Enam Periode Daripada Penciptaan

0
767
Penulis : Dr. Maurice Bucaille

Beritalangitan – Riwayat Bibel menyebutkan  secara  tegas  bahwa  penciptaan alam  itu  terjadi selama enam hari dan diakhiri dengan hari istirahat, yaitu hari Sabtu, seperti  hari-hari  dalam  satu minggu.   Kita  telah  mengetahui  bahwa  cara  meriwayatkan seperti ini telah dilakukan  oleh  para  pendeta  pada  abad keenam  sebelum  Masehi,  dan dimaksudkan untuk menganjurkan mempraktekkan istirahat hari Sabtu; tiap orang Yahudi  harus istirahat  pada  hari  Sabtu sebagaimana yang dilakukan oleh Tuhan setelah bekerja selama enam hari.

Jika kita mengikuti faham Bibel, kata  “hari”  berarti  masa antara   dua  terbitnya  matahari  berturut-turut  atau  dua terbenamnya  matahan  berturut-turut.  Hari  yang   difahami secara  ini  ada  hubungannya  dengan peredaran Bumi sekitar dirinya sendiri. Sudah terang  bahwa  menurut  logika  orang tidak  dapat memakai kata “hari” dalam arti tersebut di atas pada waktu mekanisme yang menyebabkan munculnya hari,  yakni adanya   Bumi   serta  beredarnya  sekitar  matahari,  belum terciptakan pada  tahap-tahap  pertama  daripada  Penciptaan menurut  riwayat Bibel; ketidak mungkinan hal ini telah kita bicarakan dalam bagian pertama daripada buku ini.

Jika kita menyelidiki  kebanyakan  terjemahan  Qur-an,  kita dapatkan,  seperti  yang  dikatakan  oleh  Bibel, bahwa bagi wahyu Islam, proses penciptaan berlangsung dalam waktu  enam hari.  Kita  tidak dapat menyalahkan penterjemah-penterjemah Qur-an karena mereka memberi arti “hari”  dengan  arti  yang sangat lumrah. Kita dapatkan terjemahan Surat 7 (A’raf) ayat 540Artinya: “Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan   bumi dalam enam hari.”

Sedikit  jumlah   terjemahan   atau   tafsir   Qur-an   yang mengingatkan   bahwa  kata  “hari”  harus  difahami  sebagai “periode.”

Ada  orang  yang  mengatakan  leahwa  teks  Qur-an   tentang penciptaan  alam  membagi  tahap-tahap  penciptaan itu dalam “hari-hari” dengan sengaja dengan maksud  agar  semua  orang menerima hal-hal yang dipercayai oleh orang-orang Yahudi dan orang-orang Kristen pada permulaan lahirnya Islam  dan  agar soal penciptaan tersebut tidak bentrok dengan keyakinan yang sangat tersiar luas.

Dengan tidak menolak  cara  interpretasi  seperti  tersebut, apakah kita tidak dapat menyelidiki lebih dekat dan meneliti arti yang mungkin diberikan oleh  Qur-an  sendiri  dan  oleh bahasa-bahasa  pada waktu tersiarnya Qur-an, yaitu kata yaum (jamaknya ayyam).

Arti yang paling terpakai  daripada  “yaum”  adalah  “hari,” tetapi  kita  harus  bersikap lebih teliti. Yang dimaksudkan adalah  terangnya  waktu  siang  dan  bukan   waktu   antara terbenamnya  matahari  sampai  terbenamnya  lagi. Kata jamak “ayyam” dapat berarti beberapa hari akan tetapi  juga  dapat berarti  waktu  yang  tak  terbatas,  tetapi lama. Arti kata “ayyam” sebagai periode juga tersebut di tempat  lain  dalam Qur-an, surat 32 (Sajdah) ayat 5: “Dalam suatu hari yang panjangnya seribu tahun dari perhitungan kamu.”

Dalam ayat lain, surat 70 (Al-Ma’arij) ayat 4, kita dapatkan:”Dalam suatu hari yang panjangnya lima puluh ribu  tahun.”

Bahwa kata  “‘yaum”  dapat  berarti  “periode”  yang  sangat berbeda  dengan  “hari”  telah  menarik  perhatian ahli-ahli tafsir kuno yang  tentu  saja  tidak  mempunyai  pengetahuan tentang tahap-tahap terjadinya alam seperti yang kita miliki sekarang.

Maka  Abussu’ud,  ahli  tafsir  abad  XVI  M.  tidak   dapat menggambarkan  hari  yang  ditetapkan  oleh  astronomi dalam hubungannya dengan berputarnya  bumi  dan  mengatakan  bahwa untuk  penciptaan  alam  diperlukan  suatu  pembagian waktu, bukan dalam “hari” yang biasa kita fahami, akan tetapi dalam “peristiwa-peristiwa” atau dalam bahasa Arabnya “naubat.”

Ahli-ahli  Tafsir  modern  mempergunakan  lagi  interpretasi tersebut. Yusuf Ali (1934) dalam tafsirnya (bahasa Inggris), selalu    mengartikan   “hari”   dalam   ayat-ayat   tentang tahap-tahap penciptaan alam, sebagai periode  yang  panjang, atau “age.”

Kita dapat mengakui bahwa untuk tahap-tahap penciptaan alam, Qur-an menunjukkan jarak  waktu  yang  sangat  panjang  yang jumlahnya  enam.  Sains  modern  tidak  memungkinkan manusia untuk mengatakan bahwa proses kompleks yang berakhir  dengan terciptanya  alam dapat dihitung “enam.” Tetapi Sains modern menunjukkan secara formal  bahwa  persoalannya  adalah beberapa  periode  yang sangat panjang, sehingga arti “hari” sebagai yang kita fahami sangat tidak sesuai.

Suatu  paragraf  yang  sangat   panjang   dan   membicarakanpenciptaan     alam     merangkaikan     riwayat     tentang kejadian-kejadian  di  bumi  dengan   kejadian-kejadian   di langit;  yaitu  surat 41 (Fussilat) ayat 9 sampai 12 sebagai berikut:

Artinya: “Katakanlah Hai Muhammad, sesungguhnya patutkahkamu tidak percaya kepada zat yang menciptakan bumi dalam dua periode, dan kamu adakan sekutu-sekutu bagiNya. Ia adalah Tuhan semesta alam. Dan Ia menciptakan di bumi itu gunung-gunung yang kokoh di atasnya. Dia memberkahinya dan Dia menentukan padanya kadar makanan-makanan (penghuni)-nya dalam empat masa yang sama (cukup) sesuai bagi segala yang memerlukannya.

Kemudian  Dia  menuju  kepada  penciptaan  langit,  dan  dia (langit itu masih merupakan) asap lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi ‘Datanglah kamu keduanya menurut  perintahKu dengan   suka   hati   atau  terpaksa.’  Keduanya  menjawab: ‘Kamidatang-dengan suka hati.’ Maka Dia menjadikannya tujuh langit dalam dua masa  dan  Dia mewahyukan  pada  tiap-tiap langit urusannya. Dan Kami hiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang yang cemerlang  dan Kami   memeliharanya   dengan   sebaik-baiknya.  Demikianlah ketentuan yang Maha Perkasa lagi Maha Mengetahui.”

Empat ayat  dari  Surat  41  tersebut  menunjukkan  beberapa aspek; bentuk gas yakni bentuk pertama daripada bahan samawi serta pembatasan  secara  simbolis  bilangan  langit  sampai tujuh.  Kita  akan  melihat  nanti  apa arti angka tersebut. Percakapan antara Tuhan di satu pihak dan langit dan bumi di pihak   lain   adalah   simbolis;   maksudnya  adalah  untuk menunjukkan bahwa setelah  diciptakan  Tuhan,  langit-langit dan bumi menyerah kepada perintah-perintah Tuhan.

Ada  orang-orang  yang  mengatakan  bahwa  paragraf tersebut bertentangan dengan ayat yang  mengatakan  bahwa  penciptaan itu  melalui  enam  periode. Dengan menjumlahkan dua periode yang merupakan  penciptaan  bumi  dan  empat  periode  untuk pembagian  makanan  bagi  penduduknya  dan dua periode untuk penciptaan langit, kita akan  mendapatkan  delapan  periode, dan  hal  ini  merupakan  kontradiksi  dengan  enam  periode tersebut di atas.

Sesungguhnya teks  yang  dimaksudkan  untuk  mengajak  orang berfikir  tentang  kekuasaan Tuhan dengan memulai memikirkan bumi sehingga nanti dapat memikirkan langit,  teks  tersebut merupakan  dua  bagian yang dipisahkan dengan kata: “tsumma” yang berarti: di samping itu (selain daripada  itu).  Tetapi kata tersebut juga berarti: kemudian daripada itu. Maka kata tersebut dapat mengandung  arti  urut-urutan.  Yakni  urutan kejadian   atau   urutan  dalam  pemikiran  manusia  tentang kejadian yang dihadapi. Tetapi juga  mungkin  hanya  berarti menyebutkan    beberapa   kejadian-kejadian   tetapi   tidak memerlukan arti:  urut-urutan.  Bagaimanapun  juga,  periode penciptaan  langit  dapat terjadi bersama dengan dua periode penciptaan  bumi.  Sebentar  lagi  kita  akan   membicarakan bagaimana  Qur-an  menyebutkan  proses  elementer penciptaan alam dan bagaimana hal tersebut  dapat  terjadi  pada  waktu yang sama untuk langit dan bumi sesuai dengan konsep modern. Dengan   begitu   kita   akan   mengerti   benar   kebolehan menggambarkan simultanitas kejadian-kejadian yang disebutkan dalam fasal ini.

Jadi  tak  ada  pertentangan  antara  paragraf   yang   kita bicarakan  dengan  konsep yang terdapat dalam teks-teks yang lain yang ada dalam Qur-an, yakni teks yang mengatakan bahwa penciptaan alam itu terjadi dalam enam periode.

Ditulis ulang oleh :  lukman, ( Redaktur Pelaksana beritalangitan.com )  Dari buku karya Dr. Maurice Bucaille Bibel, Qur-An, Dan Sains Modern, Bulan Bintang, 1979

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.