Catatan Hijrah Eks-Banker: Berani ke Titik Minus Demi Hidup yang Lurus

1
466

beritalangitan.com – Mendapatkan pekerjaan yang dapat memberikan keberlimpahan harta dan kemapanan tentu menjadi idaman setiap orang dalam hidupnya. Namun, hal tersebut belum tentu sejalan dengan pencapaian kebahagiaan dan ketentraman hidup seseorang. Hal ini sebagaimana yang dialami pasangan eks-banker, Andi Asrianto Iskandar dan istrinya, Rima Melati Oktaviani.

Andi adalah lelaki berdarah Makassar, dari keluarga berada dan terpandang di lingkungannya. Kondisi keluarga seperti itu, tentu memberikan kelapangan materi bagi Andi. Bahkan dia dapat menyelesaikan studi S1 Ekonomi Pembangunan dan S2 Manajemen Industri Kecil Menengah di IPB, Bogor, dengan nyaris tanpa kesulitan finansial. Meskipun selama menyelesaikan studi, Andi belum bekerja.

Adapun Rima adalah wanita yang beruntung. Betapa tidak, selulus kuliah dari D3 Supervisor Jaminan Mutu Pangan, IPB, Bogor, tahun 2005, Rima langsung diterima bekerja di salah satu perusahaan pangan di Cianjur, Jawa Barat. Dan bahkan, tiga tahun setelah itu, dia dapat diterima menjadi pegawai di salah satu bank swasta nasional dengan mudah, meskipun bidang ini sangat tidak sesuai dengan keahliannya.

Andi dan Rima menikah tahun 2009. Awal pernikahan mereka berjalan normal saja. Hingga seiring berjalannya waktu, masalah pun kian bermunculan.

Pada tahun 2012, pasangan ini terlibat investasi emas online. Karena tergiur akan keuntungan yang diberikan, mereka pun meminjam dana dengan jaminan BPKB kendaraan mereka. Dan dari investasi ini, mereka dapat memperoleh dividen hingga Rp15.000.000 per bulan. Penghasilan yang sangat menggiurkan untuk sebuah bisnis sampingan. Apesnya mereka ajak pula kerabat, teman dan tetangga untuk berinvestasi. Dari sana, terkumpullah aset hingga miliaran rupiah.

Dan pada akhirnya mereka dikejutkan sebuah pemberitaan bahwa perusahaan investasi emas tersebut adalah bodong. Perusahaan tempat mereka berinvestasi itu pun hilang tanpa jejak. Andi dan Rima pun hanya bisa gigit jari dan harus menanggung utang Rp300 jutaan. Keluarga, teman dan tetangga yang ikut berinvestasi pun kian menuntut pertanggungjawaban mereka.

“Kami tidak bisa berbuat apa-apa, karena kami pun korban. Kami pun dimusuhi, dijauhi, dijelek-jelekan oleh keluarga, teman, dan yang lainnya.” Tutur Rima.

Untuk menutupi utang dan kebutuhan sehari-hari mereka bekerja dengan keras. Andi sempat bekerja pada suatu perusahaannya leasing, hingga akhirnya mengikuti jejak sang istri menjadi pegawai bank. Sebagai pasangan yang sama-sama bekerja menjadi pegawai bank, tentu sangat menjamin kebahagiaan secara finansial. Namun ternyata, tidaklah demikian bagi mereka. Mereka semakin diperbudak pekerjaan. Bahkan mereka sudah terbiasa mengakhirkan sholat karena tugas kerja yang menumpuk.

“Emang sih secara penghasilan kami besar. Tapi kok gini-gini amat ya hidup? Masalah datang bertubi-tubi. Kami sadari, ini pasti ada yang salah.” Tutur Andi.

Mereka mencoba untuk merenungi masalah demi masalah yang mereka alami. Mulai dari keguguran anak pertama, kecelakaan hebat saat mengandung anak kedua, investasi bodong yang menyebabkan lilitan utang semakin mencekik, anak yang sering sakit-sakitan tanpa jelas penyebabnya, dan peristiwa lainnya. Hingga mereka meyakini bahwa itu semua adalah berawal dari riba. Bukan karena mereka terjebak riba saja, bahkan mereka pun menjadi pelaku riba itu sendiri.

Hingga akhirnya mereka bertemu dengan seorang ustadz yang menasehati mereka tentang bahaya dosa riba. Hal yang menyentuh fitrah mereka adalah ketika ustadz tersebut mengatakan bahwa dosa terkecil dari riba adalah seperti menzinahi ibu kandung (orang tua) sendiri.

Dari sanalah, perjalanan hijrah mereka dimulai. Awal Maret 2017, mereka pun resign dari pekerjaan masing-masing sebagai pegawai bank. Bukan hanya mereka memulai dari titik nol, tapi bahkan dari titik minus, tanpa pekerjaan sama sekali, dengan catatan utang yang masih menumpuk.

Untuk menyambung hidup, mereka mencoba berjualan apapun yang penting halal. Jatuh bangun dalam membangun usaha mereka pun alami. Dan kini Andi bersama rekan-rekan sesama eks-bank mengembangkan lembaga muamalah yang diberi nama Mulia Muamalah Syar’i. Lembaga ini dibangun, supaya menjadi sarana diskusi dan menjadi solusi muamalah yang terhindar dari riba, gharar, maisir, dan dzolim.

Setidaknya dengan lembaga tersebut, Andi tidak menghianati perjuangan orang tuanya yang telah menyekolahkannya hingga mendapat gelar magister. Jika sebelumnya gelar tersebut digunakan untuk melawan Allah, kini gelar tersebut digunakan untuk menjadi sarana ibadah. Diharapkan hal ini dapat menjadi amal jariyah bagi orang tuanya, bukan lagi dosa jariyah bagi mereka.

Tahun 2019, mereka mendapat kesempatan untuk menuliskan perjalanan hijrahnya bersama eks-bank lainnya dalam sebuah buku yang berjudul “Bismillah, Aku Resign!”.

Kini Andi dan Rima lebih menikmati hidup, meski dengan serba kesederhanaan dan keterbatasan finansial. Sangat berbanding terbalik dari kehidupan sebelumnya yang penuh glamor dan keberlimpahan harta, namun jauh dari ketentraman.

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.