Di Jakarta Marak Unjuk Rasa, Petani Cianjur Mengeluh Harga Sayuran Anjlok

0
135

Cianjur beritalangitan.com – Sejumlah Petani sayuran di Cipanas mengaku terkena imbas aksi demo yang akhir akhir ini marak di ibukota. Rabu 02/10/19

Pasalnya, sejak kerusuhan yang terus terjadi di Ibukota, harga sayuran terus mengalami penurunan. Diperkirakan, penurunan mencapai 50 persen. Baik harga dari petani ke tengkulak, hingga ke penjual di lapak-lapak pasar tradisional di Jakarta. Dikutip dari radar.com

Hal ini deibenarkan Cep Busyrol (35), seorang petani warga Sindanglaya, Kecamatan Cipanas, ia mengaku sejak pecahnya kerusuhan akibat aksi demo di Jakarta, harga sejumlah hasil panen mengalami penurunan.

Di antaranya wortel. Dari semula diterima oleh tengkulak Rp6.000 hingga 7.000 per kilogram, kini hanya dihargai Rp3.000 saja.

“Dampaknya itu sudah hampir sepekan. Walaupun tidak semua harga mengalami penurunan, tetapi yang paling dominan itu ketika ada peristiwa di Jakarta, pasti saja penjualan di pasar akan merosot. Ujung-ujungnya juga ke petani lagi,” kata Busyrol.

Busyrol menuturkan, dampak dari setiap kejadian apapun di Jakarta, khusus ke para petani itu pasti ada. Entah harga sayur yang anjlok, hingga hasil panen yang tak bisa dipasarkan.

Bahkan jika dipaksa untuk dipasarkan sekalipun, ujung-ujungnya kembali lagi ke tengkulak, kemudian ke petani lagi.

“Kalaupun bisa dipasarkan ke Jakarta juga sisa sayur yang gak laku balik lagi ke kita sebagai petani. Dan akhirnya ya terbuang percuma,” ungkapnya.

Sudah musim kemarau dan susah air, ditambah ada kerusuhan, itu yakin pasti akan berdampak kepada kita sebagai petani. Bahkan kerugian kami itu bisa mencapai 50 persen dari biasanya,” bebernya.

Busyrol berharap, kerusuhan itu tak terus menerus terjadi. Pasalnya, ketika rusuh, pemasaran menjadi tersendat sedangkan panen tak bisa ditunda.

Senada dengan hal itu, Edih (51) seorang tengkulak sayur di Cipanas mengakui memang ada penurunan penjualan dari pedagang di beberapa pasar di Jakarta. Hal itu juga berdampak terhadap omset dirinya sebagai pengepul sayur mayur dari petani mencapai 30 persen.

“Biasanya hasil kotor dari menjual ke pedagang (di Jakarta) itu bisa mencapai Rp1 juta. Sekarang anjlok jadi Rp300 ribu setiap satu kali pengiriman barang ke Jakarta,” terangnya.

Diakui Edih, dampak tersebut telah dialaminya sejak lima hari terakhir. Menurutnya, walaupun tidak bersentuhan langsung dengan wilayah terjadinya konflik, tetapi para pembeli yang biasanya ke pasar, jadi mengurungkan niatnya untuk berbelanja. Akibatnya, pasar mengalami penurunan penjualan.

Reporter : Rian sagita
Dikutip dari : radar cianjur

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.