Aktualisasi Nilai-nilai Islam dalam Kehidupan Kampus

0
6751
oleh Rina Setiyawati
beritalangitan.com – Kehidupan berislam tidak hanya diterapkan di lingkungan umum saja, kampus yang merupakan tempat dari kaum terpelajar harus menerapkan kehidupan islam juga. Kerena islam merupakan agama yang syamil, kamil dan mutakamil. Syamil berarti ajaran Islam bersifat menyeluruh tanpa dibatasi ruang dan waktu. Kamil berarti ajaran yang dibawa oleh Islam telah sempurna, mencakup seluruh lini kehidupan. Sedangkan mutakamil berarti Islam merupakan agama penyempurna dari agama-agama sebelumnya yang telah dibawa oleh para Nabi pendahulu. Dengan demikian Islam tidak membutuhkan adanya penambahan dan pembaharuan apalagi pengurangan. Syamil ini lah yang menjadi landasan kampus juga harus menerapkan kehidupan islami.
Pengertian Aktualisasi Islam
Aktualisasi Islam adalah penjabaran nilai-nilai Islam dalam bentuk norma-norma dan merealisasikannya dalam kehidupan sehari-hari secara individual, berbangsa dan bernegara. Aktualisasi Islam dalam kehidupan kampus adalah realisasi penjabaran nilai-nilai Islam dalam bentuk norma-norma dalam setiap aspek kehidupan kampus yang dilaksanakan oleh seluruh lapisan masyarakat kampus. Penjabaran nilai-nilai Islam diwujudkan dalam bentuk norma hukum, kenegaraan, dan moral yang dibingkai dalam aspek ibadah dan akhlak. Sedangkan realisasinya dikaitkan dengan perilaku setiap individu dalam hubungannya dengan Allah (hablum minallah) dan hubungannya dengan manusia (hablum minanas)
Wujud dan Pendekatan Aktualisasi Nilai-nilai Islam
Tiga wujud dalam mengaktualisasi nilai-nilai Islam dalam kehidupan kampus:
  1. Aspek Fisik – Aktualisasi nilai-nilai Islam diwjudkan dalam bentuk ibadah (mushalla/masjid), perpustakaan, tulisan (spanduk, dan peraturan
  2. Aspek kegiatan – Berupa perkuliahan, asistensi, seminar, kajian, dan lain-lain.
  3. Sikap dan perilaku – Diwujudkan dalam bentuk budaya salam, sapaa, silaturahim dan penampilan.
Muhadjir Effendi menawarkan dua pendekatan untuk mewujudkan sebuah kampus yang bercitrakan agama, yaitu:
  1. Pendekatan formal – Pendekatan dalam bentuk kegiatan kurikuler (kegiatan pengajaran secara tatap muka di kelas)
  2. Pendekatan Non Formal – Pendekatan dalam bentuk kegiatan ekstrakurikuler.
Perguruan Tinggi Umum sepertinya akan mengalami benturan struktural dan institusional ketika hendak mewujudkan sebuah kampus religius. Sebab dalam muatan kurikulumnya, masih adanya dualisme antara ilmu agama dan ilmu “sekuler”, antara mata kuliah agama dan mata kuliah umum. Beberapa metode untuk mengatasi duslisme (Kuntowijoyo, 1991::352-353):
  1. Memasukkan mata kuliah keislaman sebagai bagian kurikulum yang ada.
  2. Menawarkan beberapa mata kuliah pilihan dalam bidang studi Islam, setelah mahasiswa menempuh mata kuliah PAI tingkat dasar pada awal semester, pada semester berikutnya diharusnya memilih studi Islam secara bebas, seperti tafsir dan fiqh.
  3. Diajarkannya mata kuliah filsafat ilmu untuk memberikan latar belakang filosofis mengenai mata kuliah umum yang diajarkan.

Budaya Akademik

Budaya akademik merupakan proses belajar mengajar dan penelitian dalam arti sebenarnya, Al Qur’an menebutnya sebagai tradisi rabbani yang artinya orang yang ma’rifah kepada Allah, berpegang tegung pada agama Allah dan selalu taat padanya. Allah berfirman dalam QS.Ali Imran :79:
 1
79.  Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al-Kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia berkata kepada manusia: Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah. Akan tetapi (dia berkata): Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani, karena kamu selalu mengajarkan Al-Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.

Budaya akademik dalam pandangan Islam adalah suatu tradisi atau kebiasaan yang berkembang dalam dunia Islam menyangkut persoalan keilmuan. Atau dalam bahasa yang lebih sederhana adalah tradisi ilmiah yang dikembangkan Islam. Di antara poin-poin pentingnya adalah pertama, tentang penghargaan Al-quran terhadap orang-orang yang berilmu, di antaranya adalah:

  1. Wahyu Al-quran yang turun pada masa awal mendorong manusia untuk memperoleh ilmu pengetahuan.
  2. Tugas Manusia sebagai khalifah Allah di Bumi akan sukses kalau memiliki ilmu pengetahuan.
  3. Muslim yang baik tidak pernah berhenti untuk menambah ilmu.
  4. Orang yang berilmu akan dimuliakan oleh Allah SWT.

Di samping memberikan apresiasi terhadap orang yang berilmu poin penting lain yang dijelaskan Al-quran adalah bahwa:

  1. Iman seorang muslim tidak akan kokoh kalau tidak ditopang dengan ilmu, demikian juga dengan amal shalih.
  2. Tugas kekhalifahan manusia tidak akan dapat sukses kalau tidak dilandasi dengan ilmu.
  3. Karakter seorang muslim yang berbudaya akademik adalah; orang yang selalu mengingat Allah yang disertai
  4. dengan ikhtiar untuk selalu menggunakan akalnya untuk memikirkan ciptaan Allah SWT. Serta selalu berusaha menambah ilmu dengan membuka diri terhadap setiap informasi yang baik dan kemudian memilih yang terbaik untuk dijadikan pegangan dan diikutinya.

Budaya akademik sebagai sub system perguruan tinggi memegang peranan penting dalam upaya membangun dan menegmbangkan kebudayaan dan peradaban masyarakat (civil society) dan bangsa secara keseluruhan.Budaya akademik sebenarnya merupakan budaya universal.Artinya, dimiliki oleh setiap orang yang melibatkan dirinya dalam aktivitas akademik. Mmebangun budaya akademik Perguruan Tinggi merupakan pekerjaan yang tidak mudah, karena ini menangkut mental para civitas akademik yang terlibat didalamnya.Terciptanya budaya akademikberarti terciptanya budaya pelajar secara konsisten,sistematis, dan berkesinambungan dalam kehidupan civitas akademika, baik ketika di dalam kampus seperti  kuliah tatap muka di kelas, praktek di lab, membaca di perpustakaan, dan stadium general. Sedangkan di luar kampus seperti seminar, diskusi, penelitian dan pengabdian masyarakat.

Islam memberikan spirit yang begitu tinggi terhadap terciptanya budaya akademik. Misalnya pada QS. An Nissa ayat 162,Allah SWT Berfirman :

3

162.  Tetapi orang-orang yang mendalam ilmunya di antara mereka dan orang-orang mumin, mereka beriman kepada apa yang telah diturunkan kepadamu (Al-Quran), dan apa yang telah diturunkan sebelummu dan orang-orang yang mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan yang beriman kepada Allah dan hari kemudian. Orang-orang itulah yang akan Kami berikan kepada mereka pahala yang besar.

Secara lebih mendalam, fungsi budaya akademik akan tercermin dalam fungsi – fungsi belajar yaitu:

  1. Fungsi fikriyah memperdalam kemampuan berpikir analistis, kritis, sistematis; memperluas kreatifitas bagi dosen dan mahasiswa sesuai dengan kemajuan jaman.
  2. Fungsi ruhiyah, mempertajam intuisi, hati serta mental dosen dan mahasiswa agar lebih peka, lebih inovatif dalam menyelesaikan segala permasalahan di kampus maupun di masyarakat.
  3. Fungsi jasadiyah, menignkatkan keaktifan dan keefektifan dosen dan mahasiswa dalam menuntut ilmu, mengembangkan dan menerapkan ilmu
Pemilikan budaya akademik ini seharusnya menjadi idola semua insan akademisi perguruaan tinggi, yakni dosen dan mahasiswa. Derajat akademik tertinggi bagi seorang dosen adalah dicapainya kemampuan akademik pada tingkat guru besar (profesor). Sedangkan bagi mahasiswa adalah apabila ia mampu mencapai prestasi akademik yang setinggi-tingginya.
Khusus bagi mahasiswa, faktor-faktor yang dapat menghasilkan prestasi akademik tersebut ialah terprogramnya kegiatan belajar, kiat untuk berburu referensi actual dan mutakhir, diskusi substansial akademik, san dibarengi dengan prestasi ibadah dan ketundukan kepada Allah SWT, karena itu merupakan cirri seorang ilmuwan Allah berfirman di dalam Al Qur’an :
Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah diantara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.(QS.Faathir:28)   Dengan melakukan aktivitas seperti itu diharapkan dapat dikembangkan budaya mutu (quality culture) yang secara bertahap dapat menjadi kebiasaan dalam perilaku tenaga akademik dan mahasiswa dalam proses pendidikan di perguruaan tinggi dan dibarengi dengan sikap religius yang baik.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.