambil uangnya (penukar 100 dinar) ia berkata: ‘Tunggu sampai orang yang membawa uangku (bendahara) di al-Ghaba (nama tempat dekat Madinah). Peristiwa ini kemudian didengar oleh Umar seraya berkata: ‘Tidak, demi Allah janganlah meninggalkannya sampai ia mengambil pembayarannya. ‘Rasululla saw telah bersabda: “Emas dengan perak adalah riba kecuali langsung serah terima, gandum dengan gandum adalah riba kecuali langsung serah terima, kurma dengan kurma adalah riba kecuali langsung serah terima, sya’ir dengan sya’ir adalah ribakecuali langsung serah terima.”

Peristiwa diatas menunjukkan bahwa pertukaran suatu barang dengan barang lainnya harus dilakukan saat itu juga. Pengunduran waktu serah terima dari salah satu pihak dapat menyebabkan adanya riba.

Berdasarkan pengertian beberapa macam istilah riba ini, maka dalam praktek perekonomian dewasa ini banyak sekali yang bisa dimasukkan dalam salah satu kategori tadi sesuai dengan pertumbuhan dan perkembangan aktifitas ekonomi, perdagangan dan keuangan yang meningkat dengan pesat. Oleh karena itu Rasulullah saw bersabda:

“Riba itu mempunyai 73 macam tingkatan …..“(HR Ibnu Majah dan al-Hakim dari Ibnu Mas’ud dengan sanad shahih). Dalam hadits lain Rasulullah mengisyaratkan akan munculnya sekelompok manusia yang menghalalkan riba dengan dalih aspek perdagangan.

“Akan datang suatu saat nanti kepada umat ini tatkala orang-orang menghalalkan riba dengan dalih ‘perdagangan” (HR Ibnu Bathah dari al-Auza’i)

Ringkasnya,dengan melihat perkembangan perekonomian yang tumbuh dengan cepat maka definisi riba harus mencakup seluruh bentuk riba, baik yang ada di masa Jahiliah (seperti riba nasi’ah,riba fadhal, riba qardl dan riba yadd) maupun riba yang ada dimasa sekarang seperti riba bunga bank termasuk didalamnya bunga dalam pinjaman/kredit, infestasi, deposito, jual beli surat berharga, agio saham, penundaan dari salah satu pihak yang beraqad dalam pertukaran mata uang maupun pengalihan rekening antar bank dan sebagainya. Jadi pengertian riba adalah tambahan dalam aqad dari salah satu pihak, baik dari segi uang, materi/barang, waktu maupun persyaratan lainnya tanpa ada usaha apapun dari pihak yang menerima tambahan tersebut. (as).

(bersambung…..)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.