Ditanya Wartawan AS Keinginan Masyarakat Menerapkan Syariat, Inilah Jawaban Menag

0
424

Menag Lukman Hakim Saifuddin.

JAKARTA, 21/2 (beritalangitan.com) – Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin menerima kunjungan Editor Budaya dari Far Eastern Economic Review, Margaret Scott, di Jakarta, Senin (20/02/2017).

Pada kesempatan itu, editor yang telah banyak menulis tentang Indonesia untuk The New York Review ini menanyakan berbagai isu keagamaan yang sedang berkembang di Indonesia.

Margaret yang juga masih aktif mengajar di New York University Wagner School of Public Service, Amerika Serikat, ini menanyakan mengenai adanya keinginan sebagian umat Islam untuk menegakkan syariat Islam di Indonesia.

Ia juga menanyakan pendapat Menag tentang kecenderungan umat Islam yang memegang teguh paham bahwa di tempat yang mayoritas penduduknya Muslim, maka pemimpinnya juga harus Muslim. Sedangkan menurut klaim Margaret pandangan tersebut bukanlah pandangan Islam yang moderat.

Menanggapi hal ini, Menag Lukman menjelaskan bahwa syariat itu multi-makna dan sangat luas spektrumnya. Menurutnya, ada tiga tataran penerapan nilai-nilai syariat dalam konteks Indonesia.

Pertama, nilai-nilai syariat yang dimaknai sebagai ajaran universal yang diakui dan diterima siapa saja, terlepas apa agama, suku bangsa, dan etnisnya. Termasuk dalam kategori ini adalah nilai keadilan dan penghormatan terhadap hak asasi manusia.

Kedua, nilai-nilai syariat yang kebenarannya hanya diakui umat Islam secara keseluruhan. Umat yang tidak beragama Islam, belum tentu mengakui kebenaran nilai ini. Misalnya larangan berzina, minum-minuman keras, berjudi, dan lainnya.

Ketiga, nilai-nilai syariat yang diyakini kebenarannya hanya oleh sekelompok umat Islam saja. Jangankan umat beragama lain, ada umat Islam lain yang belum tentu menerima kebenaran yang diyakini dan dianggap syariat kelompok tersebut.

Menag Lukman menegaskan, pemerintah Indonesia menerapkan syariat pada kategori pertama, bukan ketiga. Sebab, pemerintah tidak akan masuk kepada wilayah-wilayah yang pada internal umat beragama saja sudah terjadi perbedaan.

Sedangkan kategori kedua yang diyakini oleh umat Islam Indonesia secara keseluruhan tapi belum tentu diyakini umat beragama lain, itu sangat tergantung bagaimana penerapannya.

Terkhusus dalam konteks demokrasi di Indonesia, dimana regulasi dan undang-undang dibuat bersama antara pemerintah dengan parlemen. Penerapan kategori kedua ini, imbuhnya, hanya dimungkinkan ketika sesuai dengan mekanisme demokrasi yang dianut di Indonesia.

“Tentu mayoritas umat Islam yang moderat akan tetap menjaga dan memelihara nilai-nilai agama Islam yang bisa mengayomi semua, karena nilai Islam itu tidak hanya untuk umat Islam tapi untuk semua (Rahmatan lil alamin),” ujar Menag lansir laman resmi Kemenag.

Ia menekankan, tidak boleh ada nilai yang diterapkan yang justru menimbulkan keresahan di dalam masyarakat.* [hidayatullah.com]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.