Ancaman Terhadap Pelaku Riba (3)

0
970
HUKUM RIBA DAN BUNGA BANK (1)

A. Ancaman dari al-Qur’an.
1. Dalam QS. Al Baqaah ayat 275 :
“Orang-orang yang memakan harta riba itu tidak dapat berdiri melainkan seperti berdirinya orang yang kemasukan syethan, lanta¬ran (tekanan) penyakit gila…” (Qs. al-Baqarah :275).

Orang yang melakukan praktek-praktek riba, kelak dihari kiamat perilakunya bagaikan orang yang kesurupan syethan yang tercekik. Abdullah bin Abas menerangkan mengenai ayat ini bahwasannya kelak di hari kiamat akan dikatakan kepada para pemakan riba:’Angkatlah senjatamu untuk berperang’.

Muhammad Ali Ash-Shobuni lebih lanjut menerangkan dalam tafsirnya

“Dipersamakannya pemakan riba dengan orang-orang yang kesurupan adalah suatu ungkapan yang halus sekali, yaitu Allah memasukkan riba kedalam perut mereka lalu barang itu memberatkan mereka, sehingga sempoyongan, jatuh bangun. Hal ini menjadi ciri-ciri mereka dihari kiamat sehingga semua orang mengenalnya”.

2. Firman Allah SWT dalam surah Al Baqarah ayat 279 :

“Kemudian jika kamu tidak mau mengerjakan (meninggalkan riba) maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. (Qs:Al-BAqarah:279)

Maksud dari ayat ini bahwasannya apabila seseorang tidak mau meninggalkan aktifitas riba, maka ketahuilah baginya berhak untuk diperangi didunia dan diakhirat kelak akan dilempar kedalam api neraka, karena melanggar perintah Allah dan Rasul-Nya.

Lafadz ‘harbun'( ) dengan bentuk nakiroh adalah untuk menun¬jukkan besarnya masalah ini, lebih-lebih dengan menisbatkan kepada Allah dan Rasul-Nya. Seolah-olah Allah memaklumkan :

‘Percayalah akan ada suatu peperangan yang dahsyat dari Allah dan Rasul-Nya yang tidak mungkin dapat dikalahkan. Hal ini mengisya¬ratkan akibat yang paling mengenaskan yang pasti akan dialami oleh para pemakan riba. Adapun lafadz ‘kaffar'( ) dan ‘Atsim'( ) yang termasuk sighot mubalaghoh,yang artinya menunjukkan banyak kekufuran dan banyak berbuat dosa (dalam Qs al-Baqarah :276) melukiskan bahwa keharaman riba itu keras seka¬li, termasuk perbuatan orang-orang kafir dan bukan perbuatan orang-orang Islam

Barang siapa yang merenungkan makna ayat-ayat tadi dengan segala kandungannya seperti gambaran yang akan menimpa para pemakan riba,orang yang menghalalkannya, maka dia akan mengetahui betapa keadaan mereka kelak di akhirat. Mereka akan dikumpulkan dengan keadaan gila dan kesurupan, kekal di neraka,dipersamakan dengan orang kafir, akan mendapatkan perlawanan dari Allah dan Rasul-Nya yang mustahil terkalahkan. Itulah balasan mereka yang masih melakukan praktek-praktek riba termasuk orang-orang yang menghalalkannya. Na’udzubillahi min dzalika.

B. Ancaman Dari Hadits dan Pendapat Shahabat

Tidak ada seorang muslimpun yang tidak mengetahui bahwa melakukan riba adalah sesuatu yang terlarang dan harus dihindari. Bahkan riba termsuk salah satu dosa besar. Dari Abu Hurairah ra. bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“Tinggalkanlah tujuh hal yang dapat membinasakan ….(salah satunya adalah) memakan riba ….” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh karaena itu, orang yang melakukan riba akan mendapatkan laknat dari Allah, sebagaimana diriwayaatkan dari Jabir bahwasa¬nyaRasulullah SAW telah melaknat orang yang memakan riba, yang memberi makan, penulisnya dan dua orang saksinya. Dan beliau bersabda mereka itu sama.” (HR. Muslim, dan Bukhari dri Abi Juhaifah).

Di dalam hadits-hadits yang lain dinyatakan bahwa perbuatan riba lebih menjijikkan dari pada perbuatan zina. Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi SAW bersabda:

“Riba itu mempunyai 73 pintu (dosa), sedangkan yang paling ringan adalah seperti seseorang yang bersetubuh dengan ibunya …” (HR. Ibnu Majah dan Al Hakim).

“Satu dirham yang diproleh seseorang dari hasil riba lebih besar dosanya 36 kali dari perbuatan zina dalam Islam”, (HR. Baihaqi dariAnas bin malik)

Dalam menanggapi QS. Al Baqarah(2):275 Abdullah bin Abbas ra. berkata :

“Siapa saja yang masih tetap mengambil riba dan tidak mau meninggalkannya, maka telah menjadi kewajiban bagi seorang Imam (Khalifah) untuk menasihati orang-orang tersebut. Jika mereka masih tetapkeras kepala, maka seorang Imam dibolehkan untuk memenggal lehernya“

Menurut Muhammad Ali Sais, jika seseorang melakukan riba tetapi tidak taubat, maka seorang Imam harus menghukumnya dengan ahukuman ta’zir. Berdasarkan keterangan di atas apabila kita hidup dalam naungan Darussalam, maka praktek-prektek riba apapun bentuk dan namanya harus dihapuskan. Orang yang masih melakukan riba akan menghadapi sanksi yang sangat keras di dunia, dan di akhirat kelak akan mendapatkan dirinya dilempardan kekal di neraka. Abu Hurairah ra. berkata bahwasanya Rasulullah SAW bersabda :

“Tatkala malam aku di mi’rajkan, aku melihat suatu kaum yang perut mereka bagai¬kan rumah, tampak di dalamnya ular-ular berjalan keluar, lalu aku bertanya;”Siapakah mereka itu wahai Jibril ?” Jawab Jibril,”Mereka adalah para Pemakan riba”.

Barangkali ada baiknya jika Kita meneladani bagaimana sikap para shahabat dalam menghadapi persoalan ini. Diriwayatkan bahwa Umar ra. berkata : “Diantara ayat-ayat yang terakhir turunnya adalah ayat tentang riba, dan Rasulullah meninggal dunia sebelum menerangkan perinciannya kepada kami, oleh karena itu tinggalkan¬lah riba dan setiap hal yang meragukan”.

Bagi kaum muslimin yang telah mengetahui persoalan ini hendaknya bertindak sami’na wa atho’na, kami dengar dan kami mentaatinya, oleh karena haramnya riba telah sampai kepada kita.

Tidak ada hak bagi seorangpun untuk mencari-cari alasan guna menghindari haramnya riba dan tidak ada dalil sedikitpun yang membolehkan persoalan ini dari keharamannya. Tidak ada seruan yang paling baik dalam masalah ini selain apa yang diserukan Allah dan Rasulul-Nya. Tidak ada ketaatan terhadap mahluq dalam hal melanggar persoalan-persoalan yang melanggar ketentuan Alloh dan Rasul-Nya.

Wahai kaum Muslimin tidakkah kalian membayangkan betapa dahsyatnya balasan bagi para pelaku riba, pedihnya siksaan yang akan mereka alami dan sepanjang hidupnya mendapatkan la’nat dari Allah dan Rasulnya ? Dan tidakkah kalian perhatikan bagaimana dalam ayat riba pada akhirnya Allah memperingatkan kepada kita :

“Dan peliharalah dirinmu (dari adzab) pada suatu hari, dimana kamu sekalian akan dikembalikan kepada Allah di hari itu, kemudian masing-masing jiwa akan dibalas dengan sempurna apa yang telah dikerjakannya itu dan mereka tidak akan dianiaya“. (Qs. Al-Baqarah 281)

Semoga bermanfaat, amin. (as)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.