Bacakan Puisi Kekejaman Komunis, Taufik Ismail Diusir Di Forum ‘Membedah Tragedi 1965’

0
4077
Taufik Ismail sedang membacakan puisi.

(Beritalangitan.com) – Portalpiyungan.com mengabarkan mengenai pengusiran sastrawan senior Taufik Ismail yang sedang membacakan puisi dalam acara ‘membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan’, yang diadakan di Hotel Aryaduta, Jakarta, Senin (18/4/2016). Berikut pemberitaannya :

Pemerintah Jokowi melalui Dewan Pertimbangan Presiden dan Kantor Koordinator Politik Hukum dan Keamanan menggelar simposium nasional bertajuk ‘Membedah Tragedi 1965, Pendekatan Kesejarahan’.

Seperti dilansir merdeka.com dan suara.com, saat akan memasuki sesi terakhir dari rangkaian acara, tiba-tiba penyair senior Taufik Ismail tampil dan langsung membacakan sebuah puisi di hadapan para peserta simposium.

Sebagian hadirin langsung riuh, dan beberapa di antaranya meneriakkan ketidaksukaan mereka atas penampilan sastrawan Taufik Ismail yang membacakan puisi yang bercerita tentang kekejaman komunis membunuh masyarakat di sejumlah negara di dunia.

Selama membacakan puisinya, Taufik diiringi oleh sejumlah sorakan dan teriakan cemoohan dari beberapa peserta simposium, yang ditanggapi Taufik dengan mengikuti

kalimat-kalimat sorakan tersebut di sela-sela bait puisi yang sedang dibacakannya.

Hingga sampai pada suatu bait puisi Taufik yang menceritakan mengenai orang-orang yang membantai saudara sebangsanya sendiri, maka timbul lah suara protes yang lebih lantang dari arah para peserta simposium, dengan menggunakan pengeras suara.

“Berhenti! Itu provokator, itu provokator!” teriak seorang peserta melalui pengeras suara.

Tanpa menghiraukan mereka, Taufik terus membacakan puisinya walau suasana sudah semakin riuh dengan suara-suara protes dari para peserta simposium.

“Itu bukan puisi, itu provokasi,” teriak salah seorang peserta simposium lainnya.

“Biar saya selesaikan puisinya…” ujar Taufik yang langsung dihentikan oleh salah seorang panitia simposium, demi menyudahi kegaduhan yang terjadi.

Tanpa sepatah kata, Taufik pun akhirnya pergi diiringi riuh sorakan dan teriakan dari peserta simposium yang mencemoohnya dengan berbagai kalimat cemoohan.

Diketahui, Taufik Ismail merupakan salah satu punggawa dari kelompok Manifestasi Kebudayaan (Manikebu), yang pasca G30S dinilai cukup vokal menyerang Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra) sebagai basis kesenian dan onderbouw Partai Komunis Indonesia (PKI).

Sentimen para peserta simposium yang sebagian besar merupakan para korban dan penyintas Tragedi ’65 nyatanya masih cukup besar kepada penyair tersebut.

Apakah ini pertanda bangkitnya PKI sudah terjadi?

Berikut petikan puisi Taufiq Ismail Yang Membuatnya Diusir Di Forum ‘Membedah Tragedi 1965’ : 
Dua orang cucuku, bertanya tentang angka-angka
Datuk-datuk, aku mau bertanya tentang angka-angka
Kata Aidan, cucuku laki-laki
Aku juga, aku juga, kata Rania cucuku yang perempuan
Aku juga mau bertanya tentang angka-angka

Rupanya mereka pernah membaca bukuku tentang angka-angka dan ini agak mengherankan

Karena mestinya mereka bertanya tentang puisi
Tetapi baiklah,
Rupanya mereka di sekolahnya di SMA ada tugas menulis makalah
Mengenai puisi, dia sudah banyak bertanya ini itu, sering berdiskusi
Sekarang Aidan dan Rania datang dengan ide mereka menulis makalah tentang angka-angka

Begini datuk,

Katanya ada partai di dunia itu membantai 120 juta orang, selama 74 tahun di 75 negara
Kemudian kata Aida dan Rania, ya..ya..120 juta orang yang dibantai
Setiap hari mereka membantai 4500 orang selama 74 tahun di 75 negara

Kemudian cucuku bertanya
Datuk-datuk, kok ada orang begitu ganas..?

Kemudian dia bertanya lagi,

kenapa itu datuk? Mengapa begitu banyak?

Mereka melakukan kerja paksa, merebut kekuasaan di suatu negara
Kerja paksa
Kemudian orang-orang di bangsanya sendiri berjatuhan mati
Kerja paksa

Kemudian yang ke dua

Sesudah kerja paksa,
Program ekonomi diseluruh negara komunis tidak ada satupun yang berhasil
Mati kelaparan, bergelimpangan di jalan-jalan

Kemudian yang ketiga,

Sebab jatuhnya Puisi ini

Sebabnya adalah mereka membantai bangsanya sendiri, 
Mereka membantai bangsanya sendiri
Di Indonesia
Pertamakali di bawa oleh Musso, di bawa Musso. 
Di Madiun mereka mendengarkan pembantaian.

Sebelum G30S, Taufiq Ismail memang dikenal benci dengan PKI. Ia sempat menggagas Manifes Kebudayaan untuk menandingi seniman/sastrawan Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Lekra merupakan organisasi kebudayaan sayap kiri di Indonesia. Lekra didirikan atas inisiatif D.N. Aidit, Nyoto, M.S. Ashar, dan A.S. Dharta pada tanggal 17 Agustus 1950. (as/aw)

Sumber : Portalpiyungan

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.