Mutiara Bangsa Dicap Sarang Teroris, Kyai NU Depok Meradang

0
1413
Para ulama berkumpul di Ponpes Mutiara Bangsa (VIVA.co.id/Zahrul Darmawan).

Beritalangitan.com – Kasus penyerangan yang dilakukan sekelompok preman di Pondok Pesantren Mutiara Bangsa, Beji, Depok, Jawa Barat, membuat sejumlah kyai Nahdatul Ulama (NU) Kota Depok meradang.

Mereka pun mengutuk keras aksi anarkis tersebut, terlebih dengan beredarnya isu teroris yang saat ini menyasar ponpes tersebut.

Hal itu diungkapkan langsung Ketua Pengurus Cabang NU Kota Depok, Raden Salamun, bersama sejumlah kyai NU lainnya saat mengunjungi langsung Ponpes Mutiara Bangsa, seperti dilansir Viva, Kamis (17/3/16) sore.

“Kami yakin ponpes ini adalah sebagaimana ponpes NU lainnya. Kami pastikan (Ponpes Mutiara Bangsa) bukan sarang preman apalagi teroris seperti yang dituduhkan oleh pihak-pihak tidak bertanggung jawab,” tegasnya.

Di tempat yang sama, Kyai Muflih Sartono, menjelaskan, Ponpes Mutiara Bangsa terdaftar di Kementerian Agama dengan nomor statistik 52327604630. Ponpes ini juga terdaftar sebagai pesantren di bawah naungan PCNU.

“Justru pesantren ini didirikan dalam rangka ikut membumikan ajaran Islam yang ramah, toleran dan rahmatan lil alamin. Semua pengajarnya tidak ada yang keluar dari nilai-nilai keislaman yang berpaham Ahlul Sunnah wal Jama’ah,” jelas Muflih.

Pasalnya, lanjut dia, sejak didirikan, pesantren ini berpijak pada tiga pilar, yaitu keilmuan, perekonomian dan tasawuf guna menjawab tantangan zaman. Dengan begitu, pesantren ini memfokuskan pengajaran pada mahasiswa yang berasal dari sejumlah perguruan tinggi.

“Di sini ada sekitar 55 santri. Mereka semua mahasiswa perantau. Ada yang kuliah di Universitas Indonesia, Politeknik Negeri Jakarta, Universitas Gunadarma dan Universitas Pancasila. Kita mengajarkan para santri untuk menjadi generasi muda yang unggul dari segi intelektual dan kuat dari segi religius,” tutur dia.

Terkait Proyek Tol Cijago

Pihak ponpes menduga tudingan sarang teroris itu keluar dari mulut preman yang melakukan aksi penyerangan. Sebab, mereka ngotot ingin menguasai ponpes lantaran diyakini memiliki nilai jual tinggi, mengingat akan dilintasi Proyek Tol Cijago yang saat ini prosesnya sedang berjalan.

“Kita diserang saat jam belajar. Mereka tidak hanya mengintimidasi dengan perlakuan dan kata-kata kasar, tapi juga melakukan aksi pengrusakan. Bahkan sejumlah fasilitas ponpes sempat dikeluarkan secara paksa. Kita tidak bisa melawan karena jumlah mereka saat itu cukup banyak,” kata Ustad Achmad Fauzi, pengajar sekaligus saksi.

Terkait hal itu, ia pun mendesak pemerintah dan aparat keamanan untuk segera mengambil langkah tegas atas kasus ini. Sementara Kasat Reskrim Polresta Depok, Komisaris Teguh Nugroho, mengaku telah mengerahkan satuannya untuk mengawasi lokasi kejadian.

“Kasus ini masih dalam penyelidikan. Kami sangat prihatin dan kami serius agar ini menjadi titik yang perlu disiapkan. Kami lihat persoalan ini belum selesai,” ujarnya. (jm/blc)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.