Warga Ahmadiyah di Bangka memilih ‘tetap bertahan’

0
847
Jemaah Ahmadiyah di lokasi pengungsian di pinggiran kota Mataram, NTB, melakukan kegiatan sholat berjamaah.

Beritalangitan.com – Jemaah Ahmadiyah di Kabupaten Bangka memilih ‘tetap bertahan’ di Srimenanti, Sungailiat, Bangka, walaupun diancam akan diusir pada Jumat (05/02) oleh sekelompok orang.

“Kami ingin hidup damai di sini, seperti sebelum-sebelumnya. Karena sebelumnya itu damai,” kata Fitria, tim advokasi Ahmadiyah pusat, yang mendampingi jemaah Ahmadiyah di Srimenanti, Bangka, Seperti yang dilansir bbc.com,¬†Jumat (05/02) siang.

Sebelumnya, sekelompok orang telah mengultimatum jemaah Ahmadiyah di Srimenanti untuk meninggalkan lokasi tempat tinggalnya atau, “kembali ke ajaran Islam.”

Dan pada Jumat (05/02) pagi, sekelompok orang yang mengatasnamakan “pimpinan ormas” tertentu dan didampingi pejabat TNI di tingkat lokal mendatangi kantor sekretariat Ahmadiyah di kawasan Srimenanti, Sungailiat, kata tim advokasi Ahmadiyah pusat.

“Mereka memberikan beberapa opsi untuk kami pilih,” kata Fitria pula.

Ini adalah tuntutan kesekian kalinya terhadap jemaah Ahmadiyah di Srimenanti, menyusul surat edaran pemerintah Kabupaten Bangka agar mereka “kembali ke ajaran Islam” atau meninggalkan daerah itu.

Sikap pemerintah Kabupaten Bangka ini telah mendapat sorotan dan penolakan dari para pegiat HAM.

Empat opsi

Dalam dialog tersebut, menurut Fitria, pimpinan ormas mengajukan empat opsi.

“Yang pertama, (mereka meminta jemaah Ahmadiyah) menghentikan kegiatan; Kedua, melokalisir dari tempat ini, tidak boleh ada kegiatan yang meresahkan warga; Ketiga, mengevakuasi (jemaah Ahmadiyah) ke tempat yang disediakan oleh pemerintah; Dan keempat, ini tambahan dari Bupati (Kabupaten Bangka), ditempatkan di suatu tempat…,” ungkap Fitriah.

Dalam dialog itu, menurutnya, pimpinan ormas tersebut menyampaikannya secara lisan, dan menolak menuliskannya seperti dituntut pimpinan jemaah Ahmadiyah di Srimenanti, Bangka.

Aksi penolakan terhadap ajaran dan kehadiran jemaah Ahmadiyah telah berulangkali disuarakan kelompok penentangnya.

Sampai pukul 13.30 WIB, BBC Indonesia belum bisa menghubungi pimpinan atau perwakilan ormas yang menolak keberadaan warga Ahmadiyah di Bangka.

Lebih lanjut Fitria mengatakan, dialog itu dihentikan sementara, setelah mereka meminta “tuntutan empat opsi” itu dituliskan.

“Setelah break (rehat) selesai, mereka belum mau menuliskannya,” katanya.

Ditanya bagaimana sikapnya atas tuntutan tersebut, Fitria mengatakan: “Kami tidak memberikan tanggapan apa-apa.”

Kesepakatan Komnas HAM dan Bupati

Menurut Fitria, di sela-sela dialog tersebut, pihaknya menerima informasi dari perwakilan Komnas HAM bahwa “ada kesepakatan antara Komnas HAM dan Bupati Kabupaten Bangka.”

Belum jelas isi kesepakatan tersebut. Sampai pukul 13.30 WIB, BBC Indonesia telah menghubungi telepon genggam anggota Komnas HAM Imdadun Rahmat, tetapi belum mendapat tanggapan.

Salah-satu sudut lokasi barak pengungsian jemaah Ahmadiyah di pinggiran kota Mataram, NTB, saat dikunjungi BBC Indonesia beberapa tahun lalu.

Fitria menambahkan, pihaknya mengutarakan informasi “hasil kesepakatan Komnas HAM dan Bupati Kabupaten Bangka” itu sebagai tanggapan tuntutan empat opsi tersebut.

“Tapi dialog tidak sampai selesai, karena harus sholat Jumat,” katanya. Dialog itu kemudian bubar.

Fitriah mengatakan: “Sikap kami, kami serahkan ke Komnas HAM.”

Dengan demikian jemaah Ahmadiyah tetap tidak akan meninggalkan kediamannya di kawasan Srimenanti?

“Kami ingin hidup damai di sini, seperti sebelum-sebelumnya. Karena sebelumnya itu damai,” tandas Fitria.

Menurutnya, dialog tersebut berjalan dengan “baik” dan “sangat sopan” serta tidak ada “ancaman fisik.” (jm)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.