Ketika Kabah Masjidil Haram Penuh dengan Berhala Pujaan

0
71

Sejak era Amr bin Luhaiy, Ka’bah menjadi kotor karena dikelilingi banyak berhala-berhala. Benda-benda yang sesungguhnya tidak mendapatkan manfaat ataupun mudharat kepada manusia itu dianggap sebagai perantara bila seseorang berdoa kepada Allah SWT.  

Orang pertama yang mengenalkan paganisme kepada bangsa Arab adalah Amr bin Luhaiy bin Qam’ah. Leluhur Suku Khuza’ah itu juga mengajak masyarakat setempat untuk menyembah benda-benda mati.

Said Ramadhan al-Buthy dalam Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma’a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah (2009; terjemahan Noura Books 2015), menukilkan hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan Muhammad bin Ibrahim bin al-Haris at- Taimi dari Abu Shalih as-Saman.

عن أَبي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه قال:  سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول لأكثم بن الجون الخزاعي : يا أكثم ، رأيت عمرو بن لحي بن قمعة بن خندف يجر قصبه في النار ، فما رأيت رجلا أشبه برجل منك به ، ولا بك منه : فقال أكثم : عسى أن يضرني شبهه يا رسول الله ؟ قال : لا ، إنك مؤمن وهو كافر ، إنه كان أول من غير دين إسماعيل ، فنصب الأوثان ، وبحر البحيرة ، وسيب السائبة ، ووصل الوصيلة ، وحمى الحامي .

Aku (Abu Hurairah) mendengar Rasulullah SAW berkata kepada Aksam bin Jun al-Khuza’i, ‘Wahai Aksam, aku melihat Amr bin Luhaiy bin Qam’ah bin Khandaf menyeret-nyeret ususnya di neraka. Aku tidak pernah melihat orang yang lebih mirip dengannya daripada engkau, dan tidak pernah melihat orang yang lebih mirip denganmu daripada dia.’

Aksam bertanya, ‘Apakah kemiripanku dengannya berbahaya bagiku, wahai Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Tidak. Engkau adalah mukmin, sedangkan dia orang kafir. Dahulu dia adalah orang pertama yang mengubah agama Ismail, lalu memasang berhala, memotong telinga binatang untuk dipersembahkan kepada berhala, menyembelih binatang untuk berhala, mempersembahkan unta kepada berhala, dan meyakini unta tertentu tidak boleh dinaiki.’

Al-Buthy juga mengutip keterangan dari sejarawan Abu Muhammad Abdul Malik bin Hisyam (wafat 833). Ibnu Hisyam meriwayatkan bagaimana Amr bin Luhaiy mengenalkan syirik kepada bangsa Arab. Suatu ketika, Amr pergi dari Makkah menuju Syam (Suriah) untuk memenuhi beberapa urusannya. Dia sampai di daerah al-Balqa’, tepatnya Ma’ab, yang waktu itu dihuni penduduk Amalek. Bila ditelusuri silsilahnya, mereka adalah keturunan Amlaq bin Lawidz bin Sam bin Nuh. Ternyata, Amr mendapati beberapa orang di sana sedang menyembang patung.

“Apa patung-patung yang kalian sembah itu?” tanya Amr kepada mereka. “Patung-patung itu kami sembah untuk meminta hujan, sehingga kami diberi hujan. Kami meminta kemenangan, sehingga kami diberi kemenangan,” jawab beberapa dari mereka.

Tidak disangka-sangka, Amr justru tertarik terhadap penjelasan yang irasional itu. “Maukah kalian memberikan kepadaku satu di antara patung-patung itu, yang bisa ku bawa ke negeri Arab untuk disembah?” tanyanya.

Orang-orang itu pun memberinya sebuah patung yang bernama Hubal. Ringkas cerita, sesampainya di Makkah, Hubal diletakkannya di dekat Ka’bah. Masyarakat luas berduyun-duyun datang. Amr lantas mengimbau mereka agar benda mati itu disembah dan diagung-agungkan sebagai cara memperoleh segala harapan. Ajakan ini ternyata disambut sejumlah petinggi kota itu, sehingga lambat laun tersebarlah paganisme di tengah bangsa Arab.

Menurut al-Buthy, faktor utama yang membuat penduduk Makkah generasi demikian meninggalkan akidah tauhid adalah kebodohan, ketunaaksaraan, dan keengganan mereka untuk berpikir logis. Mereka mengganti agama Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail dengan kemusyrikan, yang bersumber dari kepercayaan suku-suku yang hidup di sekitar Jazirah Arab.

Tampak adanya kontradiksi yang diidap kaum musyrikin Makkah. Di satu sisi, mereka menepuk dada sebagai keturunan Nabi Ibrahim AS. Di sisi lain, mereka mencampakkan tauhid sebagai esensi millah Ibrahim.

Abdul Aziz dalam Chiefdom Madinah: Kerucut Kekuasaan pada Zaman Awal Islam (2016) menyebutkan, setiap kabilah Arab di Makkah memiliki berhala keunggulan masing-masing, tetapi terbiasa pula menyembah berhala dari kabilah lain.

Bagaimanapun, Hubal menjadi berhala yang paling dimuliakan bagi seluruh kaum Quraisy dan bahkan semua kabilah Arab. Di depan patung tersebut, orang-orang musyrik dari pelbagai kalangan, mulai dari rakyat jelata hingga elite politik, membungkuk-bungkuk dan memelas sembari memohon keberkahan dan perlindungan dari rupa-rupa malapetaka.

Mereka kerap melantunkan doa-doa berikut. Labbaikallahu ma labbaik, sesungguhnya kami hanyalah debu, Engkau haramkan kami menggunakan anak panah (untuk berperang), Tapi manusia menghalangi kami mencapai kemenangan.

Berhala orang-orang Arab pada zaman pra-kenabian Muhammad SAW umumnya terbuat dari bahan-bahan seperti kayu, tembaga, besi, batu, atau bahkan perak dan emas. Bentuknya dikondisikan menyerupai manusia atau hewan.

Hubal, misalnya, berbentuk sesosok manusia yang patah tangan kanannya. Namun, belakangan kaum musyrikin Quraisy memperbaiki tangan sesembahannya itu sehingga kini terbuat dari emas. Mayoritas Hubal dipahat dari bahan batu akik merah. Perancangnya diduga merupakan seorang seniman Yunani atau Suriah.

Hubal adalah satu dari sekitar 360 berhala yang berjejalan di sekitar Ka’bah pada masa Jahiliyah. Kelak, sesudah pembebasan Kota Makkah (Fathu Makkah), Nabi Muhammad SAW menghancurkan seluruh berhala.

Selain Hubal, ada lagi beberapa berhala yang termasyhur di Makkah. Di antaranya ada lah al-Lata, al-Uzza, dan Manah. Eksistensi mereka disinggung dalam Alquran, surah an-Najm ayat 19-20.

Orang-orang musyrik menganggap benda-benda mati itu sebagai anak perempuan Allah. Bentuk kedurhakaan ini jelas-jelas bertolak belakang dengan tauhid, yang menegaskan bahwa Allah tidak beranak dan tidak pula diperanakkan.

Tambahan pula, diyakininya bahwa Tuhan punya anak perempuan. Padahal, mereka sendiri malu bila ketahuan istri-istrinya melahirkan anak perempuan. Sebagaimana diketahui, tidak sedikit orang kafir Quraisy yang menguburkan anak perempuan nya hidup-hidup pada zaman Jahiliyah. Patung al-Lata dibuat dari batu putih persegi yang diletakkan di dalam rumahrumahan serupa Ka’bah.

Berhala itu disembah banyak kabilah, termasuk Quraisy dan Tsaqif di Thaif. Lokasi tempat al-Lata berada dianggap sebagai tanah haram. Masyarakat Thaif yang musyrik kerap melakukan thawaf mengelilingi patung tersebut. Al-Uzza disembah terutama oleh orang-orang pagan dari Bani Ghafatan di Wadi Nakhlah, sebelah timur Makkah.

Namun, masyarakat Quraisy dan Tsaqif juga menghormatinya. Berhala itu terbuat dari kayu pohon samurah milik Bani Ghafatan. Sama seperti penduduk di Thaif, mereka juga membuat rumah-rumahan mirip Ka’bah sebagai tempat persemayaman al- Uzza. Lokasinya disebut Ka’batu Ghafatan, ‘Ka’bahnya masyarakat Ghafatan.’

Manah disembah kabilah al-Aus dan al- Khazraj yang bermukim di Yasrib (kelak Madinah). Bagaimanapun, tempat pemujaan nya berlokasi bukan di kota tersebut, melainkan pesisir Qadid, titik rute antara Makkah-Yasrib. Kabilah Ghatarif dari Bani Azad bertindak sebagai pelayan para peziarah yang hendak menyembah Manah di sana. Berhala tersebut dibuat dari batu. Bentuknya serupa sesosok perempuan.

Penghambaan terhadap Hubal, al-Lata, al-Uzza, Manah, ataupun ratusan berhala lainnya hanya menghinakan bangsa Arab. Mereka yang sejak semula telah diwariskan ajaran yang hanif tauhid malahan menerima penetrasi pengaruh negatif dari bangsa-bangsa luar.

Banyak yang menyadari akan hal itu, sehingga enggan mengikuti jalan kemusyrikan. Orang-orang yang demikian berpegang teguh pada akidah tauhid dan mengikuti tata cara hidup al-hanafiyah. Ciri-cirinya antara lain, mereka meyakini adanya hari kebangkitan dan hari penghimpunan (yaumul mahsyar).

Mereka menolak klaim musyrikin yang menyebut, manusia yang mati tidak akan dibangkitkan dan ditanya perbuatan-perbuatannya di akhirat. Mereka bukan hanya meyakini kehidupan setelah mati, tetapi juga berharap bahwa Allah SWT akan memberikan perlindungan.  

Sebab, Dia Yang Mahaesa akan memberikan balasan yang setimpal bagi setiap orang sesuai amal perbuatannya. Syekh al- Buthy menyebut beberapa nama pengikut setia millata Ibrahim pada masa sebelum kenabian Rasulullah SAW. Di antaranya adalah Qass bin Sa’idah al-Iyyadi, Ri’ab asy-Syinni, dan Buhaira sang rahib yang ditemui Muhammad SAW, kala usianya masih 12 tahun dan sedang menemani paman nya, Abu Thalib, berdagang di Suriah. 

Sumber : Republika.co.id

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.