Jika Ponpes Dianggap Sarang Teroris, Maka Universitas Sarang Koruptor

0
1676
Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst, Harits Abu Ulya (Foto: Jurnalislam).

JAKARTA, (Beritalangitan.com) – Klaim Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Saud Usman Nasution yang menyatakan adanya 19 pondok pesantren (Ponpes) terindikasi mengajarkan radikalisme yang mengarah kepada terorisme dinilai sebagai klaim sepihak. Seperti yang telah dilansir dari katakabar.com, tuduhan tidak beralasan ini dikhawatirkan malah memicu kemarahan umat muslim di Indonesia. Hal itu disampaikan Pengamat kontra-terorisme, Harits Abu Ulya.

“Jika BNPT tidak jelas tolak ukur dan tujuan membuat katagorisasi soal radikal dan tidaknya sebuah pesantren maka sejatinya BNPT membuat daftar permusuhan terhadap umat Islam, alih-alih menyelesaikan persoalan terorisme justru yang terjadi adalah menstimulasi kemarahan dan sikap radikal makin mengkristal dari sekelompok umat Islam yang merasa dizalimi,” kata Harits Abu Ulya, Sabtu (6/2/2016).

Harits mengulas, tudingan BNPT itu bisa menuai kegaduhan di kalangan umat Islam khususnya kalangan pondok pesantren. Apalagi banyak yang menyayangkan sikap BNPT karena tidak transparan dan cenderung cacat logika.

“Jangan sampai hanya karena ada alumni dari pesantren tertentu kemudian tersangkut tindak pidana tertentu semisal terorisme lalu di generalisir bahwa pesantren tersebut mengajarkan radikalisme bahkan terorisme. Tentu ini logika yang cacat, membuat analogi general yang dasarnya lebih karena tendensi dan kecurigaan,” tutur dia.

Direktur The Community of Ideological Islamic Analyst (CIIA) itu mengungkapkan cacat logika yang digunakan BNPT sama saja dengan menyamakan semua lulusan sebuah universitas yang kedapatan alumnus mereka melakukan korupsi sebagai sarang koruptor.

“Kenapa logika seperti itu tidak diterapkan pada kasus tindak pidana yang lain? Koruptor yang ketangkap kenapa tidak pernah dipersoalkan dari alumni mana dia kuliah, para pembegal, penipu, pemerkosa, para pejabat yang dzalim mengkhianati amanah rakyat kenapa tidak dipersoalkan dari mana mereka sekolah? Dan dipersoalkan institusi sekolahnya,” sindir Harits.

Sebelumnya, Kepala BNPT Saud Usman Nasution mengatakan 19 pondok pesantren di Indonesia terindikasi mendukung kegiatan radikalisme dan terorisme.

“Dari hasil ‘profiling’ tim di lapangan, ada 19 ponpes yang terindikasi mendukung radikalisme dan terorisme,” kata Saud Usman dalam diskusi tentang tindak terorisme di kantor DPP Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) di Jakarta, Selasa (2/2) lalu. (jm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.