Hikmah dan Keutamaan Wakaf

Oleh : Abu Akif

0
9657

Wakaf ialah menahan suatu barang dan mengambil manfaatnya guna diberikan di jalan kebaikan (Tahbiisul Ashl Wa Tasbiilul Manfa’ah) [1] .  Allah ‘Azza Wa Jalla berfirman: “ dan berbuatlah kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan” (QS. Al-Hajj: 77), dalam ayat yang lain Allah ‘Azza Wa Jalla juga menegaskan: ”Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sebagian harta yang kamu cintai.” (QS. Ali-Imran: 92). Dalam sejarah Islam, wakaf baru dikenal sejak masa Rasulallah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam. Wakaf disyariatkan setelah Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam berada di Madinah, yaitu pada tahun kedua Hijriah. Dalam masalah ini, Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

”Sesungguhnya Umar Radiyallaahu ’Anhu  telah mendapatkan sebidang tanah di Khaibar. Umar bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam., ”Apakah perintahmu kepadaku yang berhubungan dengan tanah yang aku dapat ini?” Jawab Beliau, ”Jika engkau suka, tahanlah tanah itu dan engkau sedekahkan manfaatnya.” Maka dengan petunjuk Beliau Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam itu lalu Umar Radiyallaahu ’Anhu sedekahkan manfaatnya dengan perjanjian tidak boleh dijual tanahnya, tidak boleh diwariskan, dan tidak boleh dihibahkan.”[2]

Ini adalah wakaf pertama di dalam Islam. Imam Syafi’i berkata, ”Sesudah itu 80 (delapan puluh) orang sahabat di Madinah terus mengorbankan harta mereka dijadikan wakaf pula.”[3]

Dari Abu Hurairah Radiyallahu anhu, ”Sesungguhnya Nabi Shallallaahu ‘Alaihi Wasallam telah bersabda, Apabila  seseorang meninggal dunia, terputuslah amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah (wakaf)[4], ilmu yang bermanfaat, dan anak sholeh yang mendoakan ibu bapaknya.”[5]

Dari hadits tersebut jelaslah bahwa wakaf bukan hanya seperti sedekah biasa, tetapi lebih besar ganjaran dan manfaatnya terhadap diri yang berwakaf. Karena ganjaran wakaf itu terus menerus mengalir selama barang wakaf itu masih berguna. Wakaf bagi masyarakat, dapat menjadi washilah (jalan) untuk kemajuan ummat yang seluas-luasnya. Bahkan, ummat Islam terdahulu dapat berkembang dan maju dikarenakan dari hasil wakaf sebagian kaum muslimin. Berkembangnya agama Islam seperti yang kita lihat sekarang ini diantaranya adalah karena hasil wakaf dari kaum muslimin. Bangunan-bangunan masjid, mushalla (surau), madrasah, pondok pesantren, panti asuhan dan sebagainya hampir semuanya berdiri diatas tanah wakaf. Bahkan banyak pula lembaga-lembaga pendidikan Islam, majelis taklim, madrasah, dan pondok-pondok pesantren yang kegiatan operasionalnya dibiayai dari hasil tanah wakaf.

Karena itulah, maka Islam sangat menganjurkan bagi orang-orang yang kaya agar mau mewariskan sebagian harta atau tanahnya guna kepentingan Islam. Hal ini dilakukan atas persetujuan bersama serta atas pertimbangan kemaslahatan ummat dan dana yang lebih bermanfaat bagi perkembangan ummat.  Dengan demikian, manfaat wakaf tidak hanya dapat dirasakan oleh ummat Islam saat ini, akan tetapi dapat juga dirasakan manfaatnya bagi generasi ummat Islam pada masa-masa yang akan datang.

Adapun hikmah wakaf adalah sebagai berikut:

Melaksanakan perintah Allah ‘Azza Wa Jalla untuk selalu berbuat baik. Firman Allah ‘Azza Wa Jalla:  “Hai orang-orang yang beriman, ruku’lah kamu, sujudlah kamu, sembahlah Tuhanmu dan berbuatlah  kebajikan, supaya kamu mendapat kemenangan.” (QS Al Hajj : 77)

Memanfaatkan harta atau barang tempo yang tidak terbatas.

Kepentingan diri sendiri sebagai pahala sedekah jariah dan untuk kepentingan masyarakat Islam sebagai upaya dan tanggung jawab kaum muslimin atas kaum muslimin lainnya. Mengenai hal ini, RasulallahShallallaahu ‘Alaihi Wasallam bersabda dalam salah satu haditsnya:

“…Barangsiapa yang peduli terhadap kebutuhan saudaranya, maka Allah selalu peduli terhadap kebutuhannya.. ” [6]

Mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Wakaf (biasanya dapat) diberikan kepada badan hukum yang bergerak dalam bidang sosial kemasyarakatan. Hal ini sesuai dengan kaidah usul fiqih yaitu; “Kemaslahatan umum harus didahulukan daripada kemaslahatan yang khusus.”

Tujuan wakaf dapat tercapai dengan baik, apabila faktor-faktor pendukungnya ada dan berjalan. Misalnya nadir atau pemelihara barang wakaf. Wakaf yang diserahkan kepada badan hukum biasanya tidak mengalami kesulitan. Karena mekanisme kerja, susunan personalia, dan program kerja telah disiapkan secara matang oleh yayasan penanggung jawabnya.[7]

Adapun manfaat wakaf bagi orang yang menerima atau masyarakat adalah:

Mampu menghilangkan kebodohan dan mencerdaskan ummat.Mampu menghilangkan atau mengurangi tingkat kemiskinan.Mampu menghilangkan atau mengurangi kesenjangan sosial sehingga laju ekonomi tidak terpusat pada kelompok masyarakat ekonomi kelas atas saja.Mampu menstimulus kemajuan serta meningkatkan kesejahteraan ummat.[1] Shalih Al-Utsaimin, Syaikh Muhammad, Panduan Wakaf, Hibah dan Wasiat dalam Al-Qur’an dan As-Sunnah, Penerjemah; Abu Hudzaifah, Penerbit: Pustaka Iman Syafi’i, 2008. dan Rasyid, H. Sulaiman, Fiqih Islam (Hukum Fiqh Islam), Penerbit Sinar Baru Algensindo, Cetakan ke-34, 2001.

[2] Diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam Kitab “Asy-Syuruuth”, Bab ”As-Syuruut fil Waqf,” (no. 2737) dan Muslim Kitab ”al-Washiyyah”, Bab ”al-Waqf” (no. 1633) dari Ibnu Umar Radiyallahu anhuma.

[3] Rasyid, H. Sulaiman, Fiqih Islam (Hukum Fiqh Islam), Penerbit Sinar Baru Algensindo, Cetakan ke-34, 2001.

[4] Sabiq, Sayyid, Fiqih Sunnah (IV/282), Bab ”al-Waqf”, Pentahqiq: Syaikh Muhammad Naashiruddin Al-Albani, Penerbit: Daarul Fath, Cetakan Kedua, Tahun 1419 H/1999 M. Sayyid Sabiq berkata: dan yang dimaksud dengan shadaqah jariyah adalah wakaf.

[5] Diriwayatkan oleh Muslim (III/ 1255) dalam Kitab “al-Washiyyah”, Bab “Maa Yalhaqul Insaan minast tsawaabi ba’da wa faatihi”, Abu Daud (III/300) dalam Kitab ”al-Washiyyah”, Bab ”Ash-shadaqatu ’anil mayyit”, An-nasa’i (VI/251) dalam Kitab ”al-Washiyyah”, Bab ”Fadhlush shadaqah ’anil mayyit”, At-Tirmidzi (III/651) dalam Kitab ”Al-Ahkaam”, Bab ”Fil Waqf” dan At-Tirmidzi berkata : Hadits Hasan Shahih.

[6] Muttafaqun ’alaih. Diriwayatkan oleh al-Bukhari (V/97, Al-fath) dan Muslim (2580) dari sahabat Ibnu Umar Radiyallaahu ‘Anhuma.

[7] www. hbis.wordpress.com, tentang: Ketentuan-Ketentuan Wakaf oleh Badan Hukum.

Wallahu a’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.