Geliat TV Muslim di Luar Negeri

0
415

JAKARTA, 9/1 (beritalangitan.com) —  Bilal Hassam (29 tahun) masih terlihat malas di kasurnya. Dia merasa begitu segar saat bangun pagi. Namun, begitu dia melihat kalender, dia sontak kaget karena hari itu adalah hari pertama bulan Ramadhan. Bilal melewatkan makan sahur.

Sambil menatap langsung ke kamera, dia berujar, ‘‘Ini seperti jam setengah delapan pagi, dan saya benar-benar merasa beristirahat dengan baik. Tapi saya lapar,” kata dia.

Potongan adegan tersebut berasal dari program televisi berjudul “Being Bilal”. Program reality show yang sudah ditayangkan sejak pertengahan 2015 ini memotret perjalanan keseharian dan pengalaman Bilal, mantan dokter dan aktivis lingkungan asal Leicester, Inggris.

Dari shalat di Tepi Barat, singgah di Yerusalem, perjalanan ke berbagai wilayah di Inggris, berdialog dengan berbagai tokoh agama dan masyarakat di Yunani tentang berbagai isu politik dan sosial, hingga membahas isi dari berbagai media asal Inggris.

Bilal merupakan penggambaran seorang Muslim Inggris secara umum. ”Bilal adalah pekerja biasa dan seperti orang Inggris pada umumnya. Dia ramah, santai, dan memiliki rasa humor yang tajam. Akses ke kehidupan Muslim seperti ini belum pernah terjadi sebelumnya. Dengan gambaran ini, setidaknya dapat menantang gambaran hitam dan putih yang ada di media mainstream soal kehidupan Muslim,” kata Produser “Being Bilal”, Tariq Chow, seperti dikutip Al Arabiya.

Hingga Februari tahun lalu, “Being Bilal” telah diproduksi sebanyak 50 episode. Angka ini pun diperkirakan terus bertambah seiring dengan sambutan positif dari para penonton, terutama dari media sosial.

Menurut Tariq, setidaknya ada sekitar 10 ribu penonton setia “Being Bilal”. Program ini pun menjadi salah satu program paling populer dari British Muslim TV.

Program reality show tersebut memang merupakan salah satu program unggulan dari stasiun televisi asal Inggris, British Muslim TV. Stasiun televisi yang mengudara selama 24 jam penuh dan dapat ditonton secara gratis via saluran satelit tersebut merupakan salah satu stasiun televisi yang didirikan khusus untuk umat Islam, terutama di Inggris.

Diluncurkan pada pertengahan 2014, British Muslim TV (BMTV) menjadi salah satu pilihan di antara beragam stasiun televisi berbasis agama Islam. Di Inggris, stasiun televisi atau radio berbasis agama ataupun etnis tertentu memang bukan barang baru.

Skema permodalan BMTV pun mengandalkan donasi dan iklan. Dengan mengusung slogan, “Percaya diri sebagai Muslim, dan Nyaman sebagai orang Inggris”, BMTV menjadi salah satu stasiun TV Muslim yang populer di Inggris.

Popularitas ini tidak terlepas dari kampanye yang dilakukan pihak BMTV lewat media sosial, seperti Facebook dan Twitter. Selain itu, BMTV juga menjadi pilihan banyak Muslim Inggris lantaran menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar utama.

Hal ini berbeda dengan stasiun televisi Muslim sejenis, seperti Noor TV dan Iqra TV, yang dinilai lebih fokus ke penonton di kawasan Asia Selatan lantaran sebagian besar siarannya menggunakan bahasa Urdu dan Bangladesh.

Secara keseluruhan, stasiun televisi Islam ditonton sekitar 60 persen dari 1,6 juta Muslim di Inggris. Menurut Direktur Marketing dan Komunikasi BMTV, Wasim Akhtar, kemunculan BMTV memang diharapkan bisa menjadi alternatif tontonan dari stasiun televisi Islam lain, atau bahkan media-media televisi arus utama.

BMTV, kata Wasim, menampilkan Islam yang inklusif dan menerima berbagai pandangan serta berbagai tipe Muslim. ”Jadi, kami tidak hanya mengangkat isu-isu tentang kepercayaan, tapi juga tentang praktik-praktik atau kehidupan sehari-hari yang dihadapi Muslim di Inggris,” tutur Wasim di Al Arabiya.

Tidak hanya itu, BMTV juga memiliki target sesama kepada generasi muda Muslim. Lebih luas, BMTV bahkan diharapkan tidak hanya melayani kebutuhan informasi masyarakat Muslim, tapi juga masyarakat non-Muslim di Inggris.

”Kami bertekad untuk menampilkan isi yang relatif dengan generasi muda saat ini. Jadi, kami memastikan, program yang kami buat tidak semata-mata untuk presenter ataupun isi yang hanya menyiarkan isi dari luar negeri saja,” ujarnya. REPUBLIKA.CO.ID

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.