Jual Beli Barang yang Tidak Bisa Diserahterimakan

0
827

Oleh : Muhammad Abduh Tuasikal

Di antara bentuk jual beli yang terlarang adalah jual beli suatu barang yang tidak bisa diserahterimakan.

Contohnya adalah jual beli barang yang dicuri, dirampok, atau dirampas. Saat itu barang tersebut tidak mampu diserahterimakan.

Jika barang tidak mampu diserahterimakan, maka biasa dijual dengan harga yang tidak terlalu tinggi. Jika pembeli bisa mendapatkannya, maka itu beruntung sekali. Namun jika tidak, maka ia akan menderita kerugian. Inilah yang disebut maysir atau judi. Bentuk maysir inilah yang diperintahkan untuk dijauhi sebagaimana disebut dalam ayat,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنَّمَا الْخَمْرُ وَالْمَيْسِرُ وَالْأَنْصَابُ وَالْأَزْلَامُ رِجْسٌ مِنْ عَمَلِ الشَّيْطَانِ فَاجْتَنِبُوهُ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, maysir (berjudi), (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.” (QS. Al Maidah: 90).

Bentuk di atas juga termasuk ghoror. Dalam hadits, Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu berkata,

نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ بَيْعِ الْحَصَاةِ وَعَنْ بَيْعِ الْغَرَرِ

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang dari jual beli hashoh (hasil lemparan kerikil, itulah yang dibeli) dan melarang dari ghoror” (HR. Muslim no. 1513). Yang dimaksud ghoror adalah adanya ketidakjelasan memperoleh barang yang akan dibeli.

Akan tetapi jual beli di atas jadi sah jika barang yang hilang tersebut mampu diperoleh. Saat itu tidak ada lagi ghoror.  Begitu pula jadi sah jual beli burung yang terbang di udara jika memang ia bisa kembali ke sangkarnya lagi. Sama halnya dengan jual beli ikan dalam kolam, itu jadi sah jika mudah ditangkap.

Wallahu a’lam. Semoga sajian fikih jual beli ini bermanfaat.

Referensi:

Al Mukhtashor fil Mu’amalat, Syaikh Prof. Dr. Kholid bin ‘Ali bin Muhammad Al Musyaiqih, terbitan Maktabah Ar Rusyd, cetakan tahun 1431 H.

Diselesaikan menjelang shalat Zhuhur, Rabu, 27 Rabi’ul Awwal 1435 H di Warak, Girisekar

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.