Fahri Hamzah Kritik Kemenag Hapus Khilafah dan Perang dari Kurikulum

0
141
Fahri Hamzah

Jakarta beritalangitan.com – Keputusan Kementerian Agama (Kemenag) RI untuk menghapus materi khilafah dan perang dari kurikulum madrasah menuai berbagai reaksi dan kontroversi.

Keputusan tersebut sesuai ketentuan regulasi penilaian yang diatur pada SK Dirjen Pendidikan Islam Nomor 3751, Nomor 5162 dan Nomor 5161 Tahun 2018 tentang Juknis Penilaian Hasil Belajar pada MA, MTs, dan MI.

Mantan Wakil Ketua DPR, Fahri Hamzah, menilai keputusan tersebut tidak tepat. Negara harus memfasilitasi kebebasan untuk berdebat dan mendewasakan ruang publik. Ruang publik harus diisi oleh pikiran dan cinta.

Menurut dia, ruang publik tidak boleh diisi oleh doktrin dan kekuasaan karena bikin mual dan muak. Negara tidak boleh main belakang seperti kelakuan yang berkembang.

“Kalau betul negara ingin menghilangkan sejarah ‘khilafah’ dan ‘jihad’ dalam kurikulum nasional maka sebentar lagi kita akan bertengkar oleh penggunaan keluasaan lewat belakang terhadap kurikulum nasional. pemerintah ini bisa dituduh pembuat onar dan kekacauan,” kata dia melalui laman resminya(tweter),Senin (9/12).

Ia berharap Kemenag tidak memberlakukan kebijakan tersebut. Ia meminta Kemenag segera membuat klarifikasi. Kemenag sebaiknya mengembangkan narasi persatuan dan rekonsiliasi.

“Agama adalah pembawa pesan perdamaian dan cinta ilahi kepada manusia. Itulah yg harus tercermin dalam negara. Sehari-hari kita,” ucapnya.

Wacana itu juga mendapat tanggapan dari Wakil Sekretaris Jenderal MUI, Tengku Zulkarnain. Ia mengaku heran dengan kebijakan Kemenag tersebut.

“Materi Pelajaran tentang Khilafah dan Perang dihapuskan dari buku pelajaran, dinilai tidak damai. Nanti kalau NKRI diserbu musuh rakyat diam saja makan/minum, mengungsi. Serahkan sama penguasa saja. Jika perlu serahkan negara kepada musuh, asal damai. Gitu?,” tulis Tengku Zulkarnain, hari ini.

Ustaz berdarah Melayu Deli dan Riau itu menegaskan bahwa seluruh negara di dunia mengajarkan perang dan pertahanan pada generasi muda mereka. Beberapa negara bahkan menerapkan wajib militer kepada para generasi muda.

“Apa mereka gila? Tidak cinta damai? Jangan karena takut jumpa jin malah terpeluk hantu. Rasional saja lah. Yang penting tanamkan cinta NKRI,” ucap dia menegaskan.

Dia menuturkan, efek dari kebijakan tersebut membuat generasi muda kehilangan jati diri bangsa dan tidak akan mengenal perjuangan lara pahlawan. Seperti pejuang kemerdekaan dari kalangan ulama di antaranya Pangeran Diponegoro, Teuku Umar, Imam Bonjol, Sultan Hasanuddin, dan lain sebagainya.

“Jangan-jangan nanti generasi berikut malah menuduh para Pahlawan Nasional Tukang Rusuh yang Tidak Cinta Damai,” ucap dia.(Rian Sagita)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.