Dilema Akhlak di Kampus Islami

0
933

Oleh: Flint Lockwood

Di tengah gencarnya institusi yang mendorong mahasiswa untuk berakhlak Islami ternyata perlu banyak “islamisasi” di tingkat mahasiswanya sendiri. Namun harus penulis akui bahwa masih banyak juga yang berani berjuang dengan jujur.

Banyak mahasiswa yang kucing-kucingan dengan yang berotoritas saat melakukan pelanggaran di kampus. Seperti merokok, mencontek, bolos, titip absen, dsb. Terang ini adalah penyakit yang mau tidak mau harus diobati. Atau borok dari penyakit ini akan semakin membesar. Apalagi jika institusi atau perpanjangan tangannya seperti dosen dan karyawan telah mulai acuh dengan akhlak mahasiswanya.

Saat sesi kuis pada beberapa mata kuliah, sering kali saya mendengar kasak-kusuk mahasiswa yang bertanya temannya. Ada yang mencontek kemudian teman yang lain menanyakan jawaban dari hasil contekan temannya. Dan aksi mencontek ini sering kali dilakukan dengan elegan, yakni dengan smartphone!. Dengan kemampuan smartphone dan koneksi internet mereka bebas mencari informasi di internet atau membuka slide presentasi materi yang diujikan. Bayangkan, budaya macam apa ini!

Melihat kelakuan banyak teman yang seperti itu dalam hati saya marah, kesal dan kecewa. Apalagi dengan teman satu angkatan. Saya yakin semua yang hadir di ruangan itu tahu bahwa mencontek itu tidak jujur. Tapi entah dikemanakan pengetahuan Islamnya saat itu. Apa tidak malu sama diri sendiri? Apa tidak malu dengan Allah?. Apa yang akan mereka ajarkan nanti kepada anak-anak mereka?.

Dan Katakanlah: “Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan (Q.s. At Taubah: 105)

Mencontek adalah tindakan yang tidak dewasa dan mencerminkan kepribadian mahasiswa yang bersangkutan. Dan berbuatan mencontek itu:

  1. Tidak Jujur

Jelas. Orang yang mencontek telah membohongi dirinya sendiri. Dia tidak menerima bahwa dia tidak dapat mengerjakan. Namun ia menutupinya dengan mencontek ketika ujian.

Di jaman sekarang ini kejujuran kadang sangat langka. Padahal kejujuran adalah modal untuk memperoleh aset masa depan yang lebih besar. Dengan jujur maka integritas kita terukur. Dengan jujur kita lebih dipercaya orang lain. Ingat, rejeki itu kadang dilewatkan Allah melalui orang-orang baik disekitar kita. Dan kejujuran adalah modal awal bagi kita agar orang percaya.

  1. Tidak Cerdas

Kita mendefinisikan kecerdasan dari dua hal. Pertama, kemampuan untuk belajar dengan baik. Kedua, kemampuan untuk belajar dari pengalamannya. Orang yang mencontek mungkin tidak masuk dalam pengertian cerdas yang pertama. Jika orang telah mengetahui jawaban ujian di kepalanya, maka kecil kemungkinan dia akan mencontek bukan?.

Besar kemungkinan pula bahwa orang yang mencontek tidak masuk dalam pengertian cerdas yang kedua. Jika mencontek itu dilakukan berulang-ulang kemungkinan dia tidak dapat belajar dari pengalaman. Jika dia cerdas, maka dia akan mempersiapkan ujiannya dengan baik tanpa harus kucing-kucingan dengan dosen atau kong-kalikong dengan teman mahasiswanya untuk mencontek.

  1. Pragmatis

Dilema yang sering terjadi di zaman sekarang adalah orientasi kehidupan yang serba pragmatis. Bahkan ini dimulai ketika masih di bangku sekolah yang intinya adalah sekolah tinggi, melamar kerja di perusahaan favorit dan mendapat gaji yang layak. Saya tidak ingin mengatakan itu salah atau benar. Tapi kita dapat menyoroti tentang cara orang tempuh untuk mencapainya.

Banyak orang kemudian menjadi gelap mata sehingga menghalalkan segala cara. Orientasi mereka akan kesejahteraan telah merusak akhlak mereka sendiri. Padahal jika dihitung-hitung maka mencontek tidak cukup berharga untuk ditukar dengan integritas kita sebagai seorang muslim.

  1. Tidak Berorientasi Jangka Panjang

Semua orang sepakat bahwa mencontek itu tidak mendidik. Selain itu mencontek juga akan mengaburkan seseorang dari tujuan jangka panjangnya. Orang yang mencontek cenderung memikirkan kebutuhan sesaat tanpa memikirkan akibat lanjutnya. Padahal penguasaan materi terhadap bidang yang ditekuni mejadi aset masa depan saja bekerja nanti. Dengan mencontek mungkin akan mengantarkannya ke meja wawancara. Namun perusahaan pasti akan selektif tentang mana orang yang benar-benar cakap dan bisa diandalkan. Dan saya rasa itu tidak terjadi pada orang-orang yang suka mencontek.

Belajar adalah prosesnya. Sementara nilai adalah konsekuensi logis dari proses belajar tersebut. Mencontek mencerminkan hasil proses belajar dan akhlak yang buruk.

Baik. Mari kita bicarakan tentang solusi sekarang. Perbuatan mahasiswa yang seperti itu tentu tidak dapat disalahkan secara sepihak dari sisi mahasiswa. Meskipun pada dasarnya mahasiswa sendiri yang paling bertanggungjawab terhadap apa yang diperbuatnya. Saya ingin menggarisbawahi disini bahwa ada banyak faktor yang mendukung terjadinya perbuatan tersebut. Seperti misalnya kontrol sosial yang buruk dari lingkungan entah itu dari teman ataupun dosen. Saya rasa faktor berikut ini yang membuat budaya mencontek menjamur.

  1. Faktor Karakter

Karakter atau akhlak ini menyumbang fraksi besar dalam tingkah laku seseorang. Akhlak secara sederhana dapat kita definisikan sebagai respon spontan dari seseorang terhadap sesuatu. Misal ketika kita melihat seorang peminta-minta, respon awal yang kita berikan kepada situasi dimana seorang meminta-minta itulah akhlak kita.

Pada kasus mencontek kita dapat menebaknya bahwa ini telah menjadi karakter seseorang jika hal itu dilakukan berulang. Hal ini tentu bisa dirubah dengan terlebih dahulu mengubah cara pandangnya terhadap kegiatan mencontek.

  1. Faktor Budaya

Faktor budaya atau kebiasaan ini sering kali sulit dihindari. Banyak orang di sekitar kita yang seolah melegalisasi kegiatan mencontek. Maksud hati tidak ingin mencontek pada saat ujian bisa jadi sirna ketika melihat lingkungan buruk yang begitu rupa. Maka penting untuk mencari lingkungan yang baik dimana berisi orang-orang jujur dan bertanggungjawab. Dan tidak usah terpengaruh terhadap keburukan teman atau lingkungan. Karena selain itu bertindak tidak jujur terhadap perasaan diri sendiri. Itu akan berakhir buruk jika diteruskan.

  1. Faktor Dosen

Ada saat dimana dosen adalah gerbang pertahanan terakhir dari institusi untuk mengakhiri contek-mencontek ini. Dosen yang baik tidak akan membiarkan mahasiswanya mencontek sedikitpun. Karena mereka tahu bahwa itu tidak adil bagi mahasiswa lain. Lagi pula hal itu juga tidak menghargai dosen sebagai fasilitator yang beritindak sebagai penguji saat ujian. Dimana sebagaimana fungsinya, ujian akan menguji penguasaan kita terhadap materi. Dan mencontek saat ujian akan menghapuskan fungsi itu.

Sebagai seorang mahasiswa/student seharusnya kita lebih sadar akan realitas. Yakni kesadaran bahwa kita adalah seorang hamba Allah yang nantinya akan mempertanggungjawabkan semua perbuatan kita dihadapan-Nya. Kesadaran bahwa kita adakan student yang sedang menjalani study agar mendapati derajat kemanfaatan yang lebih tinggi bagi diri sendiri dan sesama.

Wallhu A’lam.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.