Kedaulatan Pangan, Kemandirian Energi dan Kearifan Nabi Yusuf (4)

0
88

Oleh : Suprio Guntoro

BERCERMIN PADA NABI YUSUF
Terkait dengan persoalan pangan dan energi di tanah air, tidak ada salahnya jika kita menyimak kisah Nabi Yusuf. Beliau adalah seorang Nabi yang hidup sekitar tahun 1.745 – 1.635 SM atau sekitar 3.700 tahun yang lalu. Ia putra Nabi Yaqub, cucu Nabi Ishaq yang berarti cicit dari Nabi Ibrahim. Dimasa kecil ia terpisah dari keluarganya karena dibuang oleh saudara – saudara tirinya, lalu dipungut oleh rombongan khafilah, kemudian dibawa ke Mesir.

Yusuf akhirnya menjadi anak angkat seorang cendekiawan yang juga Menteri Keuangan (Bendahara Negara) Mesir. Sangat boleh jadi, saat itulah Yusuf banyak belajar tentang ekonomi, menajemen dan kepemimpinan dari ayah angkatnya. Disaat remaja Yusuf menghadapi cobaan berat. Istri sang pejabat (al Aziz) tersebut, yakni Zulaikha tergil-gila pada ketampanan Yusuf. Zulaikha yang berwajah jelita itu terus menerus merayu Yusuf. Yusuf adalah pemuda jujur yang bermental baja. Rayuan istri Menteri itu tidak mampu meruntuhkan imannya (QS. Yusuf ayat 24).

Skandal Zulaikha ini mencuat dan menjadi perbincangan di seantero negeri. Namun rakyat Mesir paham, Yusuf tidak bersalah. Kasus “Skandal Zulaikha” justru membuahkan penilaian positif rakyat Mesir terhadap Yusuf.

Raja Mesir yang tahu tentang latar belakang hidup Yusuf, berkeyakinan bahwa Yusuf orang yang amat jujur, mampu mengendalikan diri serta dapat dipercaya untuk mengemban amanah. Maka, ketika kehidupan Yusuf dapat akses ke istana, kariernya langsung melejit. Terutama setelah Yusuf berhasil menta’wilkan mimpi sang raja, berupa prediksi akan datangnya kemarau panjang selama7 tahun (el nino) bagi bangsa Mesir, setelah mengalami “musim basah” selama 7 tahun (la nina) (QS. Yusuf ayat 47 – 48).

Menghadapi persoalan yang pelik, pilihan terbaik bagi raja adalah mengangkat Yusuf sebagai Perdana Menteri merangkap Bendahara Negara. Karena ia yakin akan kemampuan (kecakapan) dan komitmen Yusuf terhadap kepentingan rakyatnya..

MEMBANGUN KESADARAN KOLEKTIF
Sejarah masa lalu Mesir menunjukkan, disaat negeri itu mengalami kemarau panjang dan dahsyat sehingga mengalami paceklik dan kekurangan pangan, ketahanan negara menjadi rapuh sehingga mudah ditaklukkan oleh negara lain, diantaranya oleh kerajaan Yunani, sehingga banyak rakyat Mesir yg dijadikan budak oleh bangsa lain.

Maka begitu diangkat sebagai Perdana Menteri, Yusuf berfikir bagaimana agar bangsanya tetap berdaulat dalam pemenuhan bahan pangan. Mesir tidak boleh bergantung pada bahan pangan dari bangsa lain di saat paceklik. Bersama pembantu – pembantunya yang ia pilih, yang profesional, jujur dan amanah, ia membuat program untuk menghadapi paceklik panjang dengan memanfaatkan sumber daya negerinya secara maksimal selama kurun waktu “musim basah”.

Apa yang menjadi mimpi raja, prediksi Yusuf tentang mimpi raja yakni akan datangnya kemarau dan paceklik panjang (selama 7 tahun) setelah musim basah selama 7 tahun serta langkah- langkah yang harus dilakukan rakyat dalam mengadapi musim kemarau dan paceklik selama 7 tahun di sosialisasikan kepada seluruh lapisan rakyat Mesir.

Terkait dengan hal ini, al-Qur’an dalam Surat Yusuf ayat 56 menyatakan bahwa diberikan eleluasaan bagi Yusuf untuk berkujung kemnapun dan tinggal dimanapun, ke seluruh pelosok negari Mesir. Untuk apa? Tentu bukan untuk berwisata atau bersenang-senang. Dengan adanya ancaman paceklik panjang, kesempatan itu tentu dimanfaatkan Yusuf untuk mensosialisasikan program-programnya. Menurut kalangan ahli kitab, jabatan dan kewenangan yang tinggi yang diberikan oleh Raja kepada Yusuf justru makin mendekatkan Yusuf dengan rakyat Mesir.

Tahun 2015, TVRI sempat menayangkan film serial tentang Nabi Yusuf. Setiap Yusuf mendatangi suatu daerah, senantiasa disambut antusiasme dan penuh kerinduan oleh rakyatnya. Sungguh mengharukan. Di tengah-tengah rakyatnya, Yusuf secara langsung menyampaikan akan terjadinya masa kering dan paceklik yang panjang, dan langkah-langkah yang harus dilakukan oleh rakyat Mesir. Ini menggambarkan bagaimana upaya Yusuf dalam membangun ” kesadaran kolektif” bangsanya dalam menghadapi masalah besar.

Yusuf adalah pemimpin yg cerdas. Dengan terbangunnya “kesadaran kolektif ” maka partisipasi segenap lapisan masyarakat Mesir akan dapat dimaksimalkan… (BERSAMBUNG)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.