Kedaulatan Pangan, Kemandirian Energi dan Kearifan Nabi Yusuf (3)

0
177


Oleh: Suprio Guntoro

Menurut Dr. Ruslan Abdulgani, ketahanan suatu bangsa, paling tidak ditentukan oleh 4 faktor, yakni kekuatan ekonomi, ketahanan budaya, kekuatan militer dan katahanan pangan. Bahkan Dr. Ronald P. Cantrell mengatakan kunci stabilitas dan masa depan indonesia terletak pada kemampuannya untuk menjamin ketanan pangan dan keberhasilan pembangunan mayarakarat pedesaan.

Untuk negeri kecil seperti Singapura atau Taiwan, jika harus bergantung dengan produksi pangan negara lain mungkin tidak masalah, tetapi untuk negara besar seperti Indonesia dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta dan kondisi geografis yang berpulau-pulau, ketersediaan pangan tidak boleh terlalu tergantung pada negara lain. Persoalan pangan bukan sekedar keterediaan poduksi, tapi juga menangkut distribusi, pelayanan, pengaturan harga dan lan-lain.

Persoalan pangan untuk negara besar bukanlah persoalan sederhana, Siswono Yudo Husodo, mantan Ketua HKTI ( Himpunan Kerukunan Tani Indonesia) pernah menyebut ,”politik pangan” kita salah arah. Pada awal tahun 2011, pemerintah mengeluarkan Peraturan Menteri Perdagangan no 13/ 2011 yang di dalamnya memberi peluang besar bagi usaha impot bahan pangan dengan bea masuk (BM) menjadi 0 persen. Peraturan ini menyebabkan makin melubernya bahan pangan import. Disisi lain dengan tiadanya kenaikan harga pangan, menyebabkan gairah petani kita untuk meningkatkan produkisi semakin merosot.

Kebijakan ini makin terasa aneh, dengan dinaikkanya bea eksport untuk produk-produk dalam negeri seperti CPO ( minyak sawit, kopi dan kakao). Dengan kebijakan ini meyebabkan eskportir menekan harga beli ke petani, sebagai kompensasi untuk memperoleh keuntungan. Akibtnya, tetap para petani yang menjadi korbannya.

Mencermsti kebijakan tersebut wajar jika Siswono Yudo curiga, kebijakan pangan kita diatur oleh ” kepentingan luar” atau lobi- lobi bisnis untuk mengeruk keuntungan dengan mengorbankan kepentingn bangsa (kompas, 5 pbruari 2011).

Sementara dibidang energi kemandirian kita semakin lemah. Di tahun 80an, minyak merupakan komoditas eksport andalan Indonesia, kemudian di akhir tahun 90-an eksport minyak kita semakin menurun dan sejak tahun 2003, Indonesia statusnya telah berubah sebagai importir miyak.

Sejalan dengan peningkatan kebutuhan BBM, maka pada tahun 2018 konsumsi BBM mecapai 1,6 juta barel per hari, sedangkan produksi dalam negeri hanya 700.000-800.000 barel per hari, sehingga harus import rata -rata sekitar 850.000 barel per hari. Dipihak lain import BBM kian membengkak, mungkin pada tahun 2025 nanti kita juga akan import gas alam. Tentu kenyataan ini perlu kita sikapi secara serius. Karena jika tidak, devisa kita akan terkuras dan ekonomi kita bisa lumpuh untuk memenuh kebutuhan energi dan pangan. Pada hal sebenarnya indonesia sangat kaya sumber energi alam terbarukan seperti energi surya, energi angin, energi air serta berbagai jenis-jenis bio energi. (BERSAMBUNG)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.